Fiqh Munakahat ( Bagian 2 )

· Uncategorized
Penulis

TUNTUNAN SENGGAMA SUAMI ISTERI
MENURUT ISLAM

Hubungan antara suami-isteri merupakan hubungan paling istimewa dalam kehidupan seorang manusia. Mengingat hubungan tersebut berlandaskan cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Sebagaimana firman-Nya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Islam adalah agama komprehensif yang mengatur segala sisi kehidupan manusia. Tidaklah sekali-kali ajaran Islam mewanti-wanti akan sesuatu perkara kecuali perkara tersebut bermanfaat ataupun justru memadaratkan pelakunya. Darisinilah kemudian lahir sebutan halal dan haram. Syari’at tidak semata-mata mengharamkan sesuatu selain ia mengandung keburukan baik itu bagi pribadi pelakunya maupun bagi masyarakat sekitarnya. sebaliknya, Islam tidak menghalalkan sesuatu kecuali bermanfaat dan berfaedah bagi pelaku maupun masyarakat sekitarnya. Hanya, tidaklah Allah mengharamkan sesuatu perkara selain memang terdapat penggantinya yang diperbolehkan.

Ketika pernikahan disyari’atkan pada hamba-hamba-Nya, Ia memberikan pula petunjuk tentang apa yang mesti dilakukan dan apa juga yang mesti dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Hal ini tiada lain demi kebahagiaan kehidupan suami-isteri. Sebab, Allah telah memberikan fitrah yang luhur. Dengan fitrah itu pulalah kita bisa mengetahui mana perbuatan yang halal dan yang haram tersebut tanpa harus bersusah-payah. Namun pada jaman ini, berbagai modus kejahatan dan kebatilan di muka bumi kian tumbuh subur dan semakin merajalela. Bercampur-baurlah antara perkara yang halal dengan yang haram. Sebagian kalangan yang berpandangan ekstrem bahkan berani meski harus sampai mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Oleh sebab itu, umat Islam dalam hal ini dituntut untuk senantiasa mempelajari ilmu agama guna mendapatkan jawaban atas semua persoalan terlebih yang masih samar-samar hukumnya (baca: syubhât, Penj.). Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap umat Islam.”

Dalam soal hubungan seksual antara pasangan suami-isteri misalnya, ternyata masih banyak orang yang tidak mengetahui seluk-beluk hukumnya secara mendalam. Akibat ketidaktahuan ini, mereka terkadang cenderung menyederhanakan masalah (simplifikatif) dengan ceroboh menghalalkan yang dilarang maupun mengharamkan yang justru diperbolehkan.

ISLAM TIDAK MENGANGGAP JIJIK MASALAH SEKS

Sebagian orang memiliki prasangka keliru, bahwa ajaran Islam konon menganggap jijik soal hubungan seksual ini. Bahkan digolongkan sebagai perbuatan syetan (baca: dianggap najis). Islam adalah agama yang seimbang (wasath). Tidak berlebih-lebihan (ghuluw), tidak juga terlalu menyepelekan atau acuh tak acuh (tafrîth). Umat Islam merupakan umat pertengahan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’ân. Bagaimana mungkin sebuah ajaran yang sesuai fitrah menganggap kotor sesuatu yang sebenarnya merupakan bagian dari fitrah seorang manusia?
Hubungan biologis termasuk insting alamiah seorang manusia. Bahkan merupakan suatu keharusan dan kewajiban bersama terutama untuk memelihara keturunan (hifzh-u ‘l-nasl). Bagaimana bisa Islam menganggap kotor hal ini sementara Rasulullah Saw. sendiri menganggapnya sebagai ibadah? Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda: “Dalam tubuh kalian itu terdapat sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang di antara kami menyalurkan nafsu syahwatnya bagaimana mungkin perilaku tersebut sampai bisa mendatangkan pahala?” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian melakukannya dalam perkara yang diharamkan akan berakibat dosa? Demikian pula jika kalian melakukannya dalam perkara yang halal, ia berhak mendapatkan pahala.” Rasulullah menegaskan, seorang suami yang bersetubuh dengan isterinya, akan mendapatkan pahala dan ganjaran. Hubungan tersebut bukan saja merupakan perkara yang mubâh atau boleh saja. Lebih dari itu, termasuk ibadah dan sedekah.
Dengan demikian, Islam memandang hubungan seksual yang halal antara seorang suami dengan isterinya itu termasuk perkara yang justru dianjurkan dan terpuji. Perilaku tersebut tidaklah kotor terlebih digolongkan sebagai salah satu perbuatan syetan. Saat hendak bersetubuh, kita justru dianjurkan membaca basmalah dan berlindung dari syetan yang terkutuk (ta’awwudz). Dalam sebuah hadits dijelaskan: “Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi isterinya, hendaklah ia berdo’a: ‘Allâhumma jannibnâ ‘l-syaithânâ wa jannib-i ‘l-syaithânâ mâ razaqtanâ’ (Ya Allah, jauhkanlah godaan syetan dari kami dan jauhkanlah syetan dari apa-apa yang kelak engkau berikan kepada kami). Seandainya mereka kemudian mempunyai anak, maka ia akan dijauhkan dari godaan syetan.”

Islam justru mengajarkan, mendidik, dan mengarahkan insting biologis ini secara halal dan luhur. Sama sekali tidak menganggap jijik ataupun menyepelekan hal itu.

Bagaimana bisa Islam menyepelekan hubungan seksual ini sementara Rasulullah Saw. sendiri pernah bersabda: “Yang paling aku cintai dari duniamu adalah wewangian dan wanita. Hatiku merasa sejuk saat melakukan salat.”
Adalah fitrah seorang laki-laki mencintai seorang perempuan. Tidak ada seorang lelaki pun yang membenci lawan jenisnya atau membenci berhubungan dengan isterinya hanya dikarenakan rasa jijik ini.

Faedah Bersetubuh

1. Komentar Imam Ibnu Al-Qayyim (1292-1350 M./691-751 H.) tentang faedah bersetubuh: Dalam kitab, “Raudlat-u ‘l-Muhibbain” (Surga Dua Pasangan Kekasih), beliau berkomentar: “Nabi Saw. menegaskan agar mempergunakan obat ini (bersenggama atau bersetubuh) dan bahkan menganjurkannya. Terdapat pahala di dalamnya, dan menjadikan sedekah bagi para pelakunya. Inilah kenikmatan sempurna, dan kebajikan paripurna bagi seorang isteri karena dijamin mendapatkan ganjaran, pahala sedekah, membahagiakan batin, menghilangkan pikiran-pikiran sumpek, menentramkan hati, meredakan emosi, memperoleh ketenangan jasmaniah, meredakan kegundahan, menyehatkan, dan mencegah zat-zat makanan dalam tubuh yang merusak. Janganlah engkau kurangi kenikmatan ini sehingga seluruh anggota tubuh bisa menikmati kelezatan itu. Kelezatan pandangan saat memandangi pasangannya, kelembutan pendengaran dengan kata-kata mesra, penciuman hidung dengan aroma wangi, mulut dengan menciumnya, dan tangan dengan menyentuhnya. Apabila salah satu dari itu semua hilang, maka jiwa sama sekali tidak akan mendapatkan ketenangan sedikitpun. Selamanya hati tidak akan tentram. Demikianlah kenapa seorang isteri dikatakan sebagai penyejuk jiwa. Allah Swt. berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”

2. Komentar Imam Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111M./450-505 H.): Dalam komentarnya seputar kewajiban memperbanyak dan melestarikan keturunan (hifzh-u ‘l-nasl) dan menjauhkan diri dari perbuatan haram yang termasuk faedah nikah, beliau berkata: “Menurut hemat saya, dalam pemuasan nafsu syahwat itu terdapat hikmah lain. Terlebih berkaitan dengan soal kelezatan yang notabene tidak tertandingi kelezatan lain yang pernah ada. Ia merupakan cermin kenikmatan yang dijanjikan Tuhan di surga. Anjuran untuk menikmati kelezatan ini bukanlah sebuah pengalaman tanpa makna. Seandainya bersetubuh diperintahkan pada orang impoten (yang lemah secara seksual) untuk merasakan kenikmatan bersetubuh ini atau menganjurkan seorang anak kecil dalam menikmati nikmatnya kekuasaan, maka anjuran itu sedikitpun tidak memiliki makna. Salah satu faedah kelezatan dunia itu di antaranya untuk merangsang kita agar melanggengkannya (nikmat yang sama, Penj.) kelak di surga…”

3. Meningkatkan Kedewasaan dan Sensitifitas Emosional bagi Pasangan Suami-Isteri. Saat menerjemahkan buku “Tuhfat-u ‘l-‘Arûs” (Persembahan buat Pasangan Pengantin) yang merupakan terjemahan dari bahasa asing, Profesor Mahmud Al-Istanbuli berkomentar (terjemahannya): “Hubungan seksual yang harmonis mampu meningkatkan sensitifitas dan kepekaan emosional bagi pasangan suami isteri. Saling memperhatikan dan saling menyayangi satu sama lain secara fisiologis, melupakan kesusahan hidup sekalipun hanya untuk sementara waktu, serta memberikan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Mampu memelihara kecantikan kedua pasangan itu dalam batas waktu yang sangat memungkinkan, terutama yang berhubungan dengan aktivitas seksual yang merupakan pelengkap dan ekspresi puncak rasa cinta. Semua itu akan menjadikan kita selalu terjaga dari rasa frustasi dalam memenuhi hasrat biologis ini. Sebab, keharmonisan (al-insijâm) dan saling pengertian (al-tawâfuq) merupakan impian setiap wanita yang paling mendasar. Karenanya, hendaklah kalian mencurahkan segala daya dan upaya untuk mencapai keduanya dengan cara bekerja sama dan saling terbuka satu sama lain.”

Kemudian, Syekh Saleh Abu Bakar Al-Warraq berkomentar: “Setiap nafsu syahwat itu dapat mengeraskan hati, kecuali syahwat seksual yang justru akan menjernihkannya. Karena itulah para nabi melakukannya. Dalam sebuah hadits dinyatakan, ‘Cintailah kenikmatan dunia yang baik dari seorang isteri. Jadikanlah ia sebagai penyejuk hati saat melakukan salat.

Etika Bersetubuh

1. Mulailah dengan Kata-kata Canda dan Mesra.

Adalah suami yang tidak romantis manakala ia bersetubuh dengan isterinya tanpa pendahuluan apa-apa. Padahal, seorang isteri adalah makhluk yang mempunyai perasaan sensitif. Ia sangat benci jika hanya dijadikan sebagai tempat melampiaskan hawa nafsu belaka. Ia justru membutuhkan pujian, kelembutan, kata-kata canda dan mesra. Ia juga menginginkan cumbu rayu, tatapan penuh kasih sayang, dan ciuman hangat. Ibnu Al-Qayyim (1292-1350 M./691-751 H.) dalam hal ini berkomentar: “Sebelum bersetubuh, hendaknya sang suami bercanda terlebih dahulu dengan isterinya; menciumnya, dan mempermainkan lidahnya.” “Rasulullah Saw. juga sering mencium Aisyah dan memutar-mutar lidahnya.”
Dalam hadits yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah, Rasulullah bahkan memperingatkan: “Rasulullah melarang bersetubuh sebelum bercanda terlebih dahulu.” Dalam hadits lain ditegaskan: “Hendaknya seseorang di antara kalian tidak menyetubuhi isterinya sebagaimana persetubuhan binatang. Hendaklah ada perantara di antara keduanya.” Beliau pun ditanya, “Apakah yang disebut perantara itu?” Beliau menjawab, “Ciuman (al-qublah) dan kata-kata mesra (al-kalâm).” Rasulullah juga bersabda: “Tiga perkara yang merupakan kelemahan seorang lelaki (beliau diantaranya menyebut); seorang suami yang mendekati isterinya lalu langsung melakukannya (menyetubuhinya) sebelum berbincang-bincang, merayunya, dan memanjakannya terlebih dahulu. Ia langsung melampiaskan hasrat pada isterinya sebelum sang isteri tertutupi hasratnya darinya.”

2. Mulailah dengan Ucapan Basmalah dan Berdo’a.
Sebelum mulai bersetubuh, kita selanjutnya dianjurkan untuk membaca basmalah dan berdo’a terlebih dahulu. Dalam sebuah hadits ditegaskan: “Apabila seseorang di antara kalian menyetubuhi pasangannya, hendaklah berdo’a, ‘Allahumma jannibnâ ‘l-syaithânâ wa jannib-I ‘l-syaithânâ mâ razaqtanâ’ (Ya Allah, jauhkanlah syetan dari kami berdua dan jauhkan pula ia dari apa yang kelak kau berikan kepada kami; maksudnya anak, Penj.). Apabila keduanya kelak melahirkan seorang anak, maka ia tidak akan digoda oleh syetan.” Bagi seorang pengantin yang hendak menyetubuhi isterinya, hendaklah ia terlebih dahulu mengelus dahi isterinya dan berdo’a dengan do’a yang disebutkan dalam sebuah hadits Nabi Saw.: “Apabila seseorang di antara kalian hendak menyetubuhi isterinya, maka eluslah dahinya, bacalah basmalah, harapkanlah keberkatan, dan berdo’alah, ‘Allahumma innî as-‘aluka khaira-hâ wa khaira mâ jabalat-hâ ‘alaihi wa a’ûdzubi-ka min syarri-hâ wa syarri mâ jabalat-hâ ‘alaihi’ (Ya allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan darinya dan kebaikan apa yang kelak dikandungnya. Aku juga berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang kelak dikandungnya).” Setelah kemudian ia menyetubuhinya, maka pada saat hendak keluar air mani, hendaklah ia berdo’a dalam hatinya:

“Alhamdulil-Lâh al-ladzî khalaqa min-a ‘l-mâ-i basyar-an fa ja’alahu nasab-an wa shihr-an wa kâna rabbuk-a qadîr-an (Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan beranak-pinak dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa).”

3. Hendaknya Tidak Menyetubuhi Isteri Dalam Keadaan Masih Berpakaian.

Syarih Manzhumah bin Yamun berkata: “Beliau (Manzhumah bin Yamun) memberitahukan –semoga Allah merahmatinya—bahwasannya termasuk salah satu etika bersetubuh jika sang suami tidak menyetubuhi isterinya sementara dia masih berpakaian lengkap. Seyogianya (bersetubuh) dilakukan setelah semua pakaian terlepas lalu tidur bersamanya dalam satu selimut ( ruang tertutup ). Sebab, termasuk sunnah, bersetubuh tanpa pakaian yang menempel di badan…Terlepasnya pakaian di saat tidur memiliki banyak faedah di antaranya, untuk menuaikan badan dari panasnya udara di siang hari, mudahnya berganti posisi ke arah kiri dan kanan, serta dapat mendatangkan kebahagiaan karena mampu menambah kenikmatan…”

4. Hendaknya Tidak ejakulasi dulu Sebelum Sang Isteri Mencapai Klimaks.

Imam Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111M./450-505 H.) dalam kitab “Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn” berkata: “Apabila sang suami mencapai orgasme, hendaknya ia memperhatikan juga saat-saat orgasme pasangannya. Sebab, orgasme seorang wanita itu biasanya lebih lama daripada seorang laki-laki hingga sang suami mampu merangsangnya. Menyetubuhinya dalam keadaan tidak terangsang tentu akan menyakitkan baginya. Soal ketidakpuasan orgasme ini kerap mengundang pertengkaran. Sekalipun kebanyakan suami tetap bisa menikmati puncak orgasmenya itu. Sama-sama keluar dengan berbarengan, merupakan cara yang paling nikmat baginya. Namun sang suami kebanyakan tidak memedulikan hal ini. Sementara sang isteri, merasa malu untuk mengungkapkannya.”
Adapun di antara tanda-tanda orgasme seorang wanita ialah jika berkeringat kedua dahinya atau memeluk erat suaminya, serta jika ia mulai menggelinjang-gelinjang.

5. Hendaknya Mandi atau Berwudlu Jika Hendak Mengulangi Persetubuhan.

Ajaran Islam menganjurkan bagi orang yang hendak menyetubuhi isterinya kemudian bermaksud untuk mengulanginya lagi, agar berwudu terlebih dahulu. Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian menyetubuhi isterinya kemudian hendak mengulanginya lagi, sebaiknya keduanya berwudlu satu kali, karena hal itu akan mengembalikan kekuatan.”
Inilah yang sering dilakukan Rasulullah saat beliau menggilir isteri-isterinya pada suatu waktu. Beliau selalu mandi setelah itu. Abu Rafi’ berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak cukup dengan satu kali mandi saja?” Beliau menjawab, “Karena lebih bersih, lebih harum, dan menyucikan.”

Mandi setelah bersetubuh hukumnya wajib. Mereka disyaratkan agar membersihkan badannya. Namun kewajiban ini tidak perlu dilakukan segera (langsung setelah bersetubuh, karena bersuci ini dilakukan jika hendak salat, Penj.). Karenanya, hukumnya boleh jika setelah bersetubuh ia tidur terlebih dahulu kemudian bangun sebelum shubuh lalu mandi dan berwudu untuk menunaikan shalat. Yang lebih utama memang mandi sebelum tidur atau berwudu dulu kemudian tidur. Terlebih jika dalam perkiraanya, ia tidak akan kuat mandi pada waktu pagi sebelum subuh tiba. Dengan begitu, maka ia tidak akan malas untuk mengerjakan salat tepat pada waktunya.

Aisyah pernah ditanya tentang hal itu: “Bagaimana yang dilakukan Rasulullah saat junub? Apakah beliau mandi sebelum tidur? Ataukah tidur dulu kemudian mandi?” Aisyah menjawab, “Semua itu pernah dilakukan Nabi. Terkadang mandi kemudian tidur, atau berwudu dulu kemudian tidur.” Sebagaimana diketahui, Rasulullah sering bangun malam untuk melaksanakan salat tahajjud hingga kemudian tiba waktu subuh. Dalam selang waktu itu terdapat waktu yang cukup untuk mandi. Sementara kita, seandainya tidak mandi terlebih dahulu sebelum tidur, dikhawatirkan malas bangun malam dan mandi di malam hari hingga akhirnya waktu salat subuh terlewatkan. Apabila kita merasa sering berbuat demikian, sebaiknya kita mandi terlebih dahulu sebelum tidur.

6. Hendaknya Sang Isteri Berhias dan Memakai Wangi-Wangian.

Etika selanjutnya dalam bersetubuh adalah berhias dan mempercantik diri bagi sang isteri sesuai yang dikehendaki oleh suaminya sehingga dapat membangkitkan gairah kelelakian sang suami.

Ali bin Abu Thalib Ra. berkata: “Sebaik-baik wanita di antara kalian adalah yang berbau wangi dan harum masakannya. Apabila ia memberi, maka memberi penuh arti. Dan jika ia menolak, maka menolak sepenuh hati…”
Aisyah Ra. berkata: “Kami senantiasa memoles dahi kami dengan wangi-wangian…apabila salah seorang di antara kami berkeringat, maka melelehlah (wangi-wangian itu) ke wajah-wajah kami dan hal itu pernah dilihat oleh Nabi Saw. namun beliau tidak melarangnya.”

Begitu pula bagi seorang suami. Hendaknya ia juga bisa tampil mengesankan di depan isterinya. Ibnu Abbas dalam hal ini berkata: “Sesungguhnya aku senantiasa tampil mengesankan di depan isteriku, sebagaimana aku juga senang saat ia tampil cantik di depanku.”
Apabila sang isteri melihat suaminya tampak berantakan, hendaklah ia segera merapikannya. Terlebih mendapatkan baju suaminya itu lusuh dengan rambutnya yang acak-acakan. Rapihkanlah pakaiannya dan tatalah rambutnya serapih mungkin, sehingga ia bisa tampil bersih di depanmu. Dengan begitu, sang suami akan semakin menyayangi dan merasa berhutang budi atas segala apa yang diperbuatnya untuk sang raja. Tentu, dengan penuh curahan kasih dan sayang.

Sebagian ulama berpendapat, makrûh hukumnya apabila seorang suami menyetubuhi sang isteri tanpa kemauan dan kehendak tulusnya. Demikian pula menyetubuhi isterinya di saat ia tidak mau. Sebab, memaksa untuk menyetubuhi sang isteri yang sedang tidak enak hati, justru malah menyakiti dirinya. Perilaku demikian akan membuat sang isteri benci terhadap suaminya.

Menurut seorang psikolog kenamaan, Watson, hubungan biologis tidak disangsikan lagi merupakan urusan paling mendasar dalam kehidupan berumah tangga. Persoalan inilah yang selanjutnya akan menentukan bahagia atau tidaknya kehidupan berumah tangga, baik bagi suami maupun isteri.

Hubungan biologis tidaklah bisa dipaksakan atau dilakukan dengan tanpa sepenuh hati. Hal itu jelas tidak bisa diterima akal sehat. Namun, kebutuhan seksual ternyata kerap mendesak sang suami untuk tetap melakukannya. Terlebih godaan syahwat dewasa ini semakin merajalela. Sementara di pihak lain, pada saat yang sama sang isteri terkadang tengah tidak stabil emosinya. Lantas, apa yang semestinya dilakukan oleh sang suami? Harus kemana lagi ia menyalurkan syahwat biologisnya selain kepada isterinya sendiri? Dari sinilah ajaran Islam tetap mewajibkan seorang isteri untuk tetap memenuhi ajakan bersetubuh dari suaminya tersebut. Berdasarkan sebuah hadits sahîh: “Demi diriku yang berada dalam genggaman-Nya, tidaklah seorang suami mengajak isterinya untuk bersetubuh kemudian isterinya menolak ajakannya tersebut hingga sang suami tertidur dalam keadaan menggerutu kepadanya, maka malaikat akan melaknatnya hinga tibanya waktu pagi.”

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak isterinya bersetubuh, maka penuhilah keinginannya sekalipun terasa terbakar (Maksudnya: di atas tungku perapian).”
Hal di atas disebabkan manakala sang suami melihat sesuatu yang membangkitkan nafsu birahinya, sang isteri wajib memadamkannya. Saat itulah bersetubuh dengan isterinya merupakan upaya efektif dalam meredakan syahwatnya yang tengah menggebu-gebu itu sehingga akhirnya sang suami dapat menghalau pikiran-pikiran jahat dari dalam dirinya.

Dalam sebuah hadits ditegaskan: “Sesungguhnya bagian depan seorang perempuan itu sosok syetan, demikian bagian belakangnya (juga) merupakan gambar syetan. Apabila seseorang melihat seorang perempuan (Maksudnya: hingga membuat hatinya berdebar-debar), maka bersegeralah ia menyetubuhi isterinya, karena hal itu akan menghalau gejolak birahi dalam dirinya.”
Hendaklah sang isteri mengetahui secara mendalam seputar hal ini. Menjadi tugas mereka berikutnya untuk bisa memadamkan gejolak birahi sang suami dari berbagai godaan syahwat yang dewasa ini semakin merajalela. Bahkan kerap disuguhkan hampir di setiap siang dan malam hari.

Dalam hal ini Nabi Saw. memperingatkan kita dari godaan syahwat kaum wanita yang tergolong raja dari segala godaan (ummul fitan). Beliau bersabda: “Waspadailah (godaan) dunia, waspadai pula (godaan) kaum wanita, karena sesungguhnya godaan pertama yang menghancurkan kaum Bani Israil tiada lain adalah godaan kaum wanita.”

Dalam hadits lain beliau juga bersabda: “Tidak aku tinggalkan setelah jamanku sebuah cobaan yang paling berbahaya bagi kaum laki-laki selain (godaan) kaum wanita.”

Pada dasarnya, stabilitas emosi sang isteri memang merupakan persoalan yang teramat penting untuk diperhatikan sebelum akhirnya menyetubuhinya. Namun, di sisi lain ajaran Islam justru mewajibkan pada seorang isteri untuk senantiasa memenuhi hasrat biologis sang suami terlebih saat ia menginginkannya. Hal ini tiada lain untuk menjauhkan dirinya dari segala godaan.

Seorang isteri setidaknya bakal mampu untuk lebih menstabilkan diri dan meredam emosinya hingga ia bisa memenuhi hasrat biologis suaminya dengan penuh kenikmatan. Dengan sendirinya sang isteri akan merasa tentram, begitu pula dengan suaminya. Namun seandainya hal itu tidak dilakukan, maka sama saja dengan menantang murka Allah karena selanjutnya bisa menyebabkan sang suami terjerumus pada godaan yang tidak diketahui kemadaratannya selain oleh Allah sendiri. Ini pulalah yang barangkali menjadi salah satu faktor penyebab kian merajalelanya berbagai bentuk kemaksiatan di belahan dunia Barat.

Syekh Muhammad Al-Ghazali (1917-1996 M./1335-1416 H.) –rahimahullah—pernah berkomentar: “Saya pernah membaca sebuah berita yang sama sekali tidak masuk akal; seputar hukuman bagi seorang suami yang ‘dituduh’ memperkosa isterinya. Saat saya bertanya kepada sahabat-sahabat saya, mereka hanya menjawab, ‘Itulah yang terjadi di Amerika.’ Saya lalu kembali mengamati surat kabar itu seraya berkata, ‘Apakah benar hal itu tidak boleh dilakukan di Amerika sana!’ Hubungan seksual suami isteri yang jelas-jelas sah malah dianggap sebagai sebuah kejahatan? Jika demikian adanya, maka timbul persoalan, seandainya sang isteri jelek perangainya (baca: pembangkang) maka pada saat birahi si suami benar-benar terangsang, kemanakah lagi ia harus pergi untuk menyalurkan syahwatnya? Apakah ketika sang suami menginginkan untuk bersetubuh dengan isterinya namun ditolak, dan jika ia terus memaksa isterinya, apakah isterinya itu berhak melapor kepada polisi? Jenis kriminal apakah yang akan dituduhkan sang isteri pada suaminya itu? Apakah termasuk jalan keluar yang terpuji seandainya menyuruh sang suami untuk menyalurkannya pada seorang pelacur?”

Dalam sebuah hadits ditegaskan: “Apabila salah seorang di antara kalian tertarik oleh seorang perempuan hingga membuat gundah hatinya, maka bersegeralah menemui isterinya dan bersetubuhlah dengannya karena hal itu akan memadamkan gejolak yang tengah membakar dirinya.”
Jelaslah, perempuan Muslimah dewasa ini benar-benar tertuntut untuk bisa meredam berbagai gejolak syahwat yang tengah dipertontonkan peradaban manusia kini terutama dalam mengeksploitasi hubungan seksual secara bebas dan liar.

Waktu Yang Tepat Bersetubuh

1. Bersetubuh boleh dilakukan kapan saja, baik malam maupun siang hari. Tidak ada satupun keterangan yang mengharamkan bersetubuh pada saat-saat tertentu. Namun, ada juga yang berpendapat, bersetubuh itu hukumnya makrûh jika dilakukan di penghujung malam. Pertimbangannya barangkali karena dikhawatirkan seandainya waktu untuk menunaikan salat subuh terlewatkan. Ada juga yang menganggap makrûh bersetubuh setelah tidur karena bau aroma mulut yang tidak sedap akan mengakibatkan kurang nikmatnya bersetubuh.

2. Dianjurkan agar bersetubuh dilakukan pada malam Jum’at. Sebab, malam tersebut merupakan malam yang paling mulia. Dijelaskan dalam sebuah hadits: “Allah memberi rahmat pada orang-orang yang bersetubuh kemudian mandi.” Dalam hadits lain, Nabi Saw. bersabda: “Apakah memberatkan seandainya kalian bersetubuh dengan isteri kalian setiap hari Jum’at. Sebab di dalamnya terdapat dua pahala ganda. Pahala mandinya, dan satu pahala (lagi) dari mandi isterinya.”

3. Ada juga yang berpendapat makrûh bersetubuh di saat lapar dan ketika kekenyangan oleh berbagai makanan. Kesimpulannya, bersetubuh itu boleh dilakukan kapan saja semaunya selama sang isteri memang bersih dari haid dan nifas, juga tidak mengakibatkan waktu salat luput. Misalnya, waktu salat tertinggal gara-gara waktunya tersita bersetubuh dan mandi.

4. Seorang suami boleh mencium istrinya meski di saat berpuasa. Tidak ada larangan apapun untuk melakukannya. Bahkan sebagian ulama ada yang menganggapnya sebagai sunnah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Ra.: “Bahwasannya Rasulullah Saw. pernah menciumnya sementara beliau sedang berpuasa.” Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah Al-Makhzumi, beliau pernah bertanya kepada Rasulullah Saw.: Apakah orang yang sedang berpuasa boleh mencium?” Nabi menjawab, ‘Tanyakanlah pada dia, yaitu pada Ummu Salamah (salah seorang isteri Nabi, Penj.).’ Beliau pun memberitahukan bahwasannya Nabi pernah melakukannya. Umar pun langsung membantah, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang.’ Rasul pun kembali menjawab, ‘Demi allah, sesungguhnya akulah orang yang paling takut kepada Allah daripada kalian.” Artinya, hal itu tidak terlarang jika dilakukan. Hukumnya halal. Bahkan hal itu pernah dilakukan Rasulullah Saw. yang notabene orang yang paling takut kepada Allah daripada kita bahkan umat Islam secara keseluruhan.

Imam Ibnu Hazm (994-1064 M./384-456 H.) membantah dalil-dalil yang menganggap makrûh jika seseorang mencium isterinya sementara ia sedang berpuasa. Beliau juga membantah sebagian ulama yang mengkhususkannya hanya berlaku bagi orang yang sudah tua dan tidak diperkenankan bagi yang masih muda belia, dan juga pendapat-pendapat lainnya. Beliau membantah semua dalil mereka yang berpendapat tentang semua itu. Yang benar dan berdasarkan contoh yang sahîh dari Rasulullah sendiri, bahwa hal itu tidaklah terlarang. Bahkan cenderung termasuk sunnah yang dianjurkan. Beliau berkata: “…tampaklah kelemahan pendapat yang membedakan pembolehannya antara orang tua dan orang yang masih muda. Lemah pula alasan orang yang berpendapat bahwa hal tersebut hukumnya makrûh. Yang sahîh, hal tersebut justru kebajikan yang dianjurkan (mustahabbah). Termasuk salah satu sunnah dari sunnah-sunnah Nabi dan termasuk cara untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah karena telah dianggap mengikuti jejak Rasul berdasarkan apa yang telah disabdakannya.”

Suami Melihat Kemaluan Isteri Atau Sebaliknya

Secara umum persoalan-persoalan seputar hak wanita ini memang banyak terabaikan dalam berbagai kajian buku-buku yang ditulis umat Islam selama ini. Tak jarang yang mereka sodorkan adalah hadits-hadits yang lemah (dla’îf), bahkan terkadang kedudukannya maûdlu’ ketimbang mendahulukan hadits-hadits yang sahîh.
Adapun dalam masalah seorang suami yang melihat, menyentuh, dan meraba-raba aurat, mencium kemaluan isterinya ataupun sebaliknya, sang isteri melihat kemaluan suaminya, adalah termasuk di antara hal-hal yang diperbolehkan (mubâh). Sebab, dalam persoalan-persoalan yang tidak terdapat dalil yang sahîh dari Rasulullah Saw., maka persoalan itu hukum asalnya adalah mubâh (boleh). Itulah dasar dalam beribadah sebagaimana yang ditegaskan para ulama ushûl fikih.

Adapun dalil orang-orang yang mengatakan bahwa hal tersebut hukumnya haram dan makrûh itu, diantaranya berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

1. Diriwayatkan dari Aisyah, “Aku tidak pernah melihat (kemaluan) Rasulullah, tidak juga Rasul melihat (kemaluan)-ku,” (HR. Ibnu Mâjah). Hadits ini lemah dan gugur.

2. Dari Nabi Muhammad Saw. bahwasannya beliau pernah bersabda, “Melihat kemaluan itu menyebabkan haid.” Hadits ini Palsu (maudlû’). Ibnu Al-Jawzi mencantumkan hadits tersebut dalam kitabnya, “Al-Maudlû’at”. Hadits ini dianggap lemah juga oleh yang imam-imam yang lainnya.

3. Sabda Rasulullah Saw., “Apabila salah seorang di antara kalian menyetubuhi isterinya, maka tutuplah semampunya. Tidak boleh keduanya telanjang (baca: tertutupi).”

Hadits ini riwayat Ibnu Majah dalam kitab Nikah (Nomor hadits: 1921). Dalam kitab “Al-Zawâ-id”, Imam Al-Bushairi melemahkannya. Imam Al-Hafidz Al-Iraqi juga turut melemahkannya karena dianggap sanad-nya lemah. Dalam kitab “Irwâ-u l-Ghalîl” (No. hadits: 2009), Imam Al-Bani menganggap kedudukan hadits tersebut lemah.

4. Sabda Rasulullah Saw., “Apabila salah seorang di antara kalian menyetubuhi isterinya, maka janganlah melihat kemaluannya, karena akan menyebabkan buta.” Hadits ini maudlû’ dan gugur. Ibnu Hibban berkata, “Hadits ini tertolak (munkar) yang tidak ada asalnya.”

Dengan begitu, gugurlah semua pendapat yang disandarkan pada hadits-hadits di atas. Adapun bagi sebagian para ulama yang menganggap makrûh, Ibnu Hazm (994-1064 M./384-456 H.) membantahnya dengan penjelasan: Halal bagi seorang suami melihat kemaluan perempuan miliknya, baik isteri maupun hamba sahaya yang halal untuk disetubuhi. Demikian juga (halal) bagi keduanya untuk melihat kemaluan suaminya. Menurut hukum asalnya, perilaku tersebut tidaklah dipandang makrûh. Alasannya tiada lain hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Aisyah, Ummu Salamah, dan Maimunah (ummahât-u ‘l-mu’minîn atau ibu-ibu kaum mukmin –semoga Allah meridlai mereka), bahwasannya mereka pernah mandi bareng dengan Rasulullah Saw. dari satu bejana yang sama. Dalam hadits riwayat Maimunah bahkan dijelaskan, bahwa Nabi Saw. tidak memakai kain sarung. Dalam hadits tersebut, Nabi diceritakan mencelupkan tangannya ke bejana air, kemudian beliau membersihkan kemaluannya dan mencucinya dengan tangan kirinya. Setelah semuanya jelas, maka gugurlah semua orang yang masih memegang pendapat salah seorang ulama di atas. Adalah ironi jika sebagian orang-orang yang masih tertutup (muttakifîn) yang berpegang teguh pada asas kejahilan, memperbolehkan menyetubuhi kemaluan namun terlarang untuk melihatnya. Cukuplah dalil untuk persoalan ini firman Allah Swt., “…dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” Allah memerintahkan kepada kita agar selalu memelihara kemaluan, selain pada isteri dan hamba sahaya yang dimiliki. Tidak ada pembatasan dalam hal ini, ayat tersebut bersifat umum baik melihat, menyentuh, dan menggaulinya. Penulis tidak mengetahui hujjah para penentang pendapat ini selain didasarkan pada beberapa atsar yang lemah. Diriwayatkan dari salah seorang isteri Nabi (ummul mukminîn) yang tidak disebutkan orangnya (majhûlah), “Aku tidak pernah melihat kemaluan Rasulullah Saw. sedikitpun.” Atsar ini lebih lemah lagi ketika diriwayatkan juga oleh Abu Bakar bin Iyasy dan Zuhair bin Muhammad, keduanya adalah hamba sahaya Malik bin Abu Sulaiman Al-‘Arzami. Mereka bertiga cukup dikenal sebagai tiga serangkai penghasut (al-âtsâfî) dan pendeta-pendeta yang membelot (al-dayyâr al-balâqi’). Salah seorang di antara mereka saja agaknya cukup untuk melemahkan sanad hadits tersebut. Bukan Ibnu Hazm saja yang berpendapat demikian. Pendapat ulama jumhûr pun persis sama. Imam Ashnaf dan Hanbali pun cenderung membolehkan seorang suami melihat kemaluan isterinya, demikian pula sebaliknya. Sebagian di antara mereka bahkan ada yang sampai berpendapat: “Melihatnya bahkan lebih utama (dianjurkan) di saat hendak bersetubuh… diperbolehkan menyentuhnya baik dengan syahwat maupun tidak…”

Para pengikut madzhab Imam Malik berpendapat, “makrûh jika melihatnya sampai ke dalam, hanya diperbolehkan melihat luarnya saja.” Sedikitpun tidak terdapat seorang ulama pun yang mengharamkan hal tersebut.
Dalam kitab “Fath-u ‘l-Bârî”, Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani (773-852 H.) memberi komentar atas hadits Abû Dâwûd sebagai berikut: “Jagalah auratmu selain kepada isterimu atau hamba sahaya yang telah menjadi milikmu.” [Adapun makna perkataan Nabi dengan isterimu, tiada lain isyarat bolehnya sang isteri melihat kemaluan suaminya, dan menjadi hukum qiyâs (analogi) jika sang suami juga boleh melihat aurat isterinya].

Diriwayatkan dari Abu Yusuf, aku pernah bertanya kepada Imam Abu Hanifah seputar seorang suami yang menyentuh kemaluan istrinya, sebaliknya ia juga menyentuh kemaluan suaminya guna membangkitkan birahinya, apakah hal itu perbuatan dosa?! Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan aku berharap agar dalam hal itu pahalanya berlipatganda.”

Haramnya Menyetubuhi Isteri Yang Sedang Haid dan Nifas
Diharamkan bagi seorang suami menyetubuhi isterinya yang sedang haid berdasarkan firman Allah Swt.: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” Anas bin Malik, Ra., berkata: “Adalah kebiasaan orang-orang Yahudi apabila isterinya haid mereka tidak diberi makanan dan tidak menggaulinya di dalam rumah-rumah mereka. Para sahabat menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Allah kemudian menurunkan ayat, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang haid…’. Rasulullah bersabda, ‘Berbuatlah semaunya kecuali bersetubuh…”

Rasulullah Saw. menegaskan, seorang perempuan yang sedang haid itu boleh digauli selain bersetubuh. Terlebih memberinya makan, memperlakukannya secara baik, dan bergaul bersamanya sebagaimana biasa. Dalam praduga sebagian orang, barangkali maksud dari ayat, “Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid,” seolah menunjuk ketidakbolehan dalam menyentuh dan memperlakukan mereka.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata: “Tatkala Rasulullah Saw. berada di dalam masjid, ia berkata: ‘Wahai Aisyah, ambillah untukku baju itu.’ Aisyah menjawab, ‘Saya sedang haid.’ Beliau pun bersabda, ‘Itu adalah haidmu dan bukan tanganmu.”

Para fukaha telah bersepakat (ijmâ’/konsesnsus), bahwa menyetubuhi isteri yang sedang nifas itu hukumnya haram. Hal ini diqiyâskan kepada haid. Allah mengharamkan bersetubuh di saat haid dan nifas, tentunya dengan hikmah yang sangat jelas. Terlebih dalam mencegah penyakit berbahaya yang diakibatkan bersetubuh pada masa itu. Sebuah penyakit yang berbahaya yang kerap diperingatkan para dokter.

Dr. Hamid Al-Ghawabi berkata: “Sungguh jelas, vagina seorang wanita saat itu kerap mengeluarkan cairan khusus. Cairan ini mengandung zat asam reaktif yang terdiri dari zat asam leavenic. Cairan ini akan mencegah tumbuhnya bakteri-bakteri (di dalam rahim). Apabila zat ini kemudian menjadi semacam zat alkali atau setengah bereaksi, maka bakteri-bakteri yang merusak yang menempel serta membahayakan vagina dan rahim itu dapat dihilangkan. Kotoran tersebut mengalir dalam seluruh alat kelamin wanita. Adanya darah pada saat haid, menjadi pembasmi zat asam ini hingga tidak sampai menjadi zat alkali yang terus tumbuh berkembang hingga menjadi bakteri yang membahayakan. Pada saat bersetubuh, bakteri-bakteri yang berbahaya itu akan terus mengalir di dalam lorong kemaluan, terkadang juga mengalir melalui kandung kemih, dua payudara, atau melalui prostat, dua biji kemaluan, maupun alat anggota reproduksi lainnya. Zat inilah yang sering menyebabkan sakit saat kencing, bahkan tak jarang menyebabkan kemandulan.” Zat ini bukan saja bahaya bagi pihak lelaki saja, tetapi juga bagi perempuan. “Hubungan seksual merupakan cara effektif dalam menularkan kuman (microbic) yang merupakan bagian dari bakteri-bakteri yang ada di dalam vagina wanita itu. Tengah-tengah lubang vagina di saat haid dapat mempersubur pertumbuhannya…Sehingga, dapat menginfeksi seluruh alat reproduksi dan terkadang dapat mengakibatkan kemandulan.” Karenanya, ditegaskan dalam sebuah hadits: “Terlaknat orang yang menyetubuhi orang haid atau (menyetubuhi) seorang perempuan dari duburnya (baca: anus).”

Diperbolehkan bagi seorang suami untuk menggauli isterinya yang sedang haid selain apa yang tertutupi kain. Yaitu, selain apa yang terletak antara pusar dan lutut. Diriwayatkan dari Maimunah Ummul Mukminin, ia berkata: “Adalah Nabi Saw. apabila hendak menggauli salah seorang isteri dari isteri-isterinya, ia menyuruhnya agar memakai kain sementara ia sedang haid.” Demikian pula dengan pendapat kebanyakan para ulama yang membolehkan suami menggauli isterinya yang sedang haid, selain pada kemaluannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw., “Perbuatlah segala sesuatu kecuali bersetubuh.” Menurut riwayat dari salah seorang isteri Rasulullah Saw., disebutkan: “Adalah Rasulullah Saw. ketika beliau menginginkan sesuatu dari isterinya yang sedang haid, maka ia mengenakan padanya kain penutup pada kemaluannya.”

Berikut ini pendapat Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan yang lainnya: “Apabila isteri telah suci dari masa haidnya, maka mandilah! Mulai dari saat itulah diperbolehkan bagi seorang suami untuk menyetubuhinya, menunaikan salat, berpuasa, dan halal pula apa yang diharamkan bagi orang yang haid. Akan tetapi jika sang suami benar-benar menyetubuhi isterinya yang sedang haid sungguh merupakan dosa besar. Tetapi, apakah dalam kasus tersebut ia mesti menunaikan kaffârat (bayar denda/sanksi) ataukah cukup sebatas memohon ampunan dan bertaubat secara benar-benar? Dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang paling kuat adalah pendapat ulama jumhûr. Yaitu, cukup hanya dengan taubat dan istighfar, serta tidak mengulangi perbuatan yang sama selamanya. Sementara pendapat yang lainnya mengatakan, di samping mesti bertaubat dan beristighfar, juga disyaratkan untuk membayar sedekah sebesar satu atau setengah dinar.”
Imam Nawawi menjelaskan: “Barangsiapa yang meyakini halalnya menyetubuhi orang yang sedang haid melalui kemaluannya, maka ia tergolong kafir yang murtad, adapun mengerjakannya padahal ia sebenarnya mengetahui bahwa hal itu diharamkan, maka ia benar-benar telah berbuat dosa besar.”

Haramnya Menyetubuhi Isteri Melalui Dubur

Agaknya sulit diterima akal sehat jika orang normal yang tidak mengalami kelainan jiwa sampai bisa melakukan praktik ini. Sungguh menyetubuhi isteri melalui duburnya itu bertentangan dengan fitrah manusia. Perilaku tersebut tidaklah manusiawi (baca: hewani, Penj.). Tidak adakah tempat lain selain tempat ini? Terlebih hal tersebut bukannya membuat isteri selesa, malah justru menyakitinya. Perilaku inilah yang selanjutnya disebut para fukaha sebagai “semi-homoseksual/al-lûthiyyah al-shugrâ” karena menyerupai tradisi kaum Nabi Luth as. Dalam sebuah hadits dinyatakan: “Alah tidak akan melihat seseorang yang menyetubuhi isterinya melalui duburnya.”
Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang menyetubuhi orang yang sedang haid, (menyetubuhi) isterinya melalui duburnya, dan seorang dukun yang dipercayai (kebenaran) apa yang dikatakannya, maka ia telah ingkar (kufur) terhadap apa yang diturunkan pada Muhammad.”

Dari Abdullah bin Salbath, ia berkata: “Aku masuk ke rumah Hafshah binti Abdurrahman bin Abu Bakar, dan berkata: ‘Sebenarnya aku hendak bertanya kepadamu, namun aku merasa malu untuk menanyakannya.’ Hafshah pun menjawab, ‘Engkau tidak perlu malu wahai putra saudaraku!’ Ia pun berkata, ‘Yaitu tentang menyetubuhi isteri melalui duburnya.’ Beliau menjawab, ‘Ummu Salamah memberitahuku bahwa kaum Anshâr pernah membelakangi isteri-isterinya (yaitu menyetubuhi kemaluan mereka dari belakang, Penj.), sementara orang Yahudi itu mengatakan, ‘Barangsiapa yang menyetubuhi isterinya dari belakang maka anaknya akan juling.’ Baru pada saat kaum Muhâjirîn datang ke Madinah dan menikahi para wanita kaum Anshâr, mereka pun membelakangi isteri-isterinya. Namun para isteri itu menolaknya untuk memenuhi keinginan para suaminya itu.’ Hafshah melanjutkan, ‘Janganlah kalian melakukannya sampai Rasulullah datang.’ Lalu beliau masuk ke rumah Ummu Salamah dan mengadukan hal tersebut. Ummu Salamah kemudian berkata kepadanya, ‘Silahkan duduk sampai Rasulullah datang.’ Tatkala Rasulullah datang, sang wanita Anshâr itu pun merasa malu untuk menanyakannya. Ummu Salamah kemudian keluar dan menanyakannya kepada beliau (Rasul). Beliau menjawab, ‘Biarkanlah kebiasaan orang Anshâr itu.’ Kemudian beliau pun membacakan ayat, ‘Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki…’ Beliau bersabda, ‘Pada satu lubang.” Maksudnya, pada satu tempat yaitu kemaluan.

Sebagian para ulama menyandarkan penjelasan dan tafsir atas ayat di atas kepada hadits riwayat Nafi’ dari Ibnu Umar: “Ibnu Umar berkata, ‘Apakah kalian tahu kenapa ayat tersebut diturunkan?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Beliau berkata, ‘Yaitu seputar (bolehnya) menyetubuhi isteri melalui duburnya.”

Sungguh kesimpulan ini keliru mengingat ada kemungkinan kemestian menyetubuhi isteri melalui kemaluannya (meski menyetubuhinya itu dari arah belakang)… Demikian pula yang diriwayatkan Ka’ab bin ‘Alqamah dari Abu Nadhr: “Bahwasannya beliau (Alqamah) mengkhabarkan bahwa ia pernah berkata pada Nafi’, hamba sahaya Ibnu Umar, ‘Beliau (Ibnu Umar) kiranya banyak bercerita kepadamu, bisakah engkau memberitahuku apa yang dikatakan Ibnu Umar seputar menyetubuhi isteri melalui duburnya.’ Nafi’ menjawab, ‘Sungguh mereka telah berdusta atas namaku. Tetapi akan aku ceritakan kepadamu yang sebenarnya. Suatu hari Ibnu Umar membaca Al-Qur’ân sementara saya berada di sampingnya hingga ia kemudian membaca ayat, ‘Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam…’ Beliau pun berkata, ‘Wahai Nafi’, tahukah engkau perkara yang ada di balik kandungan ayat ini?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Beliau melanjutkan, ‘Sesungguhnya kami bangsa Quraisy sering membelakangi isteri-isteri kami. Tatkala kami datang ke Madinah dan menikahi wanita-wanita Anshâr, kami pun menginginkan hal itu dari mereka sebagaimana yang biasa kami lakukan. Namun mereka menolak dan membencinya. Para wanita Anshâr itu sungguh telah terpengaruh omongan orang Yahudi yang juga suka bersetubuh membelakangi isterinya. Turunlah kemudian ayat, ‘Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam…”

Dari Sa’id bin Yasar Abu Al-Habbab, beliau berkata: “Aku berkata kepada Ibnu Umar, ‘Apa pendapatmu tentang isteri-isteri yang dibelakangi?’ Beliau menjawab, ‘Apa maksudnya dibelakangi?’ Lalu ia pun menyebut dubur. Ibnu Umar menjawab, ‘Apakah ada orang Muslim yang melakukan hal itu?”

Menurut pendapat Ibnu Katsir, hadits tersebut dan yang sebelumnya (dan sanad hadits ini sahîh) beliau menambahkannya dengan komentar: “Terdapat nash yang jelas yang mengharamkan hal itu. Karenanya, semua dalil yang membahas hal itu terlebih lagi yang multi-interpretasi, semua itu tertolak berdasarkan dalil yang jelas tadi.”

Dalam sebuah riwayat, Malik bin Anas pernah ditanya: “Apa pendapatmu seputar menyetubuhi isteri melalui duburnya?” Beliau menjawab, “Bukankah kalian bangsa Arab, bukankah ladang itu tempat bercocok tanam? Janganlah melewati (selain) kemaluan.” Aku berkata, “Wahai Abu Abdullah, sesungguhnya mereka mengatakan bahwa engkau pernah berpendapat seperti itu.” Beliau menjawab, “Sungguh mereka telah berdusta atas namaku. Mereka telah berdusta atas namaku!” “Inilah riwayat yang kuat sekaligus merupakan pendapat Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Ahmad bin Hanbal berikut para seluruh pengikutnya. Ini juga merupakan pendapat Sa’id bin Musayyab, Abu Salamah, ‘Ikrimah, Thawûs, ‘Atha, Sa’id bin Jubair, ‘Urwah bin Zubair, Mujahid bin Jubair, Al-Hasan, dan ulama lain selain mereka dari para ulama salaf…Di antara mereka bahkan ada yang berpendapat bahwa mengerjakannya terancam kufur. Inilah pendapat para ulama jumhûr.”

Terdapat kalimat lembut (retoris) dari Imam Malik yang penuh dengan pancaran kebijaksanaan saat beliau menjawab pertanyaan seseorang itu dengan ucapan, “Bukankah ladang adalah tempat bercocok tanam?” Hal tersebut tiada lain berdasarkan firman-Nya: “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki…”

Bukanlah suatu perkara kebetulan belaka jika kandungan dalam ayat Al-Qur’ân tersebut kemudian menyamakan perempuan dengan sebuah ladang.

Bolehnya Menyetubuhi Orang Yang Istihâdlah

Mustahâdlah atau orang yang istihâdlah ialah: “Orang yang darah haidnya sudah terhenti, tetapi ada darah lain yang berbeda dengan darah haid yang terus mengalir dari lubang yang sama.”

Bagaimanakah seorang wanita bisa memastikan bahwa masa darah haidnya tersebut telah berakhir? Ia tentunya terlebih dahulu harus mengenal darah haid. Ibnu Hazm (994-1064 M./384-456 H.) berkata: “… demikianlah selamanya, saat ia melihat darah itu berwarna hitam, itulah darah haid. Dan tatkala ia melihat darah yang lainnya, maka sungguh ia telah suci. Hal itu hendaknya dihitung dari awal masa haid. Apabila darah itu berwarna hitam, itulah darah haid yang berlangsung maksimalnya hingga 17 hari. Tetapi jika lebih dari itu –sedikit atau banyak darahnya—itu bukanlah darah haid…”

Dengan begitu, menurut pendapat Ibnu Hazm, darah haid itu berwarna hitam yang keluar dari kemaluan seorang wanita –selain karena suatu penyakit. Adapun batas maksimal masa haid pada wanita di jamannya adalah 17 hari. Sementara dalam pendapat Abu Hanifah, batasan maksimal masa haid itu 10 hari, dan menurut Imam Malik dan Syafi’i batas maksimalnya adalah 15 hari.

Jelasnya, setiap mereka membatasi waktu maksimal masa haid itu berdasarkan ukuran keumuman wanita yang hidup pada jamannya masing-masing. Pendeknya, apabila seorang wanita bisa memastikan masa akhir haidnya kemudian ia ber-istihâdlah, maka terhitung sejak ia mengetahui hal ini, ia wajib mandi, salat, dan kembali menunaikan ibadah.

Adapun jika ia tidak bisa memastikan masa akhir haidnya sementara darah istihâdlah terus mengalir, maka hendaknya ia menghitung masa-masa haid keumuman para wanita. Biasanya masa haid wanita pada jaman sekarang ini sebanyak tujuh hari. Seyogianya ia juga berkonsultasi kepada seorang dokter Muslim yang ahli dalam bidang tersebut.

Setelah masa haid berakhir, hendaklah ia segera mandi. Darah yang mengalir setelah itu tiada lain darah istihâdlah yang tidak membawa pengaruh apa-apa. Demikianlah cara bagi orang yang tidak bisa membedakan antara darah haid dan darah yang lainnya. Maka pahamilah cara di atas berikut penjelasannya.

Darah haid itu biasanya berwarna hitam dan baunya menyengat. Adapun darah yang mengalir setelah masa haid berakhir, dinamakan darah istihâdlah. Darah ini berwarna merah menyala dan agak kekuning-kuningan seperti air bekas mencuci daging –sebagaimana yang telah digambarkan oleh Ibnu Hazm. Pada saat istihâdlah, sang suami boleh menyetubuhi isterinya. Sebab, tidak terdapat satu dalil pun yang mengharamkannya.

Ibnu Abbas berkata: “Orang yang istihâdlah itu boleh disetubuhi suaminya, tetapi jika ia menunaikan salat, maka salat itu lebih utama.”

Maksudnya, salat adalah ibadah yang lebih utama daripada bersetubuh. Tetapi, bagaimana salat itu diperbolehkan sementara bersetubuh tidak diperkenankan? Dan hendaknya orang yang istihâdlah itu menggunakan semacam kapas untuk menyerap darah yang terus mengalir. Hendaknya ia juga berwudu setiap kali hendak menunaikan salat. Sebaiknya ia segera berobat agar darah tersebut cepat terhenti selama obat tersebut memang tidak membahayakan kesehatan dirinya.

Gosip dan Curhat Seputar Seks

Menggosipkan hubungan seksual antara suami isteri bukanlah merupakan kebiasaan orang yang beradab maupun termasuk tradisi yang terpuji. Syari’at melarang kita untuk membeberkan rahasia di seputar kehidupan ranjang. Baik seorang suami yang menceritakan apa yang telah dilakukan bersama isterinya maupun sang isteri yang bergosip ria seputar apa yang telah diperbuat bersama suaminya.

Rasulullah menyerupakan orang yang berbuat seperti itu layaknya apa yang diperbuat syetan dengan sesamanya manakala mereka bertemu di jalan kemudian bersetubuh di tengah-tengah keramaian. Betapa kejinya kebiasaan tersebut. Di tengah kebebasan, keblablasan, dan penyimpangan orang-orang Barat, agaknya mereka tidak sampai berbuat seperti itu.

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di hadapan Allah pada hari kiamat ialah seseorang yang berterus-terang kepada isterinya, dan isterinya pun berterus-terang kepada suaminya, kemudian salah seorang dari keduanya itu membeberkan (pada orang lain) rahasia salah satunya.”

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, beliau berkata: “Rasulullah Saw. pernah bersabda, ‘Kebuasan itu haram.” Ibnu Lahi’ah berkomentar: “Maksudnya yaitu, orang-orang yang bercerita seputar bersetubuh.”

Mudah-mudahan risalah ini menjadi amal sholeh bagi penyusun, dalam rangka untuk mencari ridho Allah SWT. Segala puji hanya pantas dipersembahkan kepada Allah SWT, sholawat dan salam semoga tercurah untuk Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti sunnahnya. Amien. ( Wallahu A’lam bish-Showab )

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: