RITUAL SHOLAT HAJAT, BACA SURAH YAASIN DAN SHOLAWAT NARIYAH ADAKAH TUNTUNANNYA DARI RASULULLAH SAW ?

· Fiqh Sunnah
Penulis

MUQADDIMAH

Sholat sunnah merupakah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT setelah melaksanakan sholat fardhu, kedudukannya adalah untuk menambah kebajikan dan meninggikan derajat seorang hamba di hadapan Allah SWT. Juga sebagai penutup segala kekurangan dalam pelaksanaan shalat fardhu. Dalam hadits disebutkan oleh Rasulullah SAW: ‘Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali di hisab (diperhitungkan) pada Hari Kiamat nanti adalah shalatnya, apabila shalatnya baik maka sungguh dia telah beruntung dan selamat, dan jika shalatnya rusak maka dia akan kecewa dan merugi. Apabila shalat fardhunya kurang sempurna, maka Allah berfirman, ‘Apakah hambaKu ini mempunyai shalat sunnah?, maka tutuplah kekurangan shalat fardhu itu dengan shalat sunnahnya.’ Kemudian begitu pula dengan amalan-amalan lainnya yang kurang’.” ( HR. Abu Daud ).

Di dalam syari’at Islam dikenal berbagai macam sholat sunnah yang masing-masing mempunyai keutamaan yang besar berdasarkan hadits-hadits shohih, namun ada juga sholat sunnah yang tidak berdasarkan hadits-hadits shohih tapi diamalkan oleh masyarakat muslim dan dianggap sebuah amal ibadah karena ketidak tahuan atau juga karena ikut-ikutan. Padahal dalam syari’at Islam ibadah itu dikerjakan berdasar dalil yang shohih bukan sekedar ikut-ikutan (taqlid). Dan salah satu bentuk sholat sunnah yang dikerjakan oleh mayoritas ummat Islam tanpa landasan dalil yang kuat adalah sholat sunnah hajat.

Sholat sunnah Hajat merupakan salah satu jenis sholat sunnah yang populer dilaksanakan sebagian kaum muslimin, bahkan dilaksanakan secara sendiri-sendiri atau berjama’ah. Biasanya sholat sunnah ini dilaksanakan karena ada sebab. Yaitu meminta hajat tertentu kepada Allah SWT, baik perkara akhirat atau perkara dunia (termasuk masalah politik dan mencari jabatan). Tidak aneh kalau setiap menjelang pemilu / pilkada sholat sunnah hajat digelar oleh masing-masing calon agar sukses dan menang.

Berdasarkan penelitian ulama hadits (muhaditsin), bahwa kedudukan hadits tentang sholat sunnah hajat itu adalah dhoif (lemah), dan menurut mayoritas ulama hadits bahwa hadits dhoif (lemah) tidak bisa diambil sebagai hujjah. Dengan demikian sholat sunnah hajat bukan termasuk sunnah Rasulullah SAW, karena itu tidak bisa diamalkan atau dikerjakan. Seandainya sholat sunnah hajat itu baik dikerjakan, niscaya para sahabat dan ulama salaf lebih dahulu mengamalkan dan mempraktekkan. Padahal yang mesti dipopulerkan adalah sholat tahajud dan witir karena kedudukannya sangat penting dalam Islam setelah sholat fardhu dan didukung dalil yang kuat ketimbang sholat sunnah hajat.

Berikut ada dua hadits dhoif (lemah) yang dijadikan rujukan dan landasan untuk melegalkan pelaksanaan sholat sunnah karena hajat bukan sholat sunnah dengan niat khusus sholat hajat ;

Pertama ; Hadits riwayat At-Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Abi Aufa, Rasulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa mempunyai hajat kepada Allah, atau kepada salah seorang dari bani Adam maka hendaklah ia berwudhu serta membaguskan wudhunya kemudian sholat dua raka’at. Setelah selesai sholat hendaklah ia menyanjung Allah dan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW kemudian berdo’a: ”Laa Ilaaha Illallahul Haliimul Karim, Subhaanallahi Rabbil Arsyil Azhim, Alhamdulillahi Rabbil A’lamin, As-Aluka Muujibati Rahmaatika, Wa-Azaaima Maghfiratika, Wal Ghanimata Min Kulli Birrin, Wassalaamata Min Kulli Itsmin, Laa Tada’li Dzanban Illa Ghafartahu, Walaa Hamman Illa Farrajtahu, Walaa Haajatan Hiya Ridhan Illa Qadhaitaha, Yaa Arhamar-Raahimin”

Keterangan :

Sanad hadits ini sangat lemah ( dhoif jiddan ) bahkan mendekati maudhu (palsu) karena disanadnya ada seorang rawi bernama ”Faaid bin Abdur-rahman Abu al-Waruqa”. Imam At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata :”Hadits ini asing (gharib), disanadnya ada pembicaraan karena Faaid bin Abdurrahmaan telah dilemahkan di dalam haditsnya.

Berikut ini keterangan para Muhaditsin (Ahli Hadits) tentang Faaid bin Abdurrahman ;

1. Kata Abdullah bin Ahmad dari bapaknya (Imam Ahmad), ”Matrukul Hadits (Orang yang ditinggal haditsnya).

2. Kata Imam Ibnu Ma’in, ” Dhoif, bukan orang yang tsiqat (kepercayaan).

3. Kata Imam Abu Daud, ”Bukan apa-apa” (istilah untuk rowi lemah).

4. Kata Imam An-Nasai, ”Bukan orang yang tsiqat, matrukul hadits”.

5. Kata Imam Abu Hatim, ”Hadits-hadits dari Ibnu Abi Aufa bathil-bathil (sedang hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa).

6. Kata Imam Hakim, ”Ia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa hadits-hadits maudhu (palsu)”.

7. Kata Imam Ibnu Hibban, ”Tidak boleh berhujah dengan riwayatnya”.

8. Kata Imam Bukhori, ”Munkarul hadits (Orang yang diingkari haditsnya). Imam Bukhori pernah mengatakan :”Setiap rawi yang telah aku katakan padanya munkarul hadits, maka tidak boleh diterima riwayatnya”. (Lihat, Mizanul I’tidal jilid 1 hal 6, atau al-Mustadrak Hakim jilid 1 hal 320, Sunan At-Tirmidzi 1/477, Sunan Ibnu Majah No.1384).

Kedua, Riwayat Ahmad dari Abu Darda’ RA, Rasulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudia sholat dua raka’at maka ia diberi Allah apa saja yang diminta, baik cepat ataupun lambat”.

Keterangan :

Sanad hadits ini dhoif (lemah), karena di dalam sanadnya ada seorang lelaki yang majhul (tidak diketahui). Jalur hadits ini dari Maimun Abi Muhammad al-Mara’I at-Tamimi. (Untuk lebih jelas lihat kitab Tamaamul Minnah oleh Syaikh Al-Albani hal 260).

Kalaupun seandainya hadits di atas ini shohih atau hasan, hadits ini tidak juga menyebutkan tentang jenis sholat hajat, tetapi sholat sunnah secara umum, tidak diyakini seperti kebanyakan ummat Islam, yaitu dengan lafazh niat sholat sunnah hajat.

Penyimpangan Seputar Pelaksanaan Ritual Sholat Hajat

Ada beberapa penyimpangan seputar pelaksanaan ritual sholat hajat yang sering dilakukan sebagian kaum muslimin, baik sebelum dilaksanakan sholat hajat maupun sesudah sholat hajat tersebut ;

A. Sebelum Pelaksanaan Ritual Sholat Hajat.

Sebelum melaksanakan sholat sunah hajat, biasanya terlebih dahulu membaca iqomah, yang berisi kalimat-kalimat istighosah (memohon) pertolongan kepada Allah SWT dengan perantaraan Rijaalul Ghoib (Laki-laki yang ghoib), Ruh-Ruh Suci, atau memanggil nama-nama yang ”dianggap” wali Allah seperti Ghauts, Umana, Nujaba, Atqiya, Autad, Quthub (padahal ini keyakinan dari agama Syi’ah), hingga bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW yang telah meninggal dunia.

Tawassul kepada makhluk yang telah meninggal dunia merupakan penyimpangan aqidah. Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah menganggap perbuatan tersebut syirik kepada Allah SWT. (Untuk lebih jelas pembahasan tentang Istighosah dan Tawassul silahkan merujuk kitab ”Kitabut-Tauhid oleh Syaikh Sholeh al-Fauzan, Kitab Al-Madkhal Lid-Diraasati A’qidatil Islamiyah a’la Madzahibi Ahlis-Sunnah Wal Jama’ah oleh Syaikh Ibrahim Muhammad Al-Buraikan).

Adapun hukum istighotsah dengan makhluk yang makhluk itu sendiri tidak mampu melakukannya kecuali Allah SWT, sebagaimana istighotsah kepada Nabi dan Rasul dan orang-orang sholeh yang sudah meninggal dunia. Seperti menghilangkan kesusahan dan menolak bala, menyembuhkan penyakit, dan lain-lain. Istighotsah seperti ini tidak dibenarkan dalam syari’at, dan ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah sepakat menyatakan bahwa perbuatan tersebut termasuk syirik kepada Allah SWT.

Pada masa Rasul Muhammad SAW masih hidup, pernah ada seorang munafik yang menyakiti kaum muslimin, maka sebagian sahabat mengatakan : ”Bangkitlah bersama kami untuk beristighotsah kepada Rasulullah SAW dari gangguan orang munafik ini !”. Rasulullah SAW mendengar dan bersabda : ”Sesungguhnya istighotsah itu tidak boleh dimintakan kepadaku, tetapi istighotsah itu kepada Allah SWT”. (HR. Ath-Thobrani).

B. Setelah Pelaksanaan Sholat Hajat.

Sholat sunnah hajat dilakukan dua raka’at dan dikerjakan secara berjama’ah atau sendiri-sendiri ; Raka’at pertama setelah membaca al-fatihah, membaca surah al-Kafirun 10 kali. Raka’at kedua setelah membaca al-Fatihan, membaca surah al-Ikhlas 10 kali.

Setelah salam ada beberapa amaliah yang di baca; membaca surah yaasin, membaca sholawat munjiyat dan nariyah 10 kali, kemudian dilanjutkan dengan do’a secara berjama’ah. Kesemua prosesi amaliyah yang dilaksanakan ini tidak bersumber dari sunnah Rasulullah SAW. Artinya, tidak ada satu pun dalil yang menjelaskan hal tersebut, namun semata-mata bersumber dari buatan manusia. Padahal Rasulullah SAW telah memperingatkan dalam sebuah hadits : “Barang siapa yang mengada adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka tidak akan diterima”.

Kedudukan Hadits Tentang Surah Yaasin
Dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih bahkan ada yang mendekati waudhu (palsu), artinya tidak ada syari’atnya mengkhususkan hanya membaca surah yasiin. (Pembahasan tentang hadits-hadits Keutamaan Surah Yaasin di Risalah berikutnya dgn judul ”Mengkhususkan membaca Surah Yaasin adakah Sunnahnya dari Rasulullah SAW” ).
Hadits dho’if adalah setiap hadits yang mardud (tertolak) yang tidak memenuhi syarat hadits shahih atau hadits hasan. Boleh jadi hadits tersebut terputus sanadnya, terdapat perowi yang tidak ‘adl (tidak sholih), sering berdusta, dituduh dusta, sering keliru, atau hadits tersebut memiliki ‘illah (cacat yang tersembunyi) atau riwayatnya menyelisihi riwayat perowi yang lebih tsiqoh (lebih terpercaya) darinya. Tersebarnya hadits dho’if atau yang lebih parah lagi hadits palsu menyebabkan berbagai amalan tanpa tuntunan tersebar di tengah-tengah ummat Islam, sebagaimana ritual sholat hajat.

Perusakan Islam dengan cara seperti ini sebenarnya lebih parah dari penyerangan tentara Yahudi terhadap umat Islam. Karena yang merusak dengan menyebarkan hadits dho’if dan palsu adalah umat Islam sendiri, amat jarang dari luar Islam. Kita lihat sendiri semacam amalan puasa Nishfu Sya’ban atau shalat pada malam Nishfu Sya’ban terjadi karena motivasi dari hadits dho’if. Begitu pula beberapa dzikir tanpa tuntunan seringkali jadi amalan juga karena motivasi dari hadits-hadits dho’if atau bahkan palsu yang sengaja dibuat-buat oleh orang-orang yang bermaksud baik namun lewat jalan yang keliru.
Dalam Al Mawdhu’at, Ibnul Jauzi menukilkan perkataan Abul Fadhl Al Hamadani, di mana ia berkata, “Orang yang berbuat bid’ah dalam Islam dan yang sengaja membuat hadits maudhu’ (yang palsu yang diriwayatkan oleh perowi pendusta), sebenarnya mereka lebih merusak daripada orang mulhid (musuh Islam). Karena orang mulhid bermaksud merusak Islam dari luar.”[ Al Mawdhu’at, Ibnul Jauzi, 1/51, Mawqi’ Ya’sub.]
Siapa saja yang membicarakan suatu lantas ia katakan dari Rasulullah SAW padahal itu dusta, maka ia termasuk salah satu di antara dua pendusta dan ia terancam dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 3).
Hadits dho’if (lemah) tidak digunakan dalam fadho’il a’mal (menjelaskan keutamaan amal) dan juga tidak dalam masalah lainnya. Imam Muslim An Naisaburi rahimahullah mengatakan, “Hadits dalam agama ini boleh jadi membicarakan halal, haram, perintah dan larangan, atau boleh jadi membicarakan tentang dorongan (targhib) atau ancaman (tarhib) tatkala melakukan sesuatu. Jika seorang perowi yang meriwayatkan hadits bukanlah orang yang jujur dan bukan orang yang memegang amanah, kemudian ada pula perowi yang tidak dijelaskan keadaannya, maka orang yang menyebarkan hadits yang mengandung perowi semacam ini adalah orang yang berdosa karena perbuatannya. Dia adalah orang yang telah mengelabui kaum muslimin yang awam. Akibat dari perbuatan semacam ini, orang-orang yang mendengar hadits-hadits dho’if semacam ini mengamalkannya, mengamalkan sebagian atau lebih banyak. Padahal di antara hadits-hadits tersebut ada yang berisi perowi pendusta, sebagian lainnya adalah hadits yang tidak diketahui asal usulnya.”[ Shahih Muslim, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi, 1/21, Darul Jail-Darul Afaq.] Intinya, Imam Muslim berpandangan bahwa hadits dho’if tidak boleh diamalkan sama sekali.
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Apa yang dikatakan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab shahihnya –secara zhohir (tekstual)- bermakna hadits dalam masalah targib (memotivasi untuk beramal) diriwayatkan sama halnya dengan riwayat yang membicarakan tentang masalah hukum”[ Syarh ‘Ilal At Tirmidzi, 1/ 373.]. Artinya jika hadits yang membicarakan tentang masalah hukum tidak boleh berasal dari hadits dho’if, hal yang sama berlaku pula pada masalah fadhilah ‘amal.
Abu Bakr Ibnul ‘Arobi juga berpandangan tidak bolehnya menggunakan hadits dho’if secara mutlak baik dalam masalah fadhoil a’mal dan masalah lainnya.[ Tadribur Rowi, 1/252.] Pendapat ini juga yang menjadi pendapat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah[ Shahih At Targhib wa At Tarhib 67-1/47 ] dan juga murid-muridnya.
Memang ada Sebagian ulama yang memberi keringanan dalam menyebutkan hadits dho’if boleh diamalkan asalkan memenuhi tiga syarat: (1). Dho’if-nya tidak terlalu dho’if. (2). Hadits dho’if tersebut memiliki ashlun (hadits pokok) dari hadits shahih, artinya ia berada di bawah kandungan hadits shahih. (3). Tidak boleh diyakini bahwa Nabi Muhammad SAW mengatakannya.
Dari sini, berarti jika haditsnya sangat dhoif (seperti haditsnya diriwayatkan oleh seorang pendusta), maka tidak boleh diriwayatkan selamanya kecuali jika ingin dijelaskan kedhoifannya. Jika hadits tersebut tidak memiliki pendukung yang kuat dari hadits shahih, maka hadits tersebut juga tidak boleh diriwayatkan. Misalnya hadits yang memiliki pendukung dari hadits yang shahih: Kita meriwayatkan hadits tentang keutamaan shalat Jama’ah, namun haditsnya dhoif. Maka tidak mengapa menyebut hadits tersebut untuk memotivasi yang lain dalam shalat jama’ah karena saat itu tidak ada bahaya meriwayatkannya. Karena jika hadits tersebut dho’if, maka ia sudah memiliki penguat dari hadits shahih. Hanya saja hadits dho’if tersebut sebagai motivator. Namun yang jadi pegangan sebenarnya adalah hadits shahih. Akan tetapi ada syarat ketiga yang mesti diingat, yaitu hendaklah tidak diyakini bahwa hadits dhoif tersebut berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Syarat ketiga ini yang seringkali tidak diperhatikan. Karena kebanyakan orang menyangka bahwa hadits-hadits tersebut adalah hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW karena tidak ditegaskan kalau hadits itu dho’if. Akibatnya timbul anggapan keliru. Dalam syarat ketiga ini para ulama memberi aturan, hadits dho’if tersebut hendaknya dikatakan “qiila” (dikatakan) atau “yurwa” (ada yang meriwayatkan), tanpa kata tegas dari Nabi Muhammad SAW.
Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak ada satu pun ulama yang mengatakan bolehnya menjadikan sesuatu yang wajib atau sunnah berdasarkan hadits dho’if. Barangsiapa menyatakan bolehnya hal itu, maka sungguh ia telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan para ulama). Hal ini sama halnya ketika kita tidak boleh mengharamkan sesuatu (dalam masalah hukum) kecuali berdasarkan dalil syar’i (yang shahih). Akan tetapi jika diketahui sesuatu itu terlarang (haram) dari hadits yang membicarakan balasan baik bagi pelakunya dan diketahui bahwa hadits tersebut bukan diriwayatkan oleh perowi pendusta, maka hadits tersebut boleh saja diriwayatkan dalam rangka targhib (memotivasi dalam amalan kebaikan) dan tarhib (untuk menakut-nakuti). Hal ini berlaku selama tidak diketahui bahwa hadits tersebut adalah hadits yang berisi perowi pendusta (baca: hadits maudhu’/ palsu). Namun patut diketahui bahwa memotivasi suatu amalan kebaikan atau menakuti-nakuti dari suatu amalan yang jelek didukung dengan dalil lain (yang shahih), bukan hanya dengan hadits yang tidak jelas status keshahihannya.” [ Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 1/ 251, Darul Wafa’.]
Kanapa Harus Sholawat Nariyah ?
Shalawat Nariyah cukup populer kaum muslimin dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi dan biasanya sholawat ini di baca selesai sholat sunnah hajat, atau diamalkan setiap malam selesai sholat maghrib dan sholat subuh, dan lain sebagainya. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila mengetahui isinya ternyata mengandung kesyirikan di dalamnya.

Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut mari kita perhatikan maknanya : Allahumma Sholli Sholaatan Kaamilatan Wa Sallim Salaaman Taaman ‘Ala Sayyidinaa Muhammadin Alladzi Tanhallu Bihil ‘Uqadu, Wa Tanfariju Bihil Kurabu, Wa Tuqdhaa Bihil Hawaa’iju Wa Tunaalu Bihir Raghaa’ibu Wa Husnul Khawaatimi Wa Yustasqal Ghomaamu Bi Wajhihil Kariimi, Wa ‘Alaa Aalihi, Wa Shahbihi ‘Adada Kulli Ma’luumin Laka (Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”)

Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah SAW mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah SWT semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdo’a kepada selain Allah SWT demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdo’a kepada selain Allah SWT baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah SWT berfirman: “Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).

Bagaimana Rasul SAW bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya: “Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)

Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul SAW dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)

Dengan demikian sholawat nariyah ini tidak layak untuk diamalkan dan mengandung kesyirikan, kenapa tidak sebaiknya kita membaca dan mengamalkan sholawat yang bersumber dari hadits Rasulullah SAW yang shohih sebab lebih terjamin keselamatannya.

Catatan :

Bolehkah menambah kata : ‘Sayyidina’ dalam shalawat Nabi SAW ? Jawab : Shalawat kepada Rasulullah SAW dalam tasyahud awal atau akhir tidak terdapat kalimat sayyidina yaitu ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad …’. Alasannya karena tidak ada dalil shohih (yang bisa diterima) yang menyebutkan bahwa Nabi SAW mengajarkan para sahabatnya mengenai tata cara shalawat kepada beliau dengan menambah kata “sayyidina”.. Dan juga hal ini dikarenakan ibadah adalah tauqifiyyah (harus ada dalil untuk dilaksanakan). Karena itu tidak boleh seseorang menambah ajaran yang bukan syari’at Allah SWT dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasul SAW dan Sahabat..

Menyelisihi sunnah Rasulullah SAW berarti membuka peluang untuk menuju kesesatan. Karena itu waspada dan berhati-hati, apalagi perkara yang menyangkut ibadah. Dalam sebuah hadits di sebutkan ; “Riwayat dari Abi Rabah, dari Sa’id bin Musayyab, bahwa dia melihat seorang lelaki shalat setelah terbit fajar, lebih banyak dari dua raka’at, dia memperbanyak ruku’ dan sujud, maka Sa’id bin Musayyab melarangnya, lalu orang itu bertanya: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku karena shalat? Sa’id menjawab: “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena (kamu) menyelisihi sunnah.” (Riwayat Ad-Darimi 1/116, Abdur Razaq 4755, Al-Baihaqi 2/ 466, lihat Irwaul Ghalil oleh Al-Albani 2/236, sanadnya shahih)

Kepada Siapa Kita Minta Syafa’at ?

Adakalanya kita dengar seseorang mengatakan, “Wahai Muhammad, berilah syafa’at kepada kami!” atau “Wahai Muhammad, syafa’atilah kami!” Memang Rasulullah SAW lah akan diberi izin oleh Allah SWT untuk memberikan syafa’at besok di hari kiamat. Tapi permasalahannya, bolehkan kita meminta langsung kepada beliau? Ini adalah permasalahan yang sangat penting, jika seseorang salah di dalamnya maka ia dapat jatuh ke dalam kesyirikan.

Syafa’at Adalah Do’a

Syafa’at hakikatnya adalah doa, atau memerantarai orang lain untuk mendapatkan kebaikan dan menolak keburukan. Atau dengan kata lain syafa’at adalah memintakan kepada Allah SWT di akhirat untuk kepentingan orang lain. Dengan demikian meminta syafa’at berarti meminta doa, sehingga permasalahan syafa’at ialah sama dengan do’a. Perhatikanlah firman Allah, “Katakanlah: Hanya kepunyaan Allah lah syafa’at itu semuannya. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Kemudiaan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Az Zumar: 44)

Ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa syafa’at segenap seluruh macamnya itu hanya milik Allah SWT semata. Allah SWT kemudian memberikan kepada sebagian hamba-Nya untuk memberikan syafa’at kepada sebagian hamba yang lainnya dengan tujuan untuk memuliakan menampakkan kedudukannya pemberi syafa’at dibanding yang disyafa’ati serta memberikan keutamaan dan karunia-Nya kepada yang disyafa’ati untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih baik atau kebebasan dari adzab-Nya.

Orang yang memberi syafa’at dan orang yang diberi syafa’at itupun bukan sembarang orang. Syafa’at hanya terjadi jika ada izin Allah kepada orang yang memberi syafa’at untuk memberi syafa’at dan ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan yang disyafa’ati. Allah SWT berfirman, “Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Al Anbiya: 28) dan firman Allah, “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-(Nya).” (An Najm: 26). Dan juga firman-Nya, “Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?’ Mereka menjawab: ‘(Perkataan) yang benar, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’.” (Saba: 22-23)

Orang yang diridhoi itulah ahli tauhid. Abu Huroirah RA telah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Siapakah orang yang paling beruntung dengan syafa’at engkau?” Beliau menjawab, “Ialah orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas dari dalam hatinya.” (HR. Ahmad dan Bukhori). Mengucapkan di sini bukanlah maksudnya mengucapkan dengan lisan semata, tetapi juga harus diikuti dengan konsekuensi-konsekuensinya dengan memurnikan ibadah kepada Allah SWT semata dan tidak menyekutukannya.

Allah SWT tidak akan memberikan syafa’at kepada orang kafir, karena mereka itulah ahli syirik. Dan Allah SWT tidak akan pernah ridho dengan kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Namun dalam hal ini dikecualikan untuk Abu Tholib, dialah satu-satunya orang musyrik yang mendapatkan syafa’at keringanan adzab dengan memandang jasanya yang begitu besar dalam melindungi Rasulullah SAW semasa hidupnya. Adapun orang kafir selain Abu Tholib maka tidak akan mendapatkan syafa’at sedikit pun.

Macam-Macam Syafa’at

Syafa’at ada bermacam macam, diantaranya ada yang khusus dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu syafa’at bagi manusia ketika di padang Mahsyar dengan memohon kepada Allah SWT agar segera memberikan keputusan hukum bagi mereka, syafa’at bagi calon penduduk surga untuk bisa masuk surga, syafa’at bagi pamannya yaitu Abu Thalib untuk mendapat keringanan adzab.

Ada pula syafa’at yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW maupun para pemberi syafa’at lainnya, yaitu: Syafa’at bagi penduduk surga untuk mendapatkan tingkatan surga yang lebih tinggi dari sebelumnya, syafa’at bagi mereka yang seimbang antara amal sholihnya dengan amal buruknya untuk masuk surga, syafa’at bagi mereka yang amal buruknya lebih berat dibanding amal sholihnya untuk masuk surga, syafa’at bagi pelaku dosa besar yang telah masuk neraka untuk berpindah ke surga, syafa’at untuk masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Hukum Meminta Syafa’at

Sekarang tinggal tersisa satu permasalahan, bagaimanakah hukumnya meminta syafa’at. Telah kita ketahui bersama bahwa syafa’at adalah milik Allah SWT, maka meminta kepada Allah SWT hukumnya disyariatkan, yaitu meminta kepada Allah SWT agar para pemberi syafa’at diizinkan untuk mensyafa’ati di akhirat nanti. Seperti, “Ya Allah, jadikanlah Nabi Muhammad SAW pemberi syafa’at bagiku. Dan janganlah engkau haramkan atasku syafa’atnya”.

Adapun meminta kepada orang yang masih hidup, maka jika ia meminta agar orang tersebut berdo’a kepada Allah agar ia termasuk orang yang mendapatkan syafa’at di akhirat maka hukumnya boleh, karena meminta kepada yang mampu untuk melakukanya. Namun, jika ia meminta kepada orang tersebut syafa’at di akhirat maka hukumnya syirik, karena ia telah meminta kepada seseorang suatu hal yang tidak mampu dilakukan selain Allah SWT. Adapun meminta kepada orang yang sudah mati maka hukumnya syirik akbar baik dia minta agar dido’akan atau meminta untuk disyafa’ati.

Demikianlah, jangan sampai kita terjebak untuk meminta syafa’at langsung kepada Rasulullah SAW. Hal ini bukan berarti kita menginkari adanya syafa’at beliau. Tetapi syafa’at hanyalah milik Allah SWT. Bagaimana Allah SWT hendak memberikan syafa’at-Nya kepada seseorang sementara dia berbuat syirik dengan meminta syafa’at kepada Nabi? Pantaskah bagi kita tatkala Allah SWT telah mengikrarkan bahwa syafa’at hanya milik-Nya, kemudian kita justru meminta kepada Nabi Muhammad SAW? Sungguh andai ia meminta kepada Nabi Muhammad SAW seribu kali tetapi Allah SWT tidak meridhoinya maka ia tidak akan mendapatkannya.

P e n u t u p

Demikian  ditulis ini semoga bermanfa’at, terutama bagi diri penulis yang selama ini pernah terlibat mengamalkan ritual ini, dengan hidayah dari Allah SWT lewat ilmu yang penulis pelajari penulis menyadari bahwa amalan yang telah diamalkan sebelumnya ternyata tidak berdasar dalil yang shohih.

Apa yang penulis susun dalam tulisan ini tiada lain semata-mata untuk mendatangkan kebaikan dan menambah wawasan pengetahuan tentang syari’at Islam bagi kaum muslimin bukan untuk permusuhan dan perpecahan. Mengutip firman Allah SWT ; “…. Dan Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama Aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali. (Qs.Huud : 88).  “… sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal. (Qs.Az-Zumar : 17-18)

Penulis berharap agar Allah SWT menerima amal kebaikan penulis dan menjadikan amal sholeh yang kelak menjadi wasilah untuk mendapat rahmat dan ampunan Allah SWT, juga untuk kedua orang tua penulis yang sejak kecil memelihara dan membimbing penulis sehingga mengenal islam. Dan berharap di akhir hayat penulis mendapat husnul khotimah dan dicatat sebagai syahid di jalan-Nya. ( Wallahu A’lam bish-Showab ).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: