<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Halaqah Ilmu</title>
	<atom:link href="http://alianoor.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alianoor.wordpress.com</link>
	<description>AMAL tanpa ILMU, Amalnya tidak berNILAI</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Nov 2010 02:10:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alianoor.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/fe1c47867a77b5f26b0c3fc738a93d7d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Halaqah Ilmu</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alianoor.wordpress.com/osd.xml" title="Halaqah Ilmu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alianoor.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kesetiaan Sang Juru Kunci &#8220;Mbah Maridjan&#8221; atas Kesyirikan &amp; Kekafiranya</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/11/03/kesetiaan-sang-juru-kunci-atas-kesyirikan-kekafiranya/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/11/03/kesetiaan-sang-juru-kunci-atas-kesyirikan-kekafiranya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 02:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[RIBUAN pelayat merubung pemakaman Srunen di Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis pekan lalu. Tak ada prosesi khusus, tapi jumlah pentakziah bak mengantar tokoh besar. Hadir pembesar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat GBPH Prabukusumo, putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwomo X GKR Pembayun, dan Bupati Sleman Sri Purnomo, antara lain. Inilah pemakaman Mas Penewu Surakso Hargo alias Mbah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=237&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">RIBUAN pelayat merubung pemakaman Srunen di Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis pekan lalu. Tak ada prosesi khusus, tapi jumlah pentakziah bak mengantar tokoh besar. Hadir pembesar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat GBPH Prabukusumo, putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwomo X GKR Pembayun, dan Bupati Sleman Sri Purnomo, antara lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah pemakaman Mas Penewu Surakso Hargo alias Mbah Maridjan, yang tewas dua hari sebelumnya. Di antara pengantar terselip Ponirah, 73 tahun, istri si Mbah, dan anak cucunya. Jasad juru kunci Keraton Yogya untuk upacara-upacara di Gunung Merapi itu sebelumnya disemayamkan di Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia, bersama empat jenazah kerabatnya. Rektor Edy Suwandi Hamid dan Direktur Utama Rumah Sakit Sardjito, Budi Mulyono, memimpin penghormatan terakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau dimakamkan berdampingan dengan kakeknya, Parto Setiko. Lahir di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, 83 tahun silam, Maridjan wafat di tempat yang sama, dilibas wedhus gembel dalam posisi sujud, bersama belasan korban lainnya. Pada 1970 ia mulai menjabat wakil juru kunci, dan dua belas tahun kemudian “dikukuhkan” sebagai juru kunci atas titah Sri Sultan Hamengku Buwono IX.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Merapi meletus pada 14 Juni 2006, ayah sepuluh anak ini menolak turun gunung. Perintah Sri Sultan Hamengku Buwono X ditanggapinya sebagai instruksi gubernur, bukan titah raja. “Sing mrentah ki pemerintah, dudu Ngarso Dalem,” katanya ketika itu. Kontroversi ini, serta keberaniannya menunggui Merapi, membuat nama Maridjan sohor, hingga dia tampil sebagai bintang iklan minuman suplemen. Honor sebagai bintang iklan digunakannya untuk membangun masjid, sisanya buat merapikan rumahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Empat hari menjelang Merapi meletus, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengirim utusan, meminta Maridjan turun. Tapi sang kuncen tak mau beranjak. “Kami gagal mengimbau Mbah Maridjan turun,” kata Andi Arief, staf khusus presiden bidang bencana dan bantuan sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Juru kunci Merapi dan Pantai Parangkusumo, Parangtritis, merupakan jabatan metafisik yang muncul bersamaan dengan berdirinya Keraton Yogya, pada zaman Hamengku Buwono I. Menurut kosmologi Jawa, kedua tempat itu terliput dalam “garis khayali” yang mempertautkan “Keraton Merapi”, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan “Keraton Kanjeng Ratu Kidul” di Laut Selatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sultan Hamengku Buwono X belum berniat mencari pengganti Maridjan. Menurut adik Sultan, GBPH Yudhaningrat, juru kunci Merapi diprioritaskan untuk keturunan juru kunci sebelumnya. “Jika tak ada yang bersedia, baru diberikan ke orang lain,” kata Yudhaningrat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, permaisuri Sultan, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, mengatakan juru kunci Merapi tak harus keturunan Maridjan. Ketika mengunjungi pengungsi di Dusun Ngenthak, dia menunjuk Ponimin sebagai pengganti Mbah Maridjan. “Kowe saiki sing tunggu Merapi (Kamu sekarang yang menunggu Merapi),” kata Hemas.</p>
<p style="text-align:justify;">Ponimin, istri, dan anak-anaknya merupakan korban selamat terjangan awan panas. Rumah mantan abdi dalem keraton itu berjarak seratusan meter dari kediaman Maridjan. Sultan tak membenarkan penunjukan Ponimin. “Perintah” itu ditanggapinya sebagai sekadar permintaan mengurus Merapi. “Bukan menjadi juru kunci,” kata Sultan. (tempo Online)</p>
<p style="text-align:justify;">Catatan Radaksi:</p>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah wahai muwahhid dan segenap yang memiliki akal sehat, Apa seorang musyrik sejati spt ini layak ditaburi bunga dan ditangis…?. Kesyirikan akbar yang didukung banyak orang, mulai dari presiden, gubernur, Bupati bahkan mereka yang katanya sang intelektual yang rasionalitas ini adalah musibah besar, musibah besar seiring besarnya kesyirikan dan kekafiran yang mereka lakukan terutama si juru kunci  ini yang matinya sujud ke arah selatan menghadap WC rumahnya. Wahai para intelektual yang rasionalitas dimana akal kalian…?. Orang berjuang untuk menegakan islam dengan jalur syar’i yaitu jihad kalian gelari “Teroris” tapi seorang Musyrikin yang mati menghadap WC kalian gelari pahlawan, ini EDAN apa bukan…?.  ( Sumber : http://lintastanzhim.wordpress.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/237/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=237&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/11/03/kesetiaan-sang-juru-kunci-atas-kesyirikan-kekafiranya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TIGA POKOK KEBAHAGIAAN</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/11/03/tiga-pokok-kebahagiaan/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/11/03/tiga-pokok-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 01:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid’ah. Dan [3] ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=232&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid’ah. Dan [3] ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan [ketaatan kepada] Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.” (al-Fawa’id, hal. 104)</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>Tauhid Mengantarkan Menuju Bahagia</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Allah SWT berfirman (yang artinya), <em><strong>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</strong></em> (QS. al-An’aam: 82). Rasulullah SAW bersabda, <em><strong>“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah.”</strong></em> (HR. Bukhari dan Muslim). Abdullah Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat (yang ikhlas), dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niat (yang tidak ikhlas).”</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>Syirik Mengantarkan  Menuju Sengsara</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Allah SWT  berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72). Rasulullah SAW  bersabda, “Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.” (HR. Muslim).<br />
Sunnah Mengantarkan Menuju Bahagia</p>
<p style="text-align:justify;">
Allah SWT berfirman (yang artinya), <em><strong>“Katakanlah (Muhammad); Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”</strong></em> (QS. Ali Imran: 31). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim). Imam Malik rahimahullah berkata, “Sunnah adalah [laksana] bahtera Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal akan tenggelam.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>Bid’ah Mengantarkan Menuju Sengsara</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Allah SWT berfirman (yang artinya), <em><strong>“Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya akan Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” </strong></em>(QS. an-Nisaa’: 115). Rasulullah SAW  bersabda, “Sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan -dalam agama-, [dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid'ah] dan setiap bid’ah pasti sesat [dan setiap kesesatan di neraka].” (HR. Muslim, tambahan dalam kurung dalam riwayat Nasa’i)</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>Ketaatan Mengantarkan Menuju Bahagia</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Allah SWT  berfirman (yang artinya), <em><strong>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.”</strong></em> (QS. al-Ahzab: 71). Rasulullah SAW bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, <em><strong>“Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan itu.”</strong></em> (HR. Bukhari). Ibnu Abbas ra berkata, “Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>Kemaksiatan Mengantarkan Menuju Sengsara</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Allah swt berfirman (yang artinya), “<em><strong>Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.”</strong></em> (QS. al-Ahzab: 36). Rasulullah SAW  bersabda, “Surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi nafsu (ketaatan) sedangkan neraka diliputi dengan perkara-perkara yang disenangi nafsu (kemaksiatan).” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>Hilangnya Harapan dan Rasa Takut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Sementara ketiga hal di atas -tauhid, sunnah, dan ketaatan- memiliki satu musuh yang sama yaitu ketiadaan rasa harap dan rasa takut. Yaitu ketika seorang hamba tidak lagi menaruh harapan atas apa yang Allah janjikan dan tidak menyimpan rasa takut terhadap ancaman yang Allah berikan. Akibat ketiadaan harap dan takut ini maka timbul berbagai dampak yang membahayakan. Di antara dampaknya adalah; [1] terlena dengan curahan nikmat sehingga lalai dari mensyukurinya, [2] sibuk mengumpulkan ilmu namun lalai dari mengamalkannya, [3] cepat terseret dalam dosa namun lambat dalam bertaubat, [4] terlena dengan persahabatan dengan orang-orang saleh namun lalai dari meneladani mereka, [5] dunia pergi meninggalkan mereka namun mereka justru senantiasa mengejarnya, [6] akherat datang menghampiri mereka namun mereka justru tidak bersiap-siap untuk menyambutnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa ketiadaan rasa harap dan takut ini bersumber dari lemahnya keyakinan. Lemahnya keyakinan itu timbul akibat lemahnya bashirah/pemahaman. Dan lemahnya bashirah itu sendiri timbul karena jiwa yang kerdil dan rendah (lihat al-Fawa’id, hal. 170).</p>
<p style="text-align:justify;">
Jiwa yang kerdil dan rendah akan merasa puas dengan perkara-perkara yang hina, sementara jiwa yang besar dan mulia tentu hanya akan puas dengan perkara-perkara yang mulia (lihat al-Fawa’id, hal. 170). Allah SWT  berfirman (yang artinya), “Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 9-10). Yaitu orang yang menyucikan jiwanya dari dosa-dosa dan membersihkannya dari aib-aib, lalu dia meninggikannnya dengan ketaatan kepada Allah serta memuliakannya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 926). Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang dimaksud penyucian di sini ialah dia menyucikan dirinya dengan cara membebaskannya dari syirik dan noda-noda maksiat, sehingga jiwanya menjadi suci dan bersih.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 165)</p>
<p style="text-align:justify;">
Dari sinilah, kita menyadari betapa besar peran ilmu yang diamalkan. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa seusai sholat Subuh dengan doa yang sangat indah, <strong>Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan.</strong> Yang artinya; “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amalan yang diterima.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Rasulullah SAW  juga bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya akan dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedangkan ilmu dan pemahaman seorang hamba tentang agamanya diukur dengan rasa takutnya kepada Allah. Allah SWT  berfirman (yang artinya), <em><strong>“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”</strong></em> (QS. Fathir: 28). Ibnu Mas’ud RA berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti ilmu -seseorang-.” Wallahu A’lam bish-Showab</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=232&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/11/03/tiga-pokok-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RITUAL SHOLAT HAJAT, BACA SURAH YAASIN DAN SHOLAWAT NARIYAH ADAKAH TUNTUNANNYA DARI RASULULLAH SAW ?</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/10/26/ritual-sholat-hajat-baca-surah-yaasin-dan-sholawat-nariyah-adakah-tuntunannya-dari-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/10/26/ritual-sholat-hajat-baca-surah-yaasin-dan-sholawat-nariyah-adakah-tuntunannya-dari-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 00:29:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[MUQADDIMAH Sholat sunnah merupakah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT setelah melaksanakan sholat fardhu, kedudukannya adalah untuk menambah kebajikan dan meninggikan derajat seorang hamba di hadapan Allah SWT. Juga sebagai penutup segala kekurangan dalam pelaksanaan shalat fardhu. Dalam hadits disebutkan oleh Rasulullah SAW: &#8216;Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali di hisab (diperhitungkan) pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=228&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>MUQADDIMAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sholat sunnah merupakah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT setelah melaksanakan sholat fardhu, kedudukannya adalah untuk menambah kebajikan dan meninggikan derajat seorang hamba di hadapan Allah SWT. Juga sebagai penutup segala kekurangan dalam pelaksanaan shalat fardhu. Dalam hadits  disebutkan oleh Rasulullah SAW: &#8216;<strong><em>Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama  kali di hisab (diperhitungkan) pada Hari Kiamat nanti adalah shalatnya, apabila shalatnya baik maka sungguh dia telah beruntung dan selamat, dan jika shalatnya rusak maka dia akan kecewa dan merugi. Apabila shalat fardhunya kurang sempurna, maka Allah berfirman, &#8216;Apakah hambaKu ini mempunyai shalat sunnah?, maka tutuplah kekurangan shalat fardhu itu dengan shalat sunnahnya.&#8217; Kemudian begitu pula dengan amalan-amalan lainnya yang kurang&#8217;.&#8221; </em></strong>( HR. Abu Daud ).</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam syari’at Islam dikenal berbagai macam sholat sunnah yang masing-masing mempunyai keutamaan yang besar berdasarkan hadits-hadits shohih,  namun ada juga sholat sunnah yang tidak berdasarkan hadits-hadits shohih tapi diamalkan oleh masyarakat muslim dan dianggap sebuah amal ibadah karena ketidak tahuan atau juga karena ikut-ikutan.  Padahal dalam syari’at Islam ibadah itu dikerjakan berdasar dalil yang shohih bukan sekedar ikut-ikutan (taqlid). Dan salah satu bentuk sholat sunnah yang dikerjakan oleh mayoritas ummat Islam tanpa landasan dalil yang kuat adalah sholat sunnah hajat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sholat sunnah Hajat merupakan salah satu jenis sholat sunnah yang populer dilaksanakan sebagian kaum muslimin, bahkan dilaksanakan secara sendiri-sendiri atau berjama’ah. Biasanya sholat sunnah ini dilaksanakan karena ada sebab. Yaitu meminta hajat tertentu kepada Allah SWT, baik perkara akhirat atau perkara dunia (termasuk masalah politik dan mencari jabatan). Tidak aneh kalau setiap menjelang pemilu / pilkada sholat sunnah hajat digelar oleh masing-masing calon agar sukses dan menang.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan penelitian ulama hadits (muhaditsin), bahwa kedudukan hadits tentang sholat sunnah hajat itu adalah dhoif (lemah), dan menurut  mayoritas ulama hadits bahwa hadits dhoif (lemah) tidak bisa diambil sebagai hujjah. Dengan demikian sholat sunnah hajat  bukan termasuk sunnah Rasulullah SAW, karena itu tidak bisa diamalkan atau dikerjakan. Seandainya sholat sunnah hajat itu baik dikerjakan, niscaya para sahabat dan ulama salaf lebih dahulu mengamalkan dan mempraktekkan. Padahal yang mesti dipopulerkan adalah sholat tahajud dan witir karena kedudukannya sangat penting dalam Islam setelah sholat fardhu dan didukung dalil yang kuat ketimbang sholat sunnah hajat.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ada dua hadits dhoif (lemah) yang dijadikan rujukan dan landasan untuk melegalkan pelaksanaan sholat sunnah karena hajat bukan sholat sunnah dengan niat khusus sholat hajat ;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama ; Hadits riwayat At-Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Abi Aufa, Rasulullah SAW bersabda :  ”<strong>Barangsiapa mempunyai hajat kepada Allah, atau kepada salah seorang dari bani Adam maka hendaklah ia berwudhu serta membaguskan wudhunya kemudian sholat dua raka’at. Setelah selesai sholat hendaklah ia menyanjung Allah dan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW kemudian berdo’a: ”Laa Ilaaha Illallahul Haliimul Karim, Subhaanallahi Rabbil Arsyil Azhim, Alhamdulillahi Rabbil A’lamin, As-Aluka Muujibati Rahmaatika, Wa-Azaaima Maghfiratika, Wal Ghanimata Min Kulli Birrin, Wassalaamata Min Kulli Itsmin, Laa Tada’li Dzanban Illa Ghafartahu, Walaa Hamman Illa Farrajtahu, Walaa Haajatan Hiya Ridhan Illa Qadhaitaha, Yaa Arhamar-Raahimin”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Keterangan :</p>
<p style="text-align:justify;">Sanad hadits ini sangat lemah ( dhoif jiddan ) bahkan mendekati maudhu (palsu) karena disanadnya ada seorang rawi bernama ”Faaid bin Abdur-rahman Abu al-Waruqa”. Imam At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata :”Hadits ini asing (gharib), disanadnya ada pembicaraan karena Faaid bin Abdurrahmaan telah dilemahkan di dalam haditsnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini keterangan para Muhaditsin (Ahli Hadits) tentang Faaid bin Abdurrahman ;</p>
<p style="text-align:justify;">1.	Kata Abdullah bin Ahmad dari bapaknya (Imam Ahmad), ”Matrukul Hadits (Orang yang ditinggal haditsnya).</p>
<p style="text-align:justify;">2.	Kata Imam Ibnu Ma’in, ” Dhoif, bukan orang yang tsiqat (kepercayaan).</p>
<p style="text-align:justify;">3.	Kata Imam Abu Daud, ”Bukan apa-apa” (istilah untuk rowi lemah).</p>
<p style="text-align:justify;">4.	Kata Imam An-Nasai, ”Bukan orang yang tsiqat, matrukul hadits”.</p>
<p style="text-align:justify;">5.	Kata Imam Abu Hatim, ”Hadits-hadits dari Ibnu Abi Aufa bathil-bathil (sedang hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa).</p>
<p style="text-align:justify;">6.	Kata Imam Hakim, ”Ia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa hadits-hadits maudhu (palsu)”.</p>
<p style="text-align:justify;">7.	Kata Imam Ibnu Hibban, ”Tidak boleh berhujah dengan riwayatnya”.</p>
<p style="text-align:justify;">8.	Kata Imam Bukhori, ”Munkarul hadits (Orang yang diingkari haditsnya). Imam Bukhori pernah mengatakan :”Setiap rawi yang telah aku katakan padanya munkarul hadits, maka tidak boleh diterima riwayatnya”. (Lihat, Mizanul I’tidal jilid 1 hal 6, atau al-Mustadrak Hakim jilid 1 hal 320, Sunan At-Tirmidzi 1/477, Sunan Ibnu Majah No.1384).</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, Riwayat Ahmad dari Abu Darda’ RA, Rasulullah SAW bersabda : <em><strong>”Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudia sholat dua raka’at maka ia diberi Allah apa saja yang diminta, baik cepat ataupun lambat”.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Keterangan :</p>
<p style="text-align:justify;">Sanad hadits ini dhoif (lemah), karena di dalam sanadnya ada seorang lelaki yang majhul (tidak diketahui). Jalur hadits ini dari Maimun Abi Muhammad al-Mara’I at-Tamimi. (Untuk lebih jelas lihat kitab Tamaamul Minnah oleh Syaikh Al-Albani hal 260).</p>
<p style="text-align:justify;">Kalaupun seandainya hadits di atas  ini shohih atau hasan, hadits ini tidak juga menyebutkan tentang jenis sholat hajat, tetapi sholat sunnah secara umum, tidak diyakini seperti kebanyakan ummat Islam, yaitu dengan lafazh niat sholat sunnah hajat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penyimpangan Seputar Pelaksanaan Ritual Sholat Hajat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa penyimpangan seputar pelaksanaan ritual sholat hajat yang sering dilakukan sebagian kaum muslimin, baik sebelum dilaksanakan sholat hajat maupun sesudah sholat hajat tersebut ;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>A.	Sebelum Pelaksanaan Ritual Sholat Hajat.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum melaksanakan sholat sunah hajat, biasanya terlebih dahulu membaca iqomah, yang berisi kalimat-kalimat istighosah (memohon) pertolongan kepada Allah SWT dengan perantaraan Rijaalul Ghoib (Laki-laki yang ghoib), Ruh-Ruh Suci, atau memanggil nama-nama yang ”dianggap” wali Allah seperti Ghauts, Umana, Nujaba, Atqiya, Autad, Quthub (padahal ini keyakinan dari agama Syi’ah), hingga bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW yang telah meninggal dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Tawassul kepada makhluk yang telah meninggal dunia merupakan penyimpangan aqidah. Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah menganggap perbuatan tersebut syirik kepada Allah SWT. (Untuk lebih jelas pembahasan tentang Istighosah dan Tawassul silahkan merujuk kitab ”Kitabut-Tauhid oleh Syaikh Sholeh al-Fauzan, Kitab Al-Madkhal Lid-Diraasati A’qidatil Islamiyah a’la Madzahibi Ahlis-Sunnah Wal Jama’ah oleh Syaikh Ibrahim Muhammad Al-Buraikan).</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun hukum istighotsah dengan makhluk yang makhluk  itu sendiri tidak mampu melakukannya kecuali Allah SWT, sebagaimana istighotsah kepada Nabi dan Rasul  dan orang-orang sholeh yang sudah meninggal dunia. Seperti menghilangkan kesusahan dan menolak bala, menyembuhkan penyakit, dan lain-lain. Istighotsah seperti ini tidak dibenarkan dalam syari’at, dan ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah sepakat menyatakan bahwa perbuatan tersebut termasuk syirik kepada Allah SWT.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada masa Rasul Muhammad SAW masih hidup, pernah ada seorang munafik yang menyakiti kaum muslimin, maka sebagian sahabat mengatakan : <em><strong>”Bangkitlah bersama kami untuk beristighotsah kepada Rasulullah SAW dari gangguan orang munafik ini !”. Rasulullah SAW mendengar dan bersabda : ”Sesungguhnya istighotsah itu tidak boleh dimintakan kepadaku, tetapi istighotsah itu kepada Allah SWT”</strong></em>. (HR. Ath-Thobrani).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>B.	Setelah Pelaksanaan Sholat Hajat.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sholat sunnah hajat dilakukan dua raka’at dan dikerjakan secara berjama’ah atau sendiri-sendiri ; Raka’at pertama setelah membaca al-fatihah, membaca surah al-Kafirun 10 kali. Raka’at kedua setelah membaca al-Fatihan, membaca surah al-Ikhlas 10 kali.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah salam ada beberapa amaliah yang di baca; membaca surah yaasin, membaca sholawat munjiyat dan nariyah 10 kali, kemudian dilanjutkan dengan do’a secara berjama’ah.  Kesemua prosesi amaliyah yang dilaksanakan ini tidak bersumber dari sunnah Rasulullah SAW. Artinya, tidak ada satu pun dalil yang menjelaskan hal tersebut, namun semata-mata bersumber dari buatan manusia. Padahal Rasulullah  SAW telah memperingatkan dalam sebuah hadits : “<em><strong>Barang siapa yang mengada adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka tidak akan diterima”.</strong></em></p>
<p><strong>Kedudukan Hadits Tentang Surah Yaasin</strong><br />
Dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih bahkan ada yang mendekati waudhu (palsu), artinya tidak ada syari’atnya mengkhususkan hanya membaca surah yasiin. (Pembahasan tentang hadits-hadits Keutamaan Surah Yaasin di Risalah berikutnya dgn judul ”Mengkhususkan membaca Surah Yaasin adakah Sunnahnya dari Rasulullah SAW” ).<br />
Hadits dho’if adalah setiap hadits yang mardud (tertolak) yang tidak memenuhi syarat hadits shahih atau hadits hasan. Boleh jadi hadits tersebut terputus sanadnya, terdapat perowi yang tidak ‘adl (tidak sholih), sering berdusta, dituduh dusta, sering keliru, atau hadits tersebut memiliki ‘illah (cacat yang tersembunyi) atau riwayatnya menyelisihi riwayat perowi yang lebih tsiqoh (lebih terpercaya) darinya. Tersebarnya hadits dho’if atau yang lebih parah lagi hadits palsu menyebabkan berbagai amalan tanpa tuntunan tersebar di tengah-tengah ummat Islam, sebagaimana ritual sholat hajat.</p>
<p>Perusakan Islam dengan cara seperti ini sebenarnya lebih parah dari penyerangan tentara Yahudi terhadap umat Islam. Karena yang merusak dengan menyebarkan hadits dho’if dan palsu adalah umat Islam sendiri, amat jarang dari luar Islam. Kita lihat sendiri semacam amalan puasa Nishfu Sya’ban atau shalat pada malam Nishfu Sya’ban terjadi karena motivasi dari hadits dho’if. Begitu pula beberapa dzikir tanpa tuntunan seringkali jadi amalan juga karena motivasi dari hadits-hadits dho’if atau bahkan palsu yang sengaja dibuat-buat oleh orang-orang yang bermaksud baik namun lewat jalan yang keliru.<br />
Dalam Al Mawdhu’at, Ibnul Jauzi menukilkan perkataan Abul Fadhl Al Hamadani, di mana ia berkata, “Orang yang berbuat bid’ah dalam Islam dan yang sengaja membuat hadits maudhu’ (yang palsu yang diriwayatkan oleh perowi pendusta), sebenarnya mereka lebih merusak daripada orang mulhid (musuh Islam). Karena orang mulhid bermaksud merusak Islam dari luar.”[ Al Mawdhu’at, Ibnul Jauzi, 1/51, Mawqi’ Ya’sub.]<br />
Siapa saja yang membicarakan suatu lantas ia katakan dari Rasulullah SAW padahal itu dusta, maka ia termasuk salah satu di antara dua pendusta dan ia terancam dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “<em><strong>Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka”</strong></em> (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 3).<br />
Hadits dho’if (lemah) tidak digunakan dalam fadho’il a’mal (menjelaskan keutamaan amal) dan juga tidak dalam masalah lainnya. Imam Muslim An Naisaburi rahimahullah mengatakan, “Hadits dalam agama ini boleh jadi membicarakan halal, haram, perintah dan larangan, atau boleh jadi membicarakan tentang dorongan (targhib) atau ancaman (tarhib) tatkala melakukan sesuatu. Jika seorang perowi yang meriwayatkan hadits bukanlah orang yang jujur dan bukan orang yang memegang amanah, kemudian ada pula perowi yang tidak dijelaskan keadaannya, maka orang yang menyebarkan hadits yang mengandung perowi semacam ini adalah orang yang berdosa karena perbuatannya. Dia adalah orang yang telah mengelabui kaum muslimin yang awam. Akibat dari perbuatan semacam ini, orang-orang  yang mendengar hadits-hadits dho’if semacam ini mengamalkannya, mengamalkan sebagian atau lebih banyak. Padahal di antara hadits-hadits tersebut ada yang berisi perowi pendusta, sebagian lainnya adalah hadits yang tidak diketahui asal usulnya.”[ Shahih Muslim, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi, 1/21, Darul Jail-Darul Afaq.] Intinya, Imam Muslim berpandangan bahwa hadits dho’if tidak boleh diamalkan sama sekali.<br />
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Apa yang dikatakan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab shahihnya –secara zhohir (tekstual)- bermakna hadits dalam masalah targib (memotivasi untuk beramal) diriwayatkan sama halnya dengan riwayat yang membicarakan tentang masalah hukum”[ Syarh ‘Ilal At Tirmidzi, 1/ 373.]. Artinya jika hadits yang membicarakan tentang masalah hukum tidak boleh berasal dari hadits dho’if, hal yang sama berlaku pula pada masalah fadhilah ‘amal.<br />
Abu Bakr Ibnul ‘Arobi juga berpandangan tidak bolehnya menggunakan hadits dho’if secara mutlak baik dalam masalah fadhoil a’mal dan masalah lainnya.[ Tadribur Rowi, 1/252.] Pendapat ini juga yang menjadi pendapat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah[ Shahih At Targhib wa At Tarhib 67-1/47 ] dan juga murid-muridnya.<br />
Memang ada Sebagian ulama yang memberi keringanan  dalam menyebutkan hadits dho’if  boleh diamalkan asalkan memenuhi tiga syarat: (1). Dho’if-nya tidak terlalu dho’if. (2). Hadits dho’if tersebut memiliki ashlun (hadits pokok) dari hadits shahih, artinya ia berada di bawah kandungan hadits shahih. (3). Tidak boleh diyakini bahwa Nabi Muhammad SAW  mengatakannya.<br />
Dari sini, berarti jika haditsnya sangat dhoif (seperti haditsnya diriwayatkan oleh seorang pendusta), maka tidak boleh diriwayatkan selamanya kecuali jika ingin dijelaskan kedhoifannya. Jika hadits tersebut tidak memiliki pendukung yang kuat dari hadits shahih, maka hadits tersebut juga tidak boleh diriwayatkan. Misalnya hadits yang memiliki pendukung dari hadits yang shahih: Kita meriwayatkan hadits tentang keutamaan shalat Jama’ah, namun haditsnya dhoif. Maka tidak mengapa menyebut hadits tersebut untuk memotivasi yang lain dalam shalat jama’ah karena saat itu tidak ada bahaya meriwayatkannya. Karena jika hadits tersebut dho’if, maka ia sudah memiliki penguat dari hadits shahih. Hanya saja hadits dho’if tersebut sebagai motivator. Namun yang jadi pegangan sebenarnya adalah hadits shahih. Akan tetapi ada syarat ketiga yang mesti diingat, yaitu hendaklah tidak diyakini bahwa hadits dhoif tersebut berasal dari Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Syarat ketiga ini yang seringkali tidak diperhatikan. Karena kebanyakan orang menyangka bahwa hadits-hadits tersebut adalah hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW karena tidak ditegaskan kalau hadits itu dho’if. Akibatnya timbul anggapan keliru. Dalam syarat ketiga ini para ulama memberi aturan, hadits dho’if tersebut hendaknya dikatakan “qiila” (dikatakan) atau “yurwa” (ada yang meriwayatkan), tanpa kata tegas dari Nabi Muhammad SAW.<br />
Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak ada satu pun ulama yang mengatakan bolehnya menjadikan sesuatu yang wajib atau sunnah berdasarkan hadits dho’if. Barangsiapa menyatakan bolehnya hal itu, maka sungguh ia telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan para ulama). Hal ini sama halnya ketika kita tidak boleh mengharamkan sesuatu (dalam masalah hukum) kecuali berdasarkan dalil syar’i (yang shahih). Akan tetapi jika diketahui sesuatu itu terlarang (haram) dari hadits yang membicarakan balasan baik bagi pelakunya dan diketahui bahwa hadits tersebut bukan diriwayatkan oleh perowi pendusta, maka hadits tersebut boleh saja diriwayatkan dalam rangka targhib (memotivasi dalam amalan kebaikan) dan tarhib (untuk menakut-nakuti). Hal ini berlaku selama tidak diketahui bahwa hadits tersebut adalah hadits yang berisi perowi pendusta (baca: hadits maudhu’/ palsu). Namun patut diketahui bahwa memotivasi suatu amalan kebaikan atau menakuti-nakuti dari suatu amalan yang jelek didukung dengan dalil lain (yang shahih), bukan hanya dengan hadits yang tidak jelas status keshahihannya.” [ Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 1/ 251, Darul Wafa’.]<br />
<strong>Kanapa Harus Sholawat Nariyah ?</strong><br />
Shalawat Nariyah cukup populer kaum muslimin dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi dan biasanya sholawat ini di baca selesai sholat sunnah hajat, atau diamalkan setiap malam selesai sholat maghrib dan sholat subuh, dan lain sebagainya. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila mengetahui isinya ternyata mengandung kesyirikan di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut mari kita perhatikan maknanya : <strong>Allahumma Sholli Sholaatan Kaamilatan Wa Sallim Salaaman Taaman ‘Ala Sayyidinaa Muhammadin Alladzi Tanhallu Bihil ‘Uqadu, Wa Tanfariju Bihil Kurabu, Wa Tuqdhaa Bihil Hawaa’iju Wa Tunaalu Bihir Raghaa’ibu Wa Husnul Khawaatimi Wa Yustasqal Ghomaamu Bi Wajhihil Kariimi, Wa ‘Alaa Aalihi, Wa Shahbihi ‘Adada Kulli Ma’luumin Laka <em> (Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah SAW  mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah SWT semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdo’a kepada selain Allah SWT demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdo’a kepada selain Allah SWT baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah SWT berfirman: <em><strong>“Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.”</strong></em> (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana Rasul SAW bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya: <em><strong>“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”</strong></em> (QS. Al-A’raaf)</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul SAW dan mengatakan: <strong><em>“Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.”</em></strong> Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian sholawat nariyah ini tidak layak untuk diamalkan dan mengandung kesyirikan, kenapa tidak sebaiknya kita membaca dan mengamalkan sholawat yang bersumber dari hadits Rasulullah SAW yang shohih sebab lebih terjamin keselamatannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bolehkah menambah kata : ‘Sayyidina’ dalam shalawat Nabi SAW ?  Jawab :  Shalawat kepada Rasulullah SAW dalam tasyahud awal atau akhir tidak terdapat kalimat sayyidina yaitu ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad &#8230;’. Alasannya karena tidak ada dalil shohih (yang bisa diterima) yang menyebutkan bahwa Nabi SAW mengajarkan para sahabatnya mengenai tata cara shalawat kepada beliau dengan menambah kata “sayyidina”.. Dan juga hal ini dikarenakan ibadah adalah tauqifiyyah (harus ada dalil untuk dilaksanakan). Karena itu tidak boleh seseorang menambah ajaran yang bukan syari’at Allah SWT dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasul SAW dan Sahabat..</p>
<p style="text-align:justify;">Menyelisihi sunnah Rasulullah SAW berarti  membuka peluang untuk menuju kesesatan. Karena itu waspada dan berhati-hati, apalagi perkara yang menyangkut ibadah. Dalam sebuah hadits di sebutkan ; “<em><strong>Riwayat dari Abi Rabah, dari Sa’id bin Musayyab, bahwa dia melihat seorang lelaki shalat setelah terbit fajar, lebih banyak dari dua raka’at, dia memperbanyak ruku’ dan sujud, maka Sa’id bin Musayyab melarangnya, lalu orang itu bertanya: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku karena shalat? Sa’id menjawab: “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena (kamu) menyelisihi sunnah.”</strong></em> (Riwayat Ad-Darimi 1/116, Abdur Razaq 4755, Al-Baihaqi 2/ 466, lihat Irwaul Ghalil oleh Al-Albani 2/236, sanadnya shahih)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kepada Siapa Kita Minta Syafa’at ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adakalanya kita dengar seseorang mengatakan, “Wahai Muhammad, berilah syafa’at kepada kami!” atau “Wahai Muhammad, syafa’atilah kami!” Memang Rasulullah SAW lah akan diberi izin oleh Allah SWT untuk memberikan syafa’at besok di hari kiamat. Tapi permasalahannya, bolehkan kita meminta langsung kepada beliau? Ini adalah permasalahan yang sangat penting, jika seseorang salah di dalamnya maka ia dapat jatuh ke dalam kesyirikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syafa’at Adalah Do’a</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syafa’at hakikatnya adalah doa, atau memerantarai orang lain untuk mendapatkan kebaikan dan menolak keburukan. Atau dengan kata lain syafa’at adalah memintakan kepada Allah SWT di akhirat untuk kepentingan orang lain. Dengan demikian meminta syafa’at berarti meminta doa, sehingga permasalahan syafa’at ialah sama dengan do’a. Perhatikanlah firman Allah, <em><strong>“Katakanlah: Hanya kepunyaan Allah lah syafa’at itu semuannya. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Kemudiaan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” </strong></em>(Az Zumar: 44)</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa syafa’at segenap seluruh macamnya itu hanya milik Allah SWT semata. Allah SWT kemudian memberikan kepada sebagian hamba-Nya untuk memberikan syafa’at kepada sebagian hamba yang lainnya dengan tujuan untuk memuliakan menampakkan kedudukannya pemberi syafa’at dibanding yang disyafa’ati serta memberikan keutamaan dan karunia-Nya kepada yang disyafa’ati untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih baik atau kebebasan dari adzab-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang memberi syafa’at dan orang yang diberi syafa’at itupun bukan sembarang orang. Syafa’at hanya terjadi jika ada izin Allah kepada orang yang memberi syafa’at untuk memberi syafa’at dan ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan yang disyafa’ati. Allah SWT berfirman, “<em><strong>Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.”</strong></em> (Al Anbiya: 28) dan firman Allah, <strong><em>“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-(Nya).”</em></strong> (An Najm: 26). Dan juga firman-Nya, <em><strong>“Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?’ Mereka menjawab: ‘(Perkataan) yang benar, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’.”</strong></em> (Saba: 22-23)</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang diridhoi itulah ahli tauhid. Abu Huroirah RA telah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, <em><strong>“Siapakah orang yang paling beruntung dengan syafa’at engkau?” Beliau menjawab, “Ialah orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas dari dalam hatinya.”</strong></em> (HR. Ahmad dan Bukhori). Mengucapkan di sini bukanlah maksudnya mengucapkan dengan lisan semata, tetapi juga harus diikuti dengan konsekuensi-konsekuensinya dengan memurnikan ibadah kepada Allah SWT semata dan tidak menyekutukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah SWT tidak akan memberikan syafa’at kepada orang kafir, karena mereka itulah ahli syirik. Dan Allah SWT tidak akan pernah ridho dengan kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Namun dalam hal ini dikecualikan untuk Abu Tholib, dialah satu-satunya orang musyrik yang mendapatkan syafa’at keringanan adzab dengan memandang jasanya yang begitu besar dalam melindungi Rasulullah SAW semasa hidupnya. Adapun orang kafir selain Abu Tholib maka tidak akan mendapatkan syafa’at sedikit pun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Macam-Macam Syafa’at</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syafa’at ada bermacam macam, diantaranya ada yang khusus dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu syafa’at bagi manusia ketika di padang Mahsyar dengan memohon kepada Allah SWT agar segera memberikan keputusan hukum bagi mereka, syafa’at bagi calon penduduk surga untuk bisa masuk surga, syafa’at bagi pamannya yaitu Abu Thalib untuk mendapat keringanan adzab.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada pula syafa’at yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW maupun para pemberi syafa’at lainnya, yaitu: Syafa’at bagi penduduk surga untuk mendapatkan tingkatan surga yang lebih tinggi dari sebelumnya, syafa’at bagi mereka yang seimbang antara amal sholihnya dengan amal buruknya untuk masuk surga, syafa’at bagi mereka yang amal buruknya lebih berat dibanding amal sholihnya untuk masuk surga, syafa’at bagi pelaku dosa besar yang telah masuk neraka untuk berpindah ke surga, syafa’at untuk masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hukum Meminta Syafa’at</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang tinggal tersisa satu permasalahan, bagaimanakah hukumnya meminta syafa’at. Telah kita ketahui bersama bahwa syafa’at adalah milik Allah SWT, maka meminta kepada Allah SWT hukumnya disyariatkan, yaitu meminta kepada Allah SWT agar para pemberi syafa’at diizinkan untuk mensyafa’ati di akhirat nanti. Seperti, “Ya Allah, jadikanlah Nabi Muhammad SAW  pemberi syafa’at bagiku. Dan janganlah engkau haramkan atasku syafa’atnya”.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun meminta kepada orang yang masih hidup, maka jika ia meminta agar orang tersebut berdo’a kepada Allah agar ia termasuk orang yang mendapatkan syafa’at di akhirat maka hukumnya boleh, karena meminta kepada yang mampu untuk melakukanya. Namun, jika ia meminta kepada orang tersebut syafa’at di akhirat maka hukumnya syirik, karena ia telah meminta kepada seseorang suatu hal yang tidak mampu dilakukan selain Allah SWT. Adapun meminta kepada orang yang sudah mati maka hukumnya syirik akbar baik dia minta agar dido’akan atau meminta untuk disyafa’ati.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah, jangan sampai kita terjebak untuk meminta syafa’at langsung kepada Rasulullah SAW. Hal ini bukan berarti kita menginkari adanya syafa’at beliau. Tetapi syafa’at hanyalah milik Allah SWT. Bagaimana Allah SWT hendak memberikan syafa’at-Nya kepada seseorang sementara dia berbuat syirik dengan meminta syafa’at kepada Nabi? Pantaskah bagi kita tatkala Allah SWT telah mengikrarkan bahwa syafa’at hanya milik-Nya, kemudian kita justru meminta kepada Nabi Muhammad SAW? Sungguh andai ia meminta kepada Nabi Muhammad SAW seribu kali tetapi Allah SWT tidak meridhoinya maka ia tidak akan mendapatkannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>P e n u t u p</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Demikian  ditulis ini semoga bermanfa’at, terutama bagi diri penulis yang selama ini pernah terlibat mengamalkan ritual ini, dengan hidayah dari Allah SWT lewat ilmu yang penulis pelajari penulis menyadari bahwa amalan yang telah diamalkan sebelumnya ternyata tidak berdasar dalil yang shohih.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang penulis susun dalam tulisan ini tiada lain semata-mata untuk mendatangkan kebaikan  dan menambah wawasan pengetahuan tentang syari’at Islam bagi kaum muslimin bukan untuk permusuhan dan perpecahan.  Mengutip firman Allah SWT ; <em><strong>“…. Dan Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama Aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali.</strong></em> (Qs.Huud : 88).  “<em><strong>… sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal. </strong></em>(Qs.Az-Zumar : 17-18)</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis berharap agar Allah SWT menerima amal kebaikan penulis dan menjadikan amal sholeh yang kelak menjadi wasilah untuk mendapat rahmat dan ampunan Allah SWT, juga untuk kedua orang tua penulis yang sejak kecil memelihara dan membimbing penulis sehingga mengenal islam. Dan berharap  di akhir hayat penulis mendapat husnul khotimah dan dicatat sebagai syahid di jalan-Nya. ( Wallahu A’lam bish-Showab ).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=228&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/10/26/ritual-sholat-hajat-baca-surah-yaasin-dan-sholawat-nariyah-adakah-tuntunannya-dari-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Tertipu Dengan Amal Sholeh Yang sudah kita laksanakan</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/23/jangan-tertipu-dengan-amal-sholeh-yang-sudah-kita-laksanakan/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/23/jangan-tertipu-dengan-amal-sholeh-yang-sudah-kita-laksanakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2010 00:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Seorang muslim jika melakukan beberapa amal ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT akan merasakan hatinya tentram, jiwanya tenang, menerima serta qana’ah dengan pemberian Allah SWT. Bahkan, terkadang lahir dalam dirinya perasaan sudah memberikan hak-hak Allah SWT. Terkadang perasaan ini mendatangkan kekaguman dan bangga dengan ibadahnya. Orang-orang shaleh tidak akan melakukan hal tersebut. Karena orang-orang shaleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=224&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Seorang muslim jika melakukan beberapa amal ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT  akan merasakan hatinya tentram, jiwanya tenang, menerima serta qana’ah dengan pemberian Allah SWT. Bahkan, terkadang lahir dalam dirinya perasaan sudah memberikan  hak-hak Allah SWT.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang perasaan ini mendatangkan kekaguman dan bangga dengan ibadahnya. Orang-orang shaleh tidak akan melakukan hal tersebut. Karena orang-orang shaleh selama-lamanya selalu rindu  kepada Allah SWT dan takut kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Allah SWT menyebutkan tentang mereka, <em><strong>&#8220;Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.&#8221;</strong></em> (QS. Al-Mukminun: 60)</p>
<p style="text-align:justify;">
Aisyah RA berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah SAW  tentang ayat ini (Qs. Al-Mukminun ayat 60), apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri wahai Rasulullah? Beliau  menjawab, “Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. Muslim, kitab al Imarah, bab man qatala li al Riya wa al sum’ah istahaqqa al naar, no. 1905)</p>
<p style="text-align:justify;">
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah di antara tanda kegelapan hati dan ketololan. Keraguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amalnya tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan. Hal ini karena dirinya menyadari bahwa ia telah banyak melakukan dosa-dosa dan banyak meninggalkan perintah-Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
Allah telah memerintahkan kepada para hujjaj (orang yang berhaji) untuk mengucapkan istighfar setelah mereka rampung dari melaksanakan ibadha haji. Hal ini sebagai penyempurna dan kemuliaan. Allah SWT berfirman: &#8220;<em><strong>Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; </strong></em>(QS. Al Baqarah: 198-199)</p>
<p style="text-align:justify;">
Beginilah seharusnya yang dilakukan seorang hamba, setiap selesai dari melaksanakan ibadah kepada Allah SWT hendaknya  beristighfar (meminta ampun) kepada Allah atas kealpaan dan bersyukur kepada Allah atas taufiq-Nya. Tidak seperti orang yang melihat dirinya telah menyempurnakan ibadah dan berbangga di hadapan Rabb-nya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
Dalam surat lain Allah SWT  menjelaskan, &#8220;<em><strong>(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.&#8221;</strong></em> (QS. Ali Imran: 17)</p>
<p style="text-align:justify;">
Imam al Hasan menjelaskan ayat ini, bahwa mereka adalah orang-orang yang lama dalam menjalankan shalat sampai menjelang waktu sahur (akhir malam) kemudian mereka duduk dengan mengucapkan istighfar (meminta ampunan) kepada Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">
Dalam hadits shahih dijelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW selesai mengucapkan salam dari shalatnya, maka beliau mengucapkan istighfar tiga kali. (HR. Muslim dari Tsauban)</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>Jangan Bersandar Pada Amal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Bersandarkan pada amal saja akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kepada Allah SWT.  Orang yang melakukan amal ibadah tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya bernilai keikhlasan atau tidak. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Maha pengampun dan Maha penyayang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW  bersabda: <strong>&#8220;Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.&#8221; Mereka bertanya, &#8220;tidak pula engkau ya Rasulallah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah).&#8221;</strong> (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik al-Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">
Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah SWT. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya. Karenanya, dia wajib bersyukur kepada Allah dan merendah diri kepada Allah. Tidak layak seorang hamba bersandar kepada amalnya untuk menggapai keselamatan dan mendapatkan derajat tinggi di surga. Karena  tidaklah dia sanggup beramal kecuali dengan taufiq Allah SWT, meninggalkan maksiat dengan perlindungan Allah SWT, dan semua itu berkat rahmat dan karunia-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">
Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba-Nya. Dia Mahakaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya.  Semoga Allah SWT melindungi kita dan menyelamatkan amal kita dari perasaan ujub dan takabbur, marilah kita meningkatkan ama sholeh kita dalam rangka untuk mendapatkan rahmat  dan ampunan Allah SWT. Wallahu A’lam bish-Showab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=224&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/23/jangan-tertipu-dengan-amal-sholeh-yang-sudah-kita-laksanakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tashawuf mengotori sunnah</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/22/tashawuf-mengotori-sunnah/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/22/tashawuf-mengotori-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2010 03:15:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada ta’abudi (peribadatan) atau amali i’tiqadi (amal keyakinan) yang dilakukan secara berlebih-lebihan (ghulu’) dan tasydid (sangat ketat dan keras), kecuali dilaksanakan oleh perorangan yang telah ditepis dan dilarang oleh Rasulullah SAW. Seperti tepisan dan larangan Rasulullah SAW terhadap beberapa orang yang bertanya tentang ibadah, ada yang terus-menerus shaum (puasa sunnah), ada yang tidak mau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=220&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tidak ada ta’abudi (peribadatan) atau amali i’tiqadi (amal keyakinan) yang dilakukan secara berlebih-lebihan (ghulu’) dan tasydid (sangat ketat dan keras), kecuali dilaksanakan oleh perorangan yang telah ditepis dan dilarang oleh Rasulullah SAW. Seperti tepisan dan larangan Rasulullah  SAW terhadap beberapa orang yang bertanya tentang ibadah, ada yang terus-menerus shaum (puasa sunnah), ada yang tidak mau menikah dan lain-lain, kemudian dijawab oleh Rasulullah SAW: <em><strong>“Bahwa aku shaum dan buka; aku beribadah (shalat) dan tidur; aku menikahi perempuan; aku memakan daging, maka barangsiapa yang tidak suka terhadap sunnnahku maka bukan dari golonganku”.</strong></em> (HR. Bukhori dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">
Sepeninggal Rasulullah SAW tetap ada orang-orang yang cenderung beribadah dengan berlebih-lebihan, terutama ditambah kasus-kasus politik yang mengharu-biru dan lagi kemenangan umat Islam yang membuka pintu dunia lebar-lebar, sehingga di antara mereka ada yang berputus asa dan beruzlah (mengasingkan diri) untuk hanya beribadah kepada Allah SWT. Para shahabat pun telah berusaha keras mencegah terjadinya praktek-praktek penyimpangan kaum tabi’in.Dari sinilah mulai timbul penyimpangan selangkah demi selangkah, walaupun secara keseluruhan mayoritas ibadah mereka masih berdasarkan Sunnah dan semua masih bersifat individual. Namun marhalah-marhalah (tahapan-tahapan) selanjutnya berkembang sangat mengerikan..!! penyimpangan demi penyimpangan berkembang pesat bahkan sampai kepada derajat kekufuran (keluar dari Islam) dan tidak lagi bersifat perorangan tetapi bersifat jama’ah.</p>
<p style="text-align:justify;">
Dari sinilah lahir istilah Tashawwuf dan thoriqat Sufiyah sekitar pertengahan abad ke-2 Hijriyah yang mulai dipenuhi dengan keyakinan yang bercampur aduk, ada paganisme, Yahudi, Nashrani, Hindu, Buda, Majusi dan firqah-firqah dhollah (sesat) yang banyak sekali. Di antara penyimpangan-penyimpangan pokok Sufiyah adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">
1.	<strong>Penyimpangan Sufiyah dalam Sumber</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Allah SWT dan Rosul-Nya telah menjelaskan dan menetapkan bahwa sumber agama Islam dengan segala seginya adalah wahyu Allah dalam bentuk al-Qur’an dan Hadits yang shohih. Tidak ada yang lain. Sebagaimana terdapat dalam berbagai firman Allah SWT dan Rasulullah SAW: “Sesungguhnya al-Qur&#8217;an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang amat lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al Isro` [17]: 9). Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku  dan sunnah para khalifah Rasyidin (yang terarahkan) dan mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah hal tersebut dengan gigi geraham”. Tetapi kita dapati oleh kaum sufi (Penganut Tasawuf dan Thoriqot), sumber agama Islam, yaitu al-Qur`an dan Sunnah telah ditambah-tambah dan dicampur aduk dengan berbagai sumber-sumber lain, bahkan sumber-sumber lain inilah yang lebih mendominasi al-Qur`an dan Sunnah itu sendiri. Mimpi, kasyaf (penerawangan alam gaib) dan hadis-hadis palsu dan munkar justru telah menjadi sumber utama bagi para penganut tasawwuf..</p>
<p style="text-align:justify;">
2.<strong> Penyimpangan Sufiyah dalam Tauhid</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Sebagaimana yang telah kita pahami bersama, bahwa Tauhid adalah mengesakan Allah SWT dalam rububiyah-Nya, yaitu dalam perbuatan-perbuatan ketuhanan-Nya, dan dengan mengesakan dan memuliakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta mengesakan Allah SWT pada hak-hak-Nya sebagai Ilah (Tuhan) untukseluruh alam. <em><strong>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.”</strong></em> [QS. adz-Dzariyat (51): 56]. Akan tetapi, ajaran yang telah diserukan oleh Nabi dan Rasul ini, tidak dipahami dan dijalankan oleh kaum sufi.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah menyimpang dari pengambilan sumber, mereka justru menambah penyimpangan dengan berpaling dari tauhid dan menggantinya dengan ajaran-ajaran syirik. Keyakinan mereka tentang Nabi Muhammad SAW banyak yang melampaui batas syari`at. Mereka berkeyakinan bahwa nabi Muhammad SAW diciptakan sebelum adanya alam semesta, bahkan semua alam semesta diciptakan dari cahaya (Nur)-nya dan untuknya sebagaimana yang banyak disebutkan dalam kitab-kitab tasawwuf.</p>
<p style="text-align:justify;">
Prinsip-prinsip kewalian yang dipenuhi dengan sihir, bahkan ada yang sampai kepada prinsip wihdatul wujud (manunggaling kawulo lan gusti) yang mengajarkan penyatuan Dzat Allah dengan seluruh alam semesta yang dalam hal ini menyatu dengan sang wali.</p>
<p style="text-align:justify;">Wali yang tidak pernah berbuat salah, kalaupun secara kasat mata salah tapi hakikatnya sama sekali tidak salah, setelah mati mereka masih hidup sehingga bisa mendengar keluhan dan rintihan pengikutnya, mereka memiliki banyak karomah sampai ada yang bisa terbang, bisa ada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan, dipercaya atau bahkan mengklaim memiliki kemampuan mengetahui sesuatu yang gaib dan keyakinan-keyakinan syirik lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
Kuburan-kuburan dan tempat-tempat keramat penuh dengan legenda-legenda kesucian dan kekaromahan penghuninya juga telah menjadi ajaran bid`ah yang sangat jelas. Sehingga situasi kuburan dan tempat-tempat keramat dipenuhi oleh orang-orang yang berziarah untuk mencari berkah atau meminta berbagai kebutuhan dalam kehidupan yang ini merupakan kesyirikan yang jelas sekali. Lewat penghuni sang kubur tersebut mereka berdo’a dengan berwasilah kepadanya agar dikabulkan segala permohonan.</p>
<p style="text-align:justify;">
3. <strong>Penyimpangan Sufiyah dalam Ittiba`.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Begitu juga ajaran-ajaran ta`abbud (peribadatan) dan suluk mereka telah banyak sekali dipenuhi oleh berbagai tata aturan bid`ah dengan dzikir yang mereka lantunkan. Sholawat bid`ah yang berbagai ragam sesuai dengan tarekatnya, cara solat yang dipenuhi dengan sikap semedi yang bebeda-beda, sikap dzikir yang memiliki tata aturan yang bermacam-macam yang sama sekali tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW seperti berdzikir dengan geleng-geleng kepala dan suara keras disertai cara berdzikir yang mereka ciptakan. Begitu pula dalam tata olah bathin yang sama sekali tidak merujuk kepada manusia yang paling bertaqwa, yaitu Rasulullah SAW. Amalan-amalan yang harus dipenuhi oleh para penganut tasawwuf untuk membersihkan jiwa telah dipenuhi berbagai bid`ah yang justru menjadi racun qolbu. Sampai-sampai untuk mengejar penyucian jiwa, mereka diwajibkan meninggalkan menuntut ilmu-ilmu syar`i  yang diajarkan dalam al-Qur`an dan Sunnah. Lalu, ilmu yang mereka dapat dari hasil dzikir dan riyadhoh (olah bathin) itulah yang akan melahirkan cahaya ilmu ladunni (diklaim sebagai ilmu yang langsung datang dari Allah SWT melalui bisikan jiwa).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=220&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/22/tashawuf-mengotori-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MELURUSKAN SALAH PAHAM TENTANG MAKNA AMIL ZAKAT DITINJAU MENURUT SYARI’AT ISLAM</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/02/meluruskan-salah-paham-tentang-makna-amil-zakat-ditinjau-menurut-syari%e2%80%99at-islam/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/02/meluruskan-salah-paham-tentang-makna-amil-zakat-ditinjau-menurut-syari%e2%80%99at-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 02:33:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Sering dipahami oleh kaum muslimin di Nusantara ini bahwa yang dimaksud dengan Amil Zakat adalah pengurus zakat atau panitia zakat yang ada saat ini di masjid-masjid atau yang berupa badan usaha sosial. Pemahaman semacam ini sebenarnya perlu diluruskan. Karena amil zakat sebenarnya tidak seperti itu. ‘Amil secara bahasa Arab bermakna pekerja. Sedangkan secara istilah berarti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=216&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sering dipahami oleh kaum muslimin di Nusantara ini bahwa yang dimaksud dengan Amil Zakat adalah pengurus zakat atau panitia zakat yang ada saat ini di masjid-masjid atau yang berupa badan usaha sosial. Pemahaman semacam ini sebenarnya perlu diluruskan. Karena amil zakat sebenarnya tidak seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
‘Amil secara bahasa Arab bermakna pekerja. Sedangkan secara istilah berarti orang yang diberikan tugas oleh Negara (ulil amri Islam) untuk mengurus zakat dan mengumpulkannya dari orang yang berhak mengeluarkan zakat, kemudian ia akan membagikan kepada golongan yang berhak menerima, dan ia diberikan otoritas oleh Negara (ulil amri Islam) untuk mengurus zakat tersebut.[1]</p>
<p style="text-align:justify;">
Sayid Sabiq mengatakan, “Amil Zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa atau wakil penguasa untuk bekerja mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya. Termasuk amil zakat adalah orang yang bertugas menjaga harta zakat, penggembala hewan ternak zakat dan juru tulis yang bekerja di kantor amil zakat.”[2]</p>
<p style="text-align:justify;">
‘Adil bin Yusuf al ‘Azazi berkata, “Yang dimaksud dengan amil zakat adalah para petugas yang dikirim oleh penguasa (ulil amri Islam) untuk mengunpulkan zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat. Demikian pula termasuk amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat serta orang-orang yang membagi dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka itulah yang berhak diberi zakat meski sebenarnya mereka adalah orang-orang yang kaya.”[3]</p>
<p style="text-align:justify;">
Syeikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Golongan ketiga yang berhak mendapatkan zakat adalah amil zakat. Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh pemerintah (ulil amri Islam)  untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berkewajiban untuk menunaikannya lalu menjaga dan mendistribusikannya. Mereka diberi zakat sesuai dengan kadar kerja mereka meski mereka sebenarnya adalah orang-orang yang kaya. Sedangkan orang biasa yang menjadi wakil orang yang berzakat untuk mendistribusikan zakatnya bukanlah termasuk amil zakat. Sehingga mereka tidak berhak mendapatkan harta zakat sedikitpun disebabkan status mereka sebagai wakil. Akan tetapi jika mereka dengan penuh kerelaan hati mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah dan kesungguhan maka mereka turut mendapatkan pahala. Namun jika mereka meminta upah karena telah mendistribusikan zakat maka orang yang berzakat berkewajiban memberinya upah dari hartanya yang lain bukan dari zakat.”[4]</p>
<p style="text-align:justify;">
Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa syarat agar bisa disebut sebagai amil zakat adalah diangkat dan diberi otoritas oleh pemerintah muslim (ulil amri Islam)  untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya sehingga panitia-panitia zakat yang ada di berbagai masjid serta orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai amil bukanlah amil secara syar’i. Hal ini sesuai dengan istilah amil karena yang disebut amil adalah pekerja yang dipekerjakan oleh pihak tertentu. Memiliki otoritas untuk mengambil dan mengumpulkan zakat adalah sebuah keniscayaan bagi amil karena amil memiliki kewajiban untuk mengambil zakat secara paksa dari orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.[5]</p>
<p style="text-align:justify;">
Dengan demikian ringkasnya, panitia zakat yang terdapat di masjid-masjid dan mushalla  tidak layak disebut ‘amil zakat tetapi hanya pekerja sosial untuk membantu masyarakat dalam menerima dan menyalurkan zakat milik orang lain kepada yang berhak menerima. Karena itu  maka sudah barang tentu mereka sama sekali tidak mendapatkan persenan dari zakat dan tidak berhak mengambil dari hasil zakat yang mereka kumpul, Oleh karena itu mereka haram mengambil bagian zakat tersebut sebab bukan hak mereka ( tidak termasuk bagian dari Amil Zakat ).</p>
<p style="text-align:justify;">
Di samping itu, Amil Zakat tidak diperkenankan menerima hadiah dari orang yang berzakat, hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW ;</p>
<p style="text-align:justify;">
(BUKHARI &#8211; 6639) : Pernah Nabi SAW  mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Utbiyah untuk menggalang dana sedekah. Orang itu datang sambil mengatakan; &#8220;Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.&#8221; Secara spontan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam berdiri diatas minbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi; &#8216;naik minbar-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda; &#8220;ada apa dengan seorang amil zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan; ini untukmu dan ini hadiah untukku! Cabalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-NYA, tidaklah seorang amil zakat membawa sesuatu dari harta zakat, selain ia memikulnya pada hari kiamat diatas tengkuknya, jikalau unta, maka unta itu mendengus, dan jika sapi, ia melenguh, dan jika kambing, ia mengembik, &#8221; kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan: &#8221; ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?&#8221; (beliau mengulang-ulanginya tiga kali).<br />
________________________________________<br />
[1] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, index ‘amil, point no. 1, 2/10543.<br />
[2] Fiqh Sunnah, terbitan Dar al Fikr Beirut, 1/327.<br />
[3] Tamamul Minnah fi Fiqh al Kitab wa Shahih al Sunnah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, terbitan Muassasah Qurthubah Mesir, 2/290<br />
[4] Majalis Syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, cet Darul Hadits Kairo, hal 163-164.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=216&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/02/meluruskan-salah-paham-tentang-makna-amil-zakat-ditinjau-menurut-syari%e2%80%99at-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>nuzulul qur&#8217;an sebagai peringatan atau pelajaran ?</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/01/nuzulul-quran-sebagai-peringatan-atau-pelajaran/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/01/nuzulul-quran-sebagai-peringatan-atau-pelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 02:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Syekh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis Sirah Nabawiyah) menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur&#8217;an, pada bulan apa dan tanggal berapa, paling tidak ada tiga pendapat : Pertama : Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur&#8217;an itu ada pada bulan Rabiul Awwal, Kedua : Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=212&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Syekh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis Sirah Nabawiyah) menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur&#8217;an, pada bulan apa dan tanggal berapa, paling tidak ada tiga pendapat :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama : Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur&#8217;an itu ada pada bulan Rabiul Awwal,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua : Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur&#8217;an itu pada bulan Rajab,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga : Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur&#8217;an itu pada bulan Ramadhan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal pecah menjadi tiga, ada yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8 Rabiul Awwal dan ada pula yang mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal (yang terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallaahu anhu).</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian yang berpendapat pada bulan Rajab terpecah menjadi dua. Ada yang mengatakan tanggal 17 dan ada yang mengatakan tanggal 27 Rajab (hal ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu -lihat Mukhtashar Siratir Rasul, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdy, hal. 75-).</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fat-hul Bari berkata bahwa: Imam Al-Baihaqi telah mengisahkan bahwa masa wahyu mimpi adalah 6 (enam) bulan. Maka berdasarkan kisah ini permulaan kenabian dimulai dengan mimpi shalihah (yang benar) yang terjadi pada bulan kelahirannya yaitu bulan Rabiul Awwal ketika usia beliau genap 40 tahun. Kemudian permulaan wahyu yaqzhah (dalam keadaan terjaga) dimulai pada bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya kita menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur&#8217;an ada pada bulan Ramadhan karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, artinya,&#8221;Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur&#8217;an&#8221; (Al-Baqarah: 185). Dan Allah berfirman, artinya, &#8220;Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur&#8217;an) pada malam kemuliaan&#8221; (Al-Qadr :1).</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang telah kita maklumi bahwa Lailatul Qadr itu ada pada bulan Ramadhan yaitu malam yang dimaksudkan dalam firman Allah  yang artinya: &#8220;Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan&#8221; (Ad-Dukhaan: 3).</p>
<p style="text-align:justify;">Dan karena menyepinya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di gua Hira&#8217; adalah pada bulan Ramadhan, dan kejadian turunnya Jibril as adalah di dalam gua Hira&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi Nuzulul Qur&#8217;an ada pada bulan Ramadhan, pada hari Senin, sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Hal ini sangat kuat karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang puasa Senin beliau menjawab: &#8220;Di dalamya aku dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah lafadz dikatakan &#8220;Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau diturunkan (wahyu) atasku&#8221;(HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi dan Al-Hakim).</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi pendapat ketiga inipun pecah menjadi lima, ada yang mengatakan tanggal 7 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 14 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 17 (hari Kamis), ada yang mengatakan tanggal 21 (hari Senin) dan ada yang mengatakan tanggal 24 (hari Kamis).</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat &#8220;17 Ramadhan&#8221; diriwayatkan dari sahabat Al-Bara&#8217; bin Azib dan dipilih oleh Ibnu Ishaq, kemudian oleh Ustadz Muhammad Huzhari Bik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat &#8220;21 Ramadhan&#8221; dipilih oleh Syekh Al-Mubarakfuriy, karena Lailatul Qadr ada pada malam ganjil, sedangkan hari Senin pada tahun itu adalah tanggal 7, 14, 21 dan 28.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan pendapat &#8220;24 Ramadhan&#8221; diriwayatkan dari Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo&#8217; , dan dipilih oleh Ibnu Hajar Al-Haitamiy, ia mengatakan: &#8220;Ini sangat kuat dari segi riwayat&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu memperingati peristiwa turunnya Al-Qur&#8217;an pertama kali tidaklah penting, sebab di samping hal itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabatnya dan para tabi&#8217;in, Al-Qur&#8217;an diturunkan tidaklah untuk diperingati tetapi untuk memperingatkan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa Nuzulul Qur&#8217;an bukanlah diharapkan agar dijadikan sebagai hari raya oleh umat ini, yang dirayakan setiap tahun, karena Islam bukanlah agama perayaan sebagaimana halnya agama-agama lain.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Islam tidak memerlukan polesan, tidak perlu dibungkus dengan perayaan-perayaan yang membuat orang-orang tertarik kepadanya. Karena itu pesta hari raya tahunan di dalam Islam hanya ada dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi turunnya Al-Qur&#8217;an bukan untuk diperingati setiap tahunnya, melainkan untuk memperingatkan kita setiap saat. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menegaskaاn artinya: &#8220;Alif Lam Mim Shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman&#8221; (Al-A&#8217;raaf: 1-2).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bukan Cara Salafus Shalih</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Memperingati peristiwa turunnya Al-Qur&#8217;an bukanlah cara orang-orang shaleh yang muttaqin. Akan tetapi jejak ulama-ulama Salaf adalah membaca Al-Qur&#8217;an, membaca dan membaca lagi. Allah Subhaanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman, artinya: &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi&#8221;(Faathir: 29).</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi di bulan Ramadhan, bulan Al-Qur&#8217;an ini, Umar radhiyallaahu anhu berkata:&#8221;Seandainya kita bersih, tentu akan merasa kenyang dari kalam Allah. Sesungguhnya aku amat tidak suka manakala datang sebuah hari sementara aku tidak membaca Al-Qur&#8217;an.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu beliau tidak meninggal dunia sehingga mushafnya sobek karena seringnya dibaca. Dan ketika menjadi imam pada shalat shubuh beliau sering membaca surat Yusuf yang terdiri dari 111 ayat tertulis dalam 13 halaman, yang berarti satu sepertiga juz.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini tidak mengherankan karena khalifah kedua Umar bin Khatthab radhiyallaahu anhu ketika memimpin shalat shubuh juga selalu membaca surat-surat yang bilangan ayatnya lebih dari 100 ayat seperti surat Al Kahfi (11 halaman), surat Maryam (7 halaman) dan surat Thaha (10 halaman).</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah generasi Qur&#8217;ani sangat mencintai Al-Qur&#8217;an. Mereka tidak pernah merayakan peristiwa Nuzulul Qur&#8217;an tetapi shalatnya membaca ratusan ayat, sementara kita sebaliknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Shalat Tarawih di jaman Salaf rata-rata membutuhkan waktu 5 jam, dan kadang-kadang semalam suntuk, yang berarti setiap satu rakaat tarawih (dari sebelas rakaat) membutuhkan waktu 40 menit. Bahkan para sahabat banyak yang shalat sambil bersandar dengan tongkat karena terlalu lamanya berdiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengkhususkan Membaca Al-Qur&#8217;an</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ittabi&#8217;in, karena begitu memahami arti dari Ramadhan, bulan Al-Qur&#8217;an, dan begitu kuatnya dalam mencintai Al-Qur&#8217;an, maka bila bulan Ramadhan tiba mereka mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur&#8217;an seperti yang dilakukan oleh Imam Az-Zuhri dan Sufyan Ats-Tsauri. Sehingga dalam satu bulan khatam Al-Qur&#8217;an berpuluh puluh kali. Imam Qatadah umpamanya, di luar Ramadhan khatam setiap tujuh hari, di dalam Ramadhan khatam setiap tiga hari, dan di sepuluh hari terakhir khatam setiap hari. Sementara Imam Syafi&#8217;i di luar Ramadhan setiap hari khatam sekali, dan di dalam Ramadhan setiap hari khatam dua kali. Itu semua di luar shalat.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah ulama Ahlus Sunnah tidak pernah merayakan Nuzulul Qur&#8217;an, namun setiap hari khatam Al-Qur&#8217;an, ada yang sekali dan ada yang dua kali. Sementara kita sebulan Ramadhan jika khatam sekali saja maka sudah puas dan gembira. Itupun bisa dihitung dengan jari.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah selama di dalam penjara, dari tanggal 7 Sya&#8217;ban 726 H sampai wafatnya 22 Dzulqa&#8217;dah 728 H, selama 2 tahun 4 bulan beliau telah mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an bersama saudaranya Syeikh Zainuddin Ibnu Taimiyah sebanyak 80 kali khatam, yang berarti rata-rata setiap 10 hari khatam satu kali.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah merahmati kita bersama mereka dan semoga kita bisa meneladani Rasulullah, dan para sahabatnya, dan para ulama Salaf dalam mencintai Al-Qur&#8217;an dan di dalam tata cara ibadah lainnya. Amin. Penulis: (Abu Hamzah As-Sanuwi, Lc. M.Ag)</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=212&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/09/01/nuzulul-quran-sebagai-peringatan-atau-pelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perpecahan di Kalangan Kelompok Salafy Maz&#8217;um</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/08/21/perpecahan-di-kalangan-kelompok-salafy-mazum/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/08/21/perpecahan-di-kalangan-kelompok-salafy-mazum/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 05:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menjawab Syubhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Mukaddimah Dari Abu Najih Irbad bin Sariyah, Rasulullah saw bersabda: “Dan siapa diantara kalian yang (kelak) masih hidup, maka ia akan banyak menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan, karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=208&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Mukaddimah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Dari Abu Najih Irbad bin Sariyah, Rasulullah saw bersabda: “Dan siapa diantara kalian yang (kelak) masih hidup, maka ia akan banyak menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bida’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).</p>
<p style="text-align:justify;">Tema tentang salaf dan salafi barangkali sudah terlalu sering dibahas. Secara ringkas, Salaf adalah manhaj yang telah ditempuh oleh generasi terbaik umat ini; sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Adapun salafi adalah sosok yang senantiasa berusaha untuk meniti jejak langkah mereka baik dalam masalah akidah, ibadah maupun mu’amalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Auza’i menyebutkan lima hal yang senantiasa melekat pada diri sahabat Nabi saw dan kalangan tab’in; senantiasa bersama dengan al jama’ah (Ahli Sunnah Wal Jama’ah), mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca Al Qur’an dan berjihad di jalan Allah” . [ 1 ]</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang disebutkan Imam Auzai’ merupakan sebagian contoh yang dilakukan kalangan salaf. Maka salafi adalah sosok yang berusaha meniti jejak langkah mereka siapa saja orangnya. Dan jika ada yang mengklaim dirinya salafi tapi jauh dari kelima hal tersebut maka label salafi tidak ada artinya sama sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">
Salafi bukanlah sosok yang hanya mendengar perkataan dari ustadz atau kelompoknya saja dengan meremehkan kalangan yang lain. Salafi bukanlah sosok yang mengatakan Lebih baik mati dalam keadaan bodoh dari pada ngaji dengan ust. Fulan. Mereka berdalih, dalam rangka merealisaiskan pernyataan para ulama hadits terdahulu dalam memberlakukan kaidah jarh dan ta’dil.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Bakr Abu Zaid [2] –rahimahullah- dalam bukunya Tashnif An Naas Baina ad Dzan Wal Yaqin telah mencium gelagat tersebut. Beliau menyatakan: “Terkadang dia menempuh cara yang dilakukan oleh sebagian ahli hadits terhadap para perawi yang lemah, – dan alangkah berbeda kedua jalan itu…semua itu adalah perbuatan syetan. Dan dari sinilah jiwanya merasa senang dengan pandangan para pengkritik itu. Yaitu ketika mereka berhasil memalingkan perhatian dari apa-apa yang seharusnya diperhatikan, lalu orang-orang sibuk saling mencela antar sesamanya”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tiga Sifat Salafi Ekstrim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Dalam diri kelompok salafi –meski tidak semuanya- terdapat tiga sifat ekstrim; sifat Khawarij, Murjiah dan Rafidhah. Khawarij dalam arti bersikap arogan, kasar, memusuhi, memblacklist, membid’ahkan setiap da’i, aktifis atau ustadz yang bukan dari kalangannya atau yang berbeda dengannya meski mengklaim sesama salafi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka Murjiah dalam arti lembut, lunak, menolong, membantu, mencintai, siap menjadi garda terdepan dan memberikan loyalitas kepada orang-orang yang anti dengan syariat Islam. Padahal Syaikh Bakr Abu Zaid dengan mengutip perkataan Ibn Al Qayyim berkata: “Bid’ah yang paling besar adalah menanggalkan Al Kitab dan Sunnah Rasul-Nya dan membuat hukum baru yang menyelisihi keduanya”.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka juga bersikap Rafidhah dalam arti menolak semua kelompok dan mengklaim hanya kelompoknya yang benar dan selamat adapaun yang lainnya adalah kelompok yang akan binasa dan neraka tempatnya. Hal ini seperti yang terjadi di Mu’tamar Ahli Sunnah di Teksas Amerika; Salim Hilali, Ali Hasan Al Halabi dan Usamah Al Qushi dalam obrolannya menyatakan Jama’ah Tabligh dan Jam’iyyah Syar’iyyah merupakan kelompok yang akan masuk neraka. Yang kemudian mereka ditegur oleh Syaikh Muhammad Hassan dan Syaikh Shafwat Nuruddin rahimahullah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka menyatakan kelompok-kelompok yang ada adalah hizbiyah dan yang tidak hizbiyah hanyalah kelompoknya. Namun ternyata kalangan seperti ini jauh lebih berhizbiyah dari pada kalangan lainnya. Ini namanya ‘Maling Teriak Maling’.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perpecahan Salafi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Seorang ustadz senior salafi ketika ditanya dalam salah satu siaran radio islami, kenapa kalangan salafi berbeda-beda? Ustadz tersebut hanya menjawab perbedaan yang terjadi hanyalah perbedaan dalam masalah furu’ bukan masalah prinsifil. Benarkah apa yang dikatakan sang ustadz? Atau hanya sekedar menutupi agar para muridnya tidak tahu hakikat yang sebenarnya, bahwa memang telah terjadi perpecahan yang cukup dahsyat sehingga antara yang satu dengan yang lain saling membid’ahkan? Kalau memang perbedaan itu bukan dalam masalah prinsif kenapa tabdi’, tajrih dan tahdzir harus terjadi? Bukankah dalam masalah ijtihadi tidak boleh saling menghujat dan tidak boleh menancapkan bendera al Wala dan al Baro di atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits tersebut –hadits Irbad bin Sariyah- Rasulullah saw telah mengabarkan kepada kita, bahwa umat ini akan mengalami perselisihan dan perpecahan. Tidak luput dari hadits tersebut adalah kelompok yang menamakan dirinya salafi yang kini sudah berkeping-keping menjadi beberapa kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi penulis sulit rasanya untuk memastikan kapan awal perpecahan itu terjadi. Hanya saja Syaikh Bakr Abu Zaid paling tidak delapan belas tahun yang lalu beliau telah merasakan adanya perpecahan dalam tubuh salafi. Beliau menyatakan: “Sepanjang yang saya ketahui, perpecahan yang terjadi dalam barisan Ahli Sunnah ini merupakan musibah yang pertama kali terjadi, dimana orang menisbatkan dirinya kepada mereka (Ahli Sunnah) justru mencela Ahli Sunnah. Dan memposisikan dirinya sebagi tentara untuk menyerang dan menebar kekacauan dan memadamkan semangat mereka, menghadang di jalan dakwah mereka dan melepaskan tali kendali lisan untuk mencela kehormatan para da’i dan membuat rintangan di jalan dakwah mereka dengan fanatisme buta”.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Syaikh Bakr dalam bukunya tersebut sebenarnya ditujukan kepada siapa saja yang hobinya menggolong-golongkan manusia, tanpa menunjuk hidung seseorang. Sehingga dalam hal ini Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali merasa tersinggung dan membantah buku tersebut dengan judul Al Hadd Al Fashil Bainal Haqq Wal Bathil yang kemudian bukunya (Syaikh Rabi’) dibantah lagi oleh Syaikh Abu Abdillah An Najdi dengan judul ‘Nadzarat Salafiyyah Fii Aaraa As Syaikh Rabi’ Al Madkhali.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum lagi perseteruan antara Syaikh Rabi’ dan Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq. Sehingga pada tahun 1997 kalangan salafiyah Kuwait meminta pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang sikap Syaikh rabi yang kasar dan arogan. Maka Syaikh menyatakan dalam fatwanya: “Adapun Syaikh Rabi’ aku akan menulis surat untuknya dan akan aku nasehati”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan akhir-akhir ini perseteruan antar tokoh salafi seperti Syaikh Rabi’ dengan Syaikh Ali Hasan Al Halabi, Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi, Syaikh Usamah Al Qushi, Syaikh Falih Al Harbi [ 3 ] dan lain-lain semakin membara bagaikan api yang sulit dipadamkan. Padahal sebelumnya mereka sangat memuliakan Syaikh Rabi’ dan menganggapnya sebagai imam Ahli Sunnah dan imam Jarh Wa Ta’dil pada masa ini. Tidak bisa dipungkiri imbasnya adalah apa yang terjadi di sana terjadi juga di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salafiyah Murjiah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Kalangan salafi jelas tidak menerima istilah ini dan menuduh kalangan yang melabelnya dengan sebutan khawarij, ikhwani, quthbi, sururi dan lain-lain. Di sini perlu dicatat bahwa justru yang menyebut salafi dengan label tersebut datang dari sosok yang telah lama berinteraksi dengan Syaikh Albani dan pernah terjerumus kedalam faham Murjiah, yaitu Syaikh Abu Malik Muhammad Ibrahim Syaqrah dalam bukunya Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fii Diin Al Murjiah Al Judud. Beliau menyebutnya dengan As Salafiyyah Al Murji’ah, Firqah As Salafiyah Al Murjiah, As Salafiyah Al Murji’ah Al Jadidah dan ungkapan-ungkapan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mengakui kekeliruannya dalam masalah iman yang terjerumus kepada faham Murji’ah maka beliau bertaubat dan sebagai bentuk keseriusan taubatnya beliau menulis dua buku Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fii Diin Al Murjiah Al Judud (Dimana Letak (kalimat) Laa Ilaaha Illallah Dalam Agama Murjiah Kontemporer), A Akhta’a An Nabiyyun Wa Ashaba Al Atsariyyun (Apakah Para Nabi Yang Salah dan Kalangan Atsariyun (Salafiyun) Yang Benar?), dan beliau memberi pengantar kitab Haqiqah Al Iman ‘Inda As Syaikh Al Albani (Hakikat Iman Menurut Syaikh Albani).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Ali Hasan Al Halabi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Di Indonesia Syaikh Ali Hasan Al Halabi bagaikan qadhi, yang memegang keputusan dan kendali. Bahkan dianggap sebagai imam jarh dan ta’dil. Jika ada seorang syaikh yang datang ke Indonesia maka ia akan dimintai fatwa dan pendapatnya tentang sosok syaikh tersebut. Jika Ali Hasan mengatakan bahwa syaikh tersebut sururi atau label lainnya maka pengikutnya yang ada di Indonesia akan manut dan langsung mempending seluruh jadwal syaikh tersebut. Ali Hasan di kalangan mayoritas salafi Indonesia mempunyai kedudukan yang tinggi. Jika ada yang mengkritik atau mencelanya maka sama artinya dengan mencela Syaikh Albani. Kenapa kalangan salafi Indonesia lebih mengidolakan Ali Hasan yang tidak sedikit para ulama menyatakan dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan?</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini penulis perlu menjelaskan secara ringkas siapa Syaikh Ali Hasan dan tentunya hal ini pun berdasarkan fakta dan data yang dikemukakan oleh kalangan yang tahu perisis tentang Syaikh Ali Hasan sehingga kita tidak terjebak dalam dunia kultus individu dan kelompok.</p>
<p style="text-align:justify;">1. Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi dalam fatwa pengharaman dua kitab Ali Hasan Fitnah At Takfir dan Shaihah Nadzir menggambarkan sosok Ali Hasan dengan: madzhabnya dalam masalah iman adalah madzhab Murji’ah yang bid’ah dan bathil, menyeleweng dalam menukil perkataan Ibn Katsir dan Syaikh Muhammad Ibrahim, dusta atas nama Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, menafsirkan pendapat ulama tidak sebagaimana yang mereka maksudkan, meremehkan masalah tidak berhukum dengan hukum Allah, hendaknya ia mencabut pendapat-pendapat ini, hendaknya ia bertaqwa kepada Allah pada dirinya yaitu dengan kembali kepada kebenaran, hendaknya bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu syar’i kepada ulama yang keilmuannya terpercaya dan akidahnya benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Ali Hasan adalah sosok yang ngeyel sehingga ia pun membantah fatwa Komisi Fatwa dengan Al Ajwibah Al Mutalaimah ‘An Fatwa Lajnah Daimah. Dan bantahannya tersebut dibantah lagi oleh Syaikh Muhammad Ad Dausari yang diberi pengantar oleh beberapa ulama senior namun Ali Hasan tetap ngeyel dan membantah buku tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah. Beliau pernah menjadi penengah dalam debat Ali Hasan dan DR. Abu Ruhayyim [4] yang kemudian beliau membenarkan dan memuji apa yang disampaikan DR. Abu Ruhayyim. Yang mana dalam hal ini Ali Hasan tidak amanah dalam menukil pendapat ulama. Sampai-sampai Syaikh Syaqrah marah dan mengatakan; kalau bukan kamu maka akan saya potong tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bukunya ‘Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fi Dien Al Murjiah Al Judud, Syaikh merujuk dan memuji buku yang ditulis Syaikh Muhammad Ad Dausari hal ini sangat berbeda dengan Ali Hasan yang justru mencela dan membantahnya. Bahkan dalam bukunya, Syaikh Syaqrah menyebut Ali Hasan sebagai ‘Embrio Salafiyah Murji’ah’.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalangan salafi banyak yang merujuk kepada pembelaan Syaikh Husain Alu Syaikh salah seorang ulama Madinah yang menyebut Ali Hasan dengan saudara senior. Harusnya merekapun membaca apa yang ditulis putra Syaikh Muhammad Syaqrah yaitu Ashim bin Muhammad Syaqrah yang menulis bantahan ‘Ar Rudud Al Ilmiyah As Saniyyah yang ditujukan kepada Ali Hasan dan pendukungnya, termasuk Syaikh Husain. Diantara salah satu pernyataannya; Bagiamana bisa dikatakan saudara senior? Dari sisi usia jelas Ali Hasan lebih muda dari Syaikh Husain. Dan jika dilihat dari sisi keilmuan jelas orang-orang yang duduk dikomisi Fatwa jauh lebih senior dari pada Ali Hasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembalinya Syaikh Muhammad Syaqrah kepada faham Ahli Sunnah dalam masalah iman diakui juga oleh Abu Muhammad Al Maqdisi dalam Tabshir Al Uqala Bi Talbisat At Tajahhum Wal Irja dan Syaikh Abu Bashir. Bahkan Abu Bahsir menulis artikel dengan judul Li As Syaikh Muhammad Syaqrah ‘Alayya Dain (Aku Mempunyai Utang Kepada Syaikh Muhammad Syaqrah). Ketika Abu Bashir meminta maaf atas kata-katanya yang kasar –dalam buku-bukunya terdahulu- maka Syaikh Syaqrah mengatakan: “Ya Abu Bashir, anda tidak perlu meminta maaf. Kalian berada dalam jalan yang haq dan benar. Apa yang telah anda tulis, (dan yang ditulis oleh) Abu Muhammad Al Maqdisi dan Abu Qatadah adalah benar dan haq. Maka aku katakan kepada manusia: sesungguhnya anda, Abu Muhammad Al Maqdisi dan Abu Qatadah adalah haq dan benar maka tidak perlu meminta maaf. Orang yang benar tidak layak meminta maaf atas perkara yang ia berada di atasnya”.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Dalam buku saku Ma’a Syaikhina Nashir As Sunnah Wa Ad Dien Fi Syuhur Hayatihi Al Akhirah, Ali Hasan menyebutkan; Ketika Syaikh dikubur aku memang jauh darinya, namun aku adalah sosok yang paling akhir berbicara dengan Syaikh. Abdullatif, salah seorang putra Syaikh Albani menyatakan bahwa yang paling terakhir berbicara dengannya selain keluarga dan kerabatnya adalah salah seorang ikhwah dari Bahrain. Ini menunjukan kebohongan Ali Hasan sang qadhi dan Ahli Jarh dan Ta’dil salafi Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Ali Hasan adalah sosok yang suka melakukan plagiat dan mencuri karya orang lain yang kemudian dinisbatkan kepada dirinya. Syaikh ‘Awadhallah pernah mengeluhkan permasalahan ini kepada Syaikh Bakr Abu Zaid. Bahkan Abdul Aziz bin Faishal membuat artikel dengan judul Al Farq Baina Al Muhaqqiq Wa As Sariq (Perbedaan Antara Muhaqqiq Dan Pencuri) kemudian menyebutkan beberapa bukti di antaranya Ali Hasan mencuri hasil tahqiq Al Thanahi dan Az Zawi dalam kitab An Nihayah karya Ibn Atsir dan mayoritas dari karya-karyanya banyak membela dirinya dengan berlindung dibalik nama besar Syaikh Albani. Pada hal Ali Hasan tidak pernah duduk lama-lama belajar dengan Syaikh Albani hal ini dikarenakan Syaikh juga sibuk dengan tahqiq, takhrij dan ta’liq. Dengan Syaikh Albani, Ali Hasan hanya tuntas membaca kitab kecil Nukhbah Al Fikr.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam bukunya Dar’ul Fitnah ‘an Ahli Sunnah (Menepis Fitnah Yang menimpa Ahli Sunnah) secara tidak langsung menyindir Ali Hasan. Beliau menyebutkan diantara dampak negatif faham murjiah adalah meremehkan urusan shalat dan pemberlakuan syari’at Allah untuk mengadili manusia. Bahkan mereka membantu orang yang berhukum kepada thaghut padahal Allah telah memerintahkan untuk mengkufurinya. Jelas dalam dua buku Ali Hasan Fitnah At Takfir dan Shaihah Nadzir dia meremeh kedua masalah tersebut dan menyatakan bahwa orang yang sibuk dengan masalah penegakan hukum Allah adalah mirip dengan Rafidhah. Jelas ini sebuah kekeliruan dan keseatan.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Asy-Syaikh Rabi’ al Madkhali ditanya tentang ‘Ali Al-Halaby, maka Asy-Syaikh menjawab: “Saya akan jelaskan kepada kalian keadaan ‘Ali Al-Halaby. Selama sepuluh tahun kami bersabar atas dia dan apa yang dimunculkan dari fitnahnya, sedang dia memperkuat fitnah tersebut dan berusaha untuk memecah belah dan membuat musykilah, diantaranya: Dia memberi kata pengantar pada kitabnya Murad Syukri yang mana padanya ada aqidah murji’ah dan pendalilan dengan ucapan ahlu bid’ah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
Syaikh Albani termasuk yang menyatakan bahwa kata As Salafi yang kemudian diikuti dengan Al Atsari adalah kalimat yang berat. Jika orang yang melabel dirinya dengan kata-kata itu mengetahui maknanya maka ia akan berlepas diri dengan menanggalkannya. Hal ini diamini oleh murid seniornya Syaikh Muhammad Syaqrah. Bahwa kata As Salafi jauh lebih berat dan fitnahnya jauh lebih dahsyat dari pada kata Al Atsari maka sebaiknya tidak menggunakan label tersebut karena akan melahirkan fanatisme, kesombongan dan meremehkan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Perpecahan dalam tubuh salafi, saling membid’ahkan dan adanya klaim kebenaran rupanya telah disinggung oleh Syaikh Al Utsaimin rahimahullah. Hal ini penulis tuturkan agar kalangan salafi introspeksi dan melakukan evaluasi diri serta menyadari bahwa telah ada kekeliruan juga dalam diri mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam mengomentari hadits di atas yaitu hadits ke 28 dalam Syarh Al Arbain An Nawawiyah yang bersumber dari Irbad bin Sariyah beliau (Syaikh Al Utsaimin) berkata: “Dan tidak diragukan lagi bahwa madzhab Umat Islam harus bermadzhab salaf bukan beravilial kepada hizb (kelompok) tertentu yang menamakan dirinya dengan ‘SALAFIYYUN’. Yang menjadi keharusan bagi Umat Islam adalah bermadzhab dengan madzhab As Salaf As Shalih bukan berhizbiyah dengan nama ‘SALAFIYUN’. Di sana ada yang namanya Thariqah As Salaf (cara/metode salaf) dan ada juga yang namanya kelompok ‘SALAFIYUN’. Dan yang dituntut adalah mengikuti salaf (bukan beravilial kepada kelompok salafi). Meski demikian, ikhwah Salafiyun merupakan kelompok yang paling dekat dengan kebenaran. Hanya saja permasalahan mereka adalah sama dengan kelompok-kelompok yang lainya; saling menyesatkan satu sama lain, saling membid’ahkan dan saling memfasikkan”. Wallahu A’lam bis shawab (Abu Hatim, Lc)</p>
<p style="text-align:justify;">Catatan kaki<br />
1. Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah karya Al Lalikai. Bahkan dalam masalah jihad Rasulullah saw telah menjadikan sebagai bentuk tamasya umatnya. Seorang lelaki meminta izin kepada Rasulullah saw untuk bertamasya. Maka beliau bersabda: “Tamasya umatku adalah jihad di jalan Allah”. (HR. Abu Daud)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Anggota Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi dan kitabnya ditulis sejak delapan belas tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1413H</p>
<p style="text-align:justify;">3. Dosen Universitas Islam Madinah dan Direktur Ma’had Ilmi. Dulunya merupakan teman dekat Syaikh Rabi’ namun akhir-akhir ini beliau kembali kapada jalan yang benar dalam memahami masalah iman dan mengkritik tajam apa yang ditulis Ali Hasan Al Halabi dan Syaikh Rabi yang keduanya terjerumus kepada paham murji’ah. Dalam masalah ini Syaikh Falih mendapat pujian dari Prof. DR. Abdullah bin Abdurrahman Al Jarbu’ ketua Jurusan Akidah Universitas Islam Madinah</p>
<p style="text-align:justify;">4. Isteri Syaikh Albani memilihkan calon Isteri untuknya dan Syaikh Albani yang menyampaikan nasehat dalam pernikahannya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=208&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/08/21/perpecahan-di-kalangan-kelompok-salafy-mazum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sya&#8217;ban, di Antara Sunnah dan Bid&#8217;ah</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/07/22/syaban-di-antara-sunnah-dan-bidah/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/07/22/syaban-di-antara-sunnah-dan-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 06:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa Disebut Sya&#8217;ban? Ibnu Rajab rahimahullah berkata, &#8220;Dinamakan Sya&#8217;ban karena kesibukan mereka dalam mencari air atau di gua-gua setelah keluar dari bulan Haram Rajab dan dikatakan selain itu.&#8221; (Fathul Baari: 4/251) Apa yang dilakukan Nabi Pada bulan Sya&#8217;ban? Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radliyallahu &#8216;anhu berkata, &#8220;Aku bertanya, Wahai Rasulallah, Aku tidak pernah melihat Anda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=204&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Kenapa Disebut Sya&#8217;ban?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Rajab rahimahullah berkata, &#8220;Dinamakan Sya&#8217;ban karena kesibukan mereka dalam mencari air atau di gua-gua setelah keluar dari bulan Haram Rajab dan dikatakan selain itu.&#8221; (Fathul Baari: 4/251)</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dilakukan Nabi Pada bulan Sya&#8217;ban? Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radliyallahu &#8216;anhu berkata, &#8220;Aku bertanya, Wahai Rasulallah, Aku tidak pernah melihat Anda berpuasa pada bulan-bulan lain sebagaimana Anda berpuasa pada bulan Sya&#8217;ban?&#8221; Maka Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, &#8220;Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia yang berada di antara Rajab dan Ramadlan. Dia adalah bulan dinaikannya amal-amal perbuatan kepada Rabb semesta alam (Allah) dan aku senang ketika amalku dinaikkan aku dalam keadaan berpuasa.&#8221; (HR. al-Nasai dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (Lathaif Al Ma’arif, hal. 235)</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Aisyah radliyallahu &#8216;anha berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau berpuasa Sya&#8217;ban hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156) Maknanya bahwa beliau tidak pernah mengosongkan bulan Sya&#8217;ban dari berpuasa, terkadang beliau puasa di bagian-bagian awal, terkadang di bagian akhir, dan terkadang di pertengahan. (Lihat Syarah hadits ini dalam Syarah Shahih Muslim oleh Imam al-Nawawi)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keutamaan Malam Nishfu Sya&#8217;ban</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Musa al-Asy&#8217;ari radliyallahu &#8216;anhu, dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, &#8220;Sesungguhnya Allah menilik pada malam nishfu (pertengahan) Sya&#8217;ban, lalu mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang cekcok/meninggalkan jama&#8217;ah.&#8221; (HR. Ibnu Majah dan dihassankan oleh Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 1144 dan Shahih dan Dhaif Sunan Ibni Majah ni. 1390)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kebid&#8217;ahan yang Marak di Bulan Sya&#8217;ban</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1/ Shalat al-Bara&#8217;ah, yaitu shalat seratus rakaat yang dikhususkan pelaksanaannya pada malam nishfu Sya&#8217;ban.</p>
<p style="text-align:justify;">2/ Shalat tujuh raka&#8217;at dengan niat untuk menolak bala&#8217; (bencana dan musibah), panjang umur, dan kecukupan sehingga tidak meminta-minta kepada manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">3/ Membaca Surat Yaasin dan berdoa pada malam nishfu Sya&#8217;ban dengan doa khusus.</p>
<p style="text-align:justify;">4/ Meyakini bahwa malam Nishfu Sya&#8217;ban adalah malam Lailatul Qadar. Al-Syuqairi berkata, &#8220;Dia (pendapat itu) adalah batil berdasarkan kesepakatan para peneliti dari kalangan Muhadditsin.&#8221; (Al-Sunan al-Mubtadi&#8217;ah, hal. 146) Hal tersebut berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala, &#8220;Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk bagi manusia…..&#8221; (QS. Al-Baqarah: 185). &#8220;Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur&#8217;an) pada Lailataul Qadar (malam kemuliaan).&#8221; (QS. Al-Qadar:1) Dan malam Lailatul Qadar berada di Ramadlan, bukan di bulan Sya&#8217;ban.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sejarah Munculnya Bid&#8217;ah Ini</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Al-Maqdisi berkata, &#8220;Perkara ini pertama kali terjadi di tempat kami pada tahun 448 Hijriyah. Pada saat itu ada seorang laki-laki yang dikenal dengan Ibnu Abil Humaira&#8217; yang memiliki bacaan bagus. Dia shalat di Masjid al-Aqsha pada malam nisfu Sya&#8217;ban lalu ada seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya kemudian bergabung orang ketiga dan keempat sehingga tidaklah ia selesai dari shalatnya kecuali ia berada di tengah-tengah jama&#8217;ah yang banyak.&#8221; (Al-Ba&#8217;its &#8216;ala Inkar al-Bida&#8217; wa al-Hawadits, hal. 124-125)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Najm al-Ghaithi berkata, &#8220;Sesungguhnya banyak ulama telah mengingkari itu, dari negeri Hijaz -di antaranya &#8216;Atha&#8217; dan Ibnu Abi Mulaikah-, Fuqaha&#8217; Madinah dan Pengikut Malik. Mereka berkata, &#8220;Semua itu adalah bid&#8217;ah.&#8221; (Al-Sunan wa al-Mubtadi&#8217;aat, Imam Al-Qusyairi, hal. 145)</p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah, bahwa perilaku bid&#8217;ah yang mereka lakukan tersebut disandarkan kepada beberapa riwayat berikut ini: &#8211; Dari Ali radliyallahu &#8216;anhu secara marfu&#8217;, berkata, &#8220;Apabila tiba malam nishfu Sya&#8217;ban maka berdirilah shalat pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya.&#8221; (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya no. 1388, dan ini adalah hadits Maudlu&#8217;. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Dhaif Sunan Ibni Majah, &#8220;Lemah sekali atau maudlu –palsu-&#8221; no. 1388, juga dalam Al-Misykah no. 1308, Al-Dhaifah no. 2132). &#8220;Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya&#8217;ban, lalu Dia akan mengampuni umatku lebih dari jumlah bulu domba yang digembalakan Bani Kalb.&#8221; (HR. Ibn Majah no. 1389 dan al-Tirmidzi no. 670. Syaikh al-Albani mendhaifkannya dalam Dhaif Sunan Ibni Majah no. 295 dan Dhaif al-Jami&#8217; al-Shaghir no. 1761)</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulannya, bahwa perkara-perkara ini tidak diterangkan oleh hadits ataupun atsar kecuali dari jalur yang lemah dan maudhu&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafidz Ibnu Dahiyyah berkata, &#8220;Ahli Ta&#8217;dil dan Tajrih berkata, &#8220;Tidak ada hadits shahih yang menerangkan tentang Nishfu Sya&#8217;ban. Wahai Hamba-hamba Allah berhati-hatilah dari para pemalsu yang akan meriwayatkan sebuah hadits untuk kalian yang dipasarkan untuk kebaikan. Mengamalkan kebaikan seharusnya dengan sesuatu yang disyariatkan dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Apabila telah nyata bahwa dia berdusta maka telah keluar dari disyariatkan, maka penggunanya telah menjadi pembantu syetan karena menggunakan hadits atas nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam yang tidak pernah Allah turunkan keterangan tentangnya.&#8221; (Al-Ba&#8217;its &#8216;ala Inkar al Bida&#8217; wa Al-Hawadits, Ibu Syamah al-Maqdisi, hal. 127)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hukum Merayakan Malam Nishfu Sya&#8217;ban</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah pernah ditanya tentang malam nishfu Sya&#8217;ban? Apakah ada shalat khusus di dalamnya? Beliau menjawab, &#8220;Malam Nishfu Sya&#8217;ban, tidak ada hadits shahih yang menerangkannya. Semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan di dalamnya adalah maudhu&#8217; (palsu) dan lemah yang tidak memiliki sumber. Malam itu tidak memiliki keistimewaan (kekhususan), baik dengan membaca sesuatu, tidak pula shalat khusus dan berjama&#8217;ah. . Dan apa yang disebutkan oleh sebagian ulama bahwa malam tersebut memiliki keistimewaan adalah pendapat yang lemah, karenanya tidak boleh diistimewakan dengan sesuatu. Ini adalah yang benar, semoha Allah melimpahkan taufiq-Nya kepada kita.&#8221; (PurWD/voa-islam.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=204&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/07/22/syaban-di-antara-sunnah-dan-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menimbang Peringatan Isra’ dan Mi’raj, Ajaran Nabi Atau Ajaran Para Habaaib ala Indonesia…?</title>
		<link>http://alianoor.wordpress.com/2010/07/13/menimbang-peringatan-isra%e2%80%99-dan-mi%e2%80%99raj-ajaran-nabi-atau-ajaran-para-habaaib-ala-indonesia%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://alianoor.wordpress.com/2010/07/13/menimbang-peringatan-isra%e2%80%99-dan-mi%e2%80%99raj-ajaran-nabi-atau-ajaran-para-habaaib-ala-indonesia%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 03:05:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Tsabita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alianoor.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki bulan rajab, sebagian umat islam sibuk dengan berbagai amalan. Ada yang melaksanakan puasa rajab, shalat khusus di bulan Rajab, Umroh, dan juga peringatan isra’ dan mi’raj nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Islam telah menetapkan bahwa bulan rajab ini adalah salah satu di antara empat bulan haram (suci). Pensucian bulan dalam islam ini berkaitan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=200&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Memasuki bulan rajab, sebagian umat islam sibuk dengan berbagai amalan. Ada yang melaksanakan puasa rajab, shalat khusus di bulan Rajab, Umroh, dan juga peringatan isra’ dan mi’raj nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam telah menetapkan bahwa bulan rajab ini adalah salah satu di antara empat bulan haram (suci). Pensucian bulan dalam islam ini berkaitan dengan kemuliaan bulan-bulan tersebut dan besarnya pahala atau dosa bagi yang melakukan kebaikan atau kemungkaran padanya. Dan di antara hikmah disucikannya bulan-bulan ini, umat islam mendapatkan keamanan untuk melakukan perjalanan dalam rangka menunaikan ibadah haji.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun islam memasukkan bulan Rajab ke dalam daftar bulan-bulan suci, namun Islam tidak mengajarkan adanya sebuah amalan khusus untuk dilaksanakan ada bulan ini. Tidak ada sunnah untuk melaksanakan puasa khusus di bulan Rajab, umrah khusus, atau pun peringatan Isra’ dan Mi’raj.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam persoalan isra’ dan Mi’raj, umat Islam mempercayai adanya dan terjadinya, karena riwayat-riwayat yang menerangkan sampai ke derajat mutawatir. Tetapi di balik mutawatirnya riwayat tentang adanya peristiwa itu, terjadi perselisihan di kalangan ulama’ tentang kapan terjadinya peristiwa itu. Syaikh Mubarakfuri di dalam ar-Rahiqul Makhtum menyebutkan beberapa pendapat tentan terjadinya isra’ dan Mi’raj, sebagai berikut;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Ath-Thabari berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi bersamaan dengan diangkatnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasul. Maknanya hal ini terjadi di tahun pertama kenabian.</p>
<p style="text-align:justify;">
2. Al-Qurthubi dan an-nawawi berpendapat, Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tahun kelima setelah nabi Muhammad diangkat menjadi seorang Rasul.</p>
<p style="text-align:justify;">
3. Al-Manshurfuri berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun kesepuluh setelah kenabian.</p>
<p style="text-align:justify;">
4. Ada pendapat yang menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi setahun sebelum Hijrah Nabi, pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga belas setelah kenabian.<br />
5. Ada juga yang berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi enam bulan sebelum hijrah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p style="text-align:justify;">
6. Dan ada yang menyatakan terjadi dua bulan sebelum hijrah beliau ke Madinah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sekian pendapat tentang kapan persisnya isra’ dan mi’raj terjadi, tidak satu pun pendapat yang didasari dengan riwayat yang shahih. Dari sini, tidak ada satu pendapat yang lebih kuat dari pendapat yang lain. Semuanya memiliki bobot yang sama, sehingga tidak bisa dikuatkan atas pendapat yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja, setelah mengemukakan beberapa pendapat ini, syaikh Mubarakfuri menjelaskan bahwa ketiga pendapat pertama tertolak, karena isra’ dan Mi’raj terjadi setelah wafatnya paman beliau dan isteri beliau. Sementara isteri beliau wafat pada bulan Ramadlan tahun ke sepuluh setelah kenabian. Ketika Khadijah wafat, belum turun kewajiban menunaikan shalat lima waktu, karena perintah shalat ini diturunkan dalam peristiwa mi’raj nabi saw ke sidratil Muntaha.</p>
<p style="text-align:justify;">Penjelasan Syaikh Mubarakfuri tersebut di atas, memberikan pengertian bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj itu ada, tetapi waktu terjadinya peristiwa ini tidak tercatat dalam sejarah. Maka umat islam hanya berkewajiban mempercayai adanya peristiwa itu saja. Tidak ada kewajiban meyakini kapan waktunya, apalagi kewajiban memperingatinya. Dengan mempertimbangkan lemahnya pendapat yang menyatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab, maka jelas tidak logis kalau Islam mengajarkan adanya peringatan Isra’ dan Mi’raj di bulan Rajab.</p>
<p style="text-align:justify;">Dilupakannya waktu terjadinya isra’ dan mi’raj tentu memiliki makna pula. Dan di antara hikmah dilupakannya kapan peristiwa ini terjadi adalah agar umat islam tidak terbebani untuk melaksanakan peringatan. Andaikata toh Islam mengajarkan peringatan itu, tentu Rasulullah saw memerintahkan para shahabatnya untuk melakukan peringatan. Sebab tidak ada satu bagian dari agama islam ini yang tercecer, belum diajarkan oleh rasulullah saw. Firman Allah; “Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamuni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhaiislam itu jadi agama bagimu” (al-maidah:3)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan jika peringatan Isra’ dan mi’raj ini disyari’atkan, tentu tidak akan ada perselisihan tentang kapan terjadinya peristiwa isra’ dan mi’raj, dan para shahabat pun akan menjelaskan apa yang harus dilakukan. Sebab para shahabat telah menyampaikan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah tanpa dikurangi. Memang salah satu dari shahabat bisa kurang dalam menyampaikan sesuatu, tetapi tidak akan ada kesepakatan di antara shahabat untuk mengurangi ajaran Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itulah, hal yang terpenting yang menjadi alasan tidak perlunya ada peringatan adalah karena tidak adanya tuntunan dalam agama Islam. Rasulullah saw bersabda; “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan itu tertolak” (HR Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Kadang-kadang orang beralasan, apa jeleknya sih mengadakan peringatan isra’ mi’raj. Toh pengajian itu ada manfaatnya yang sangat besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan semacam ini adalah sebuah kerancuan dalam berfikir. Memang benar pengajian itu tidak ada jeleknya. Tetapi jeleknya adalah karena menyelisihi sunnah Rasulullah saw. Keyakinan adanya ajaran untuk memperingati hari-hari tertentu dalam islam adalah sebuah penyimpangan dari sunnah. Jika kebaikan bercampur dengan kejelekan, maka kaidah fiqih menyatakan; Menghindarkan keburukan harus didahulukan atas mendatangkan manfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Maknanya, jika dalam sebuah aktifitas terkandung kebaikan, tetapi juga ada sisi negatifnya, maka hendaklah aktifitas itu ditinggalkan. Memang ada manfaat, tetapi ada efek samping yang negatif. Islam mengajarkan agar amal itu tidak berefek negatif, sehingga jika suatu amal ada efek negatif harus dihentikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu kapan diadakannya pengajian? Nah, justru itulah yang harus difikirkan. Agar pengajian untuk masyarakat tidak hanya dilaksanakan dalam peringatan saja, tetapi justru harus dilaksanakan secara rutin dan berkala. Pengajian yang diselenggarakan dalam sebuah peringatan tentu tidak akan beranjak dari persoalan itu-itu saja. Mungkin hanya berbeda tinjauan dan cara menyampaikan. Sedangkan persoalan lainnya, tentang tafsir al-Qur’an, sejarah nabi, aqidah, akhlak dan yang lainnya, kapan mengajarkannya? [muslimdaily.net/lintastanzhim.wordpress.com]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alianoor.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alianoor.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alianoor.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alianoor.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alianoor.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alianoor.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alianoor.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alianoor.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alianoor.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alianoor.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alianoor.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alianoor.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alianoor.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alianoor.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alianoor.wordpress.com&amp;blog=7350621&amp;post=200&amp;subd=alianoor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alianoor.wordpress.com/2010/07/13/menimbang-peringatan-isra%e2%80%99-dan-mi%e2%80%99raj-ajaran-nabi-atau-ajaran-para-habaaib-ala-indonesia%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7124b114f506a075bfb77ba13e98b80?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alianoor</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
