Fiqh Munakahat

· Uncategorized
Penulis

PERNIKAHAN MENUJU KELUARGA SAKINAH

Muqoddimah

Segala puji hanya pantas ditujukan kepada Allah SWT penguasa dan pengatur alam semesta. Tiada ilah yang pantas diibadahi kecuali Dia. Sholawat dan salam, semoga tercurah dan terlimpah atas Nabi dan Rasul akhir zaman, penghulu segala Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad SAW, keluarga serta sahabatNya, juga orang-orang yang mengikuti sunnahnya.

Pernikahan merupakan perkara yang sangat sakral dan mulia, sebab pernikahan bukan hanya sekedar untuk pemenuhan nafsu biologis, akan tetapi sebagai jalan untuk menuju keridhaan Allah SWT. Al-Qur’an telah menyatakan, bahwa pernikahan termasuk salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dari sinilah lahirnya cinta dan kasih sayang antara sesama makhluk Allah yang berlainan jenis, yaitu pria dan wanita.

Tulisan ini disusun adalah sebagai bahan kajian dan panduan dalam mengarungi bahtera rumah tangga Bagi Calon Penganten. Sebab tidak sedikit saat ini pasangan yang melangsungkan pernikahan untuk membina rumah tangga, dimana secara keilmuan mereka belum siap. Terbukti ketika mereka mengalami problema rumah tangga timbullah kebingungan bahkan cepat-cepat mengambil kesimpulan untuk bercerai, dengan dalih sudah habis jodoh atau sudah tidak bisa cocok lagi.
Penulis berharap, mudah-mudahan risalah ini bermanfaat dan berguna bagi kaum muslimin dan muslimat khususnya calon penganten.

Akhirnya penulis menyampaikan terima kasih kepada guru-guru dan sahabat penulis yang telah membantu sehingga risalah ini bisa diselesaikan.

HAL HAL YANG PERLU DIPAHAMI OLEH SUAMI DALAM MENGGAULI ISTERINYA

Islam mengajarkan kepada setiap suami untuk memperlakukan isteri dengan sebaik-baiknya :

1) Memperlakukan isteri dengan sebaik-baiknya baik perkataan ataupun tingkah laku. Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang paling sempurna imannya ialah yang baikh perangai (akhlak) nya, dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik pada isterinya.” (HR.Ahmad dan At-Tirmidzi).

2) Tidak boleh menzholimi isteri dengan cara pemaksaan kehendak atau menyusahkannya. Firman Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 19 : “….dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

3) Toleransi terhadap kekurangan isteri. Sabda Rasulullah SAW : “Jangan seorang mu’min membenci seorang mu’minat (isteri), jika dia tidak menyukai salah satu perangai isterinya, tentu ada perangai yang lain yang disukainya.” (HR. Ahmad dan Muslim).

4) Memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan isteri (keluarga)nya. Rasulullah SAW bersabda : “Dari Hakim bin Muawiyah dari bapaknya, ia berkata : Saya bertanya, Wahai Rasulullah apakah kewajiban salah seorang suami terhadap isterinya ? Rasulullah SAW menjawab :”Engkau memberi makan kepadanya apabila engkau makan, memberikan pakaian kepadanya apabila engkau berpakaian, dan jangan memukul wajahnya serta menghinanya, dan janganlah engkau menjauhinya kecuali di dalam rumahnya.” (HR.Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Hadits ini dishohihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim).

5) Membayar maharnya secara sempurna. Firman Allah SWT dalam surah an-Nisa ayat 4 : “Berikanlah mahar kepada wanita yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”

6) Melindungi isteri dari api neraka : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Qs.At-Tahrim : 6 )

Di antaranya ;

a) Suami hendaklah memerintahkan isterinya memakai busana muslimah ( jilbab ) bila keluar rumah. Firman Allah dalam surah al-Ahzab ayat 59 : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang yang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbab ( baju kurung yang menutupi seluruh tubuhnya ) nya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, maka mereka tidak akan diganggu…” .

b) Suami hendaknya memerintahkan isterinya supaya tidak menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami atau mahramnya. Firman Allah dalam surah an-Nur ayat 31 : “…. Dan janganlah menampakkan perhiasannya ( selain muka dan dua telapak tangan), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka (mertua), putera-putera mereka, putera-putera suami mereka, saudara-saudara mereka, putera-putera saudara perempuan mereka , atau wanita-wanita islam…”.

c) Suami hendaknya memerintahkan isterinya supaya tidak bercampur (berduaan) dengan ipar (saudara suami) dan orang yang bukan mahram lainnya. Rasulullah SAW bersabda :”Janganlah kalian masuk ke tempat wanita”. Mera bertanya, bagaimana kalau saudara suami ( ipar ) ? Nabi Menjawab :”Saudara suami (ipar) itu maut (berbahaya”. (HR. Bukhori).

d) Suami hendaknya memerintahkan isterinya supaya tidak memakai minyak wangi atau parfum ketika keluar rumah serta berhias seperti kebiasaan wanita jahiliyah. Firman Allah SWT serta sabda Rasulullah SAW menyatakan : “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias seperti orang-orang jahiliyah dahulu..” (Qs. Al-Ahzab ayat 33). Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya apabila wanita itu memakai parfum kemudian ia keluar rumah dan melewati kumpulan orang banyak maka ia adalah termasuk pezina.” ( HR. Ash-habus-Sunan). Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda :”Parfum laki-laki adalah yang tercium baunya dan tidak tampak warnanya, sedangkan parfum bagi wanita adalah tampak warnanya dan tidak tercium baunya”. (HR. At-Tirmidzi dan an-Nasa’i).

e) Suami hendaknya memerintahkan isterinya supaya tidak berjabat tangan kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW bersabda : “Lebih baik ditancapkan jarum dari besi yang panas di kepala salah seorang di antara kalian dari pada dia menyentuh (berjabat tangan) seorang wanita yang tidak halal baginya (bukan mahram).” ( HR. Ath-Thabrani).

7) Memenuhi kebutuhan biologis ( seksual ) isterinya dengan cara yang baik. Islam memberikan ramb-rambu yang santun berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan biologis ( seksual ), yaitu :

a) Posisi bercinta ( bersenggama ) harus sesuai dengan syari’at Islam. Rasulullah SAW bersabda : ” Setubuhilah isteri kalian dari depan ataupun dari belakang, tetapi hindarilah bersetubuh ketika haid dan melewati dubur.” (HR.Ahmad dan At-Tirmidzi).

b) Terlebih dahulu adakan pemanasan ( foreflay ) sebelum melakukan persetubuhan dengan isteri, yaitu bercumbu rayu untuk membangkitkan gairah seksual isterinya. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian menggauli isterinya seperti binatang, tetapi hendaklah ada perangsangan sebelumnya”. Di tanyakan :”Apa perangsangannya? Nabi SAW menjawab:”Ciuman dan percakapan (cumbu rayu)”. (HR. Abu Mansur ad-Dailami di dalam musnad al-Firdaus).

c) Berdo’a sebelum bersetubuh ( teks do’a pada lembar belakang ).

d) Memberikan kepuasan pada isterinya, artinya jika ia telah selesai memenuhi hajatnya janganlah cepat-cepat melepaskan penisnya kecuali isteri sudah mengalami kepuasan.

e) Tidak menceritakan hubungan seksualnya dengan isteri kepada siapapun. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya manusia yang paling jelek derajatnya di sisi Allah pada hari kiamat ialah seorang suami bersetubuh dengan isterinya dan isterinya bersetubuh dengannya, kemudian suami membuka rahasia isterinya (kepada orang lain).” (HR.Muslim).

KEWAJIBAN ISTERI KEPADA SUAMI

Ada beberapa kewajiban seorang isteri terhadap suami dalam rumah tangga yang tidak boleh dilupakan guna terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah ;
1) Mentaati suami selama mampu ia lakukan dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seorang isteri sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (tidak selingkuh), mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya :”Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (HR.Ahmad, dengan sanad baik).

2) Melayani kebutuhan seksual suaminya. Rasulullah SAW bersabda :”Apabila seorang suami mengajak isterinya bersetubuh lalu isterinya tidak memenuhinya (menolak tanpa alasan syar’i), kemudian suaminya tidur dalam keadaan marah, maka malaikat mengutuk si isteri itu sampai suaminya ridho.” (HR.Bukhori dan Muslim).

3) Menjaga kehormatan diri, dan harta saat suami tidak berada di rumah. Rasulullah SAW bersabda :”Wanita yang baik ( sholehah ); jika dilihat suami ia menyenangkannya, jika diperintah suami ia mentaatinya, dan jika suami meninggalkannya (keluar rumah) ia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR.Abu Daud dan An-Nasa’i).

4) Mengatur rumah tangga dan mendidik anak. Rasulullah SAW bersabda :”Wanita (isteri) pengasuh di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas asuhannya.” (HR.Bukhori dan Muslim).

5) Larangan menuntut cerai kepada suaminya tanpa alasan yang benar (kecuali kalau suami sudah tidak melaksanakan kewajibannya, atau melanggar syari’at Allah). Rasulullah SAW bersabda : “Setiap wanita yang menuntut perceraian dari suaminya tanpa ada sebab syar’i maka haram baginya surga”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

6) Tidak boleh melaksanakan puasa sunnah dan menerima tamu tanpa seidzin suaminya. Sabda Rasulullah SAW : “Seorang isteri tidak halal berpuasa sunnah pada waktu suaminya ada di rumahnya, kecuali kalau ia mengizinkannya. Dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumahnya jika tidak mendapat izin dari suaminya”. (HR.Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah.ra ).

KUNCI SUKSES MENCAPAI KENIKMATAN

Hubungan Seks yang sejati bukanlah sekedar hubungan fisik, melainkan merupakan penyatuan tubuh, jiwa dan pikiran. Kehidupan seks yang memadai dan sehat akan membuat tubuh seimbang. Sebaliknya jika gairah seks menurun, berarti fisik anda sudah lelah atau anda sedang stres.
Kegiatan seksual merupakan kebutuhan pokok hidup yang harus mendapatkan tempat utama bagi mereka yang sudah resmi menjadi pasangan suami-istri. Sebab tanpa seks kehidupan akan berjalan hampa dan kering. Adakalanya salah satu pasangan engan untuk melayani keinginan pasangannya berhubungan intim, dikarenakan kegiatannya yang begitu banyak sehingga membuat tubuhnya terasa penat dan kecapekan sehingga tidak berhasrat dengan seks. Padahal kegiatan seks ini harus tetap lestari dan seimbang. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan minimal satu kali dalam seminggu. Untuk itu, agar anda tidak terbawa dalam situasi penurunan gairah ini, ada baiknya bila anda melakukan terapi sedini mungkin. Berikut ini beberapa tip atau kunci untuk mencapai kesenangan ketika sedang melakukan hubungan seks :

1. Untuk mencapai kenikmatan maksimal dalam berhubungan seks, anda harus stabil dan kuat secara fisik, mental dan emosional. Bila salah satu dari ketiga unsur tersebut ada yang kurang maka dipastikan kehidupan seksual anda akan terpengaruh.

2. Seks yang hebat bukan sekedar kenikmatan yang hebat, tapi dipercaya bisa memperbaiki kesehatan dan vitalitas, serta kekuatan imunitas tubuh anda.

3. Seks haruslah selalu murni dan alamiah. Murni artinya adalah ungkapan kasih sayang yang tulus diantara keduanya. Kalau tidak maka akan menimbulkan ketidak puasan, yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. karena seks yang tidak alamiah menyebakan tubuh rentan terhadap berbagai penyakit dan infeksi, seperti deman, bronkitis, dan radang paru-paru.

4. Jangan berlebihan dalam berhubungan seks. Ada baiknya hubungan seks dilakukan minimal sekali dalam seminggu (saat musim kemarau) dan lebih sering saat musim penghujan. Terlalu seing berhubungan intim akan mengurangi energi vital tubuh dan membuat tubuh melemah dan mudah di serang penyakit.

5. Sesuaikan waktu anda untuk melakukan segala sesuatu, termasuk juga untuk merencanakan bermesraan. Biasanya malam hari adalah yang paling baik. Terutama setelah mandi dan cuaca lebih sejuk. Musim dingin merupakan waktu terbaik untuk berhubungan seks. Kondisi sejuk tidak hanya membuat aktivitas seks lebih menyenangkan, tapi tubuh juga memiliki energi yang tersimpan untuk melakukan hubungan.

6. Ada beberapa jenis makanan yang berkhasiat meningkatkan gairah seksual. Seperti habbatussauda dan madu diminum satu jam sebelum senggama.

VARIASI POSISI SAAT BERSENGGAMA

Posisi dalam bersenggama juga memegang peranan yang sangat penting untuk membuat wanita mencapai puncak orgasme. Mencoba berbagai posisi saat berhubungan seks memungkinkan terkenanya seluruh bagian sensitif pada liang vagina karena masin masing posisi persetubuhan menghasilkan gesekan yang berbeda antara penis dengan titik-titik sensitif yang berbeda pada liang vagina. Jika seluruh titik-titik sensitif pada vagina semuanya terkena gesekan atau rangsangan selama persetubuhan tentu saja akan menghasilkan impuls berupa puncak orgasme total yang luar biasa nikmat dirasakan oleh wanita pasangan anda. Karena itu jangan hanya menggunakan satu posisi atau satu gaya saja saat bercinta cobalah berbagai macam variasi dan tanyakan posisi mana yang paling disukai oleh pasangan anda.

Seks bukanlah rutinitas semata. Seks merupakan bagian dari seni yang membutuhkan penghayatan dan pemahaman. Kenikmatan seks akan diperoleh bila pasangan merasakan kepuasan. Untuk menghindari kejenuhan, setiap pasangan harus bisa pandai menciptakan suasana baru. Lakukan teknik dan cara permainan yang berganti-ganti. Jangan pasrah dengan posisi bermain konvensional.

Berikut 12 posisi dan teknik hubungan seks yang dapat menghindari pasangan dari kejenuhan dalam berhubungan seksual.

POSISI TELENTANG : Posisi telentang umum, juga disebut posisi “Lebah memetik sari kembang”. Posisi ini wanita telentang sementara pria harus menopang pada kedua sikut dan lututnya.Si wanita lalu menarik kedua kaki sampai lutut dan mendekati kupingnya. Posisi ini akan mengembangkan vulna serta memberikan tancapan yang dalam, sehingga akan memcapai puncak kenikmatan.

POSISI TIDUR MIRING : Praktek posisi ini, wanita harus menari kedua kakinya, sehingga pahanya berada di sudut, tegak lurus dengan badannya. Sementara posisi pria tidur menyamping tepat di belakang wanita. Variasi pada posisi ini akan memberikan kesan rileks dengan gerakan ringan. Bila pria berada disebelah kiri wanita, maka kaki kiri wanita diletakkan di atas kedua kaki pria. Posisi ini dilakukan kebanyakan untuk hubungan sesudah orgasme.

POSISI BERAYUN KAKI : Wanita duduk ditepi ranjang sambil mengayun-ayunkan kaki, sedangkan pria berdiri di depannya. Posisi ini bisa diatur sesuai selera. Kelebihan posisi ini, ketika wanita bersandar pada kedua tangan dan mendorong-dorong bagian vitalnya akan merasakan perangsangan yang nikmat. Sayangnya pada posisi ini tidak menguntungkan pria, pasalnya untuk mengalami orgasme pada posisi berdiri umumnya tidak disukai oleh pria.

POSISI KAKI DIBAHU : Posisi ini sang pria harus tegak pada kedua tangannya. Ia harus tahu pada saat menekan. Dengan gerakan berulang akan menghasilkan gerakan pro. Tetapi sip variasi ini akan memberikan desakan pada bagian perut pria dan otot-otot panggul. Untuk mencapai puncak kenikmatan yang plus, posisi kaki wanita dapat direndahkan dengan menyilangkan kedua kakinya melalui pinggang sang pria, hingga sang wanita dapat mengunci, mempererat dekapannya menggunakan otot-otot kakinya. Dalam posisi ini juga dapat memperpanjang hubungan seks.

POSISI DUDUK DIKURSI : Permainan ini sebaiknya dilakukan didepan cermin, pasalnya bayangan akan terpantul yang menghasilkan dimensi baru pada rangsangan seks. Caranya pria duduk dikursi yang tak berlengan, sementara wanita duduk dipangkuan berhadapan. Untuk mengatur gerakannya wanita halus memeluk erat tubuh pria sekaligus mengatur gerakannya. Sedangkan tugas pria hanya membelai dan mencium mesra pasangannya. Salah satu kelebihan dalam posisi ini adalah keduanya dapat melihat reaksi masing-masing di cermin.

POSISI BERJONGKOK : Posisi ini lebih mudah dilakukan, karena pasangan yang akan bersanggama tinggal jongkok untuk saling berhadapan. Posisi jongkoknya harus sedemikian rupa agar kelamin mereka saling bertemu. Dengan gerakan yang teratur dan terarah pria kemudian menyusupkan “rudal raksasanya” ke dalam liang sanggama pasangannya.
POSISI DUDUK DILANTAI : Pria duduk di lantai menghadap wanita dengan menjulurkan kaki di bawah kursi tempat duduk wanita, Kemudian sang pria menjulurkan tangan menarik wanita dari tempat duduknya secara perlahan, sehingga jatuh sedemikian rupa. Sang wanita dapat bersandar pada kursi dan menopangkan dirinya di atas kedua tangan dan sikunya. wanita juga dapat mempertinggi dan merendahkan posisinya pada orgasme yang saling berbalasan.

POSISI DUDUK : Pasangan pria-wanita duduk saling berhadapan dan saling berpelukan dibantu dengan kaki. Gerakan dilakukan dengan sangat perlahan dan berirama, berayun ke depan dan kebelakang, sehingga menghasilkan kenikmatan. Posisi ini terbilang jenaka dan pasangan harus betul-betul serius untuk menahan lawa sebelum posisi ini berlangsung lima menit. Bila saat orgasme dalam posisi ini, sebaiknya sang pria menarik sang wanita lebih dekat, sehingga tubuhnya saling menempel.

POSISI BANTAL BAWAH PINGGUL : Letakkan bantal tepat dibawah pinggul wanita, dalam posisi sedang telentang sehingga membentuk abjad V kebawah dan keluar. Kontak seks akan menjadi maksimal. Bila ingin menambah kenikmatan maka bantalnya bisa ditarik lebih kebawah pantat, sehingga sudut V akan berubah melengkung keatas dan kedalam. Ini akan menjadikan posisi kelamin wanita tepat berhadapan organ seks pria. Posisi ini sangat ideal untuk wanita yang agak gendut atau pria yang berukuran vital pendek.

POSISI PRIA TELENTANG : Pria melipatkan kedua kakinya pada lutut, tapi kedua ujung kakinya tetap menginjak tempat tidur, sementara wanita meletakkan tubuhnya diatas kedua paha pria dan harus menopang tubuhnya pada kedua tangan dan lutut. Setelah itu wanita berbaring menelungkup diatas tubuh pria. Pada posisi ini lebih romantis, karena wanita dapat membelai dan mencium pasangannya.

POSISI BERSILANG : Pada posisi ini pasangan yang bersanggama duduk bersama diranjang. Wanita duduk di atas kaki pria. Kaki mereka direntangkan sehingga kaki sang pria berada di bawah kaki sang wanita. Kemudian kaki wanita ditekankan ke perut pria agar “kunci pusaka menemukan lubang gerbang”. Dengan gerakan maju mundur kunci pusakanya tersebut dapat keluar masuk gerbang istana kenikmatan.

POSISI BERLAWANAN ARAH : Posisi ini paling rileks, pasalnya kepala pria berada diatas kaki wanita. Pasangan bisa saling melihat organ intim pasangannya. Gerakan posisi berlawanan arah ini dilakukan pria dengan mengencangkan dan mengendurkan punggungnya, sehingga memberi gerakan yang naik turun yang fleksibel pada wanita yang mendorong tercapainya kenikmatan yang luar biasa. Untuk mencapai kenikmatan yang lebih, wanita harus merendahkan tubuhnya ke belakang dengan perlahan-lahan sehingga ia terlentang diantara kedua kaki pria.

KETIMPANGAN HASRAT DALAM HUBUNGAN SUAMI ISTERI

Dalam setiap hubungan suami isteri, kerap ditemukan masalah pelik yang melanda. Terutama masalah hubungan seksual. Terkadang ditemui masalah ketimpangan hasrat antar pasangan.
Dengan munculnya problem ini, mesti tidak lantas membuat hubungan bubar, namun perlahan akan mengarah kepada perceraian. Karena itu setiap pasangan dituntut mempelajari dan mengetahui cara mengatasi masalah ketimpangan hasrat seksual ini.
Setiap pasangan harus mengimbangi hasrat pasangannya, karena itu dibutuhkan komunikasi yang baik antara suami isteri.

MANDI WAJIB ( AL-GHUSLU )

Pada asalnya makna al-ghaslu adalah meratakan (air) ke badan dengan cara mandi. Adapun menurut syariat adalah meratakan air yang suci ke seluruh badan dengan tata cara yang khusus. Dalil yang mendasari pensyariatannya adalah firman Allah, “Dan jika kamu junub, maka mandilah.” (Q.S. al-Maidah:6)

Ada beberapa hal yang menjadikan al-ghaslu (MANDI) wajib dikerjakan.

Pertama, apabila keluar mani disertai rasa nikmat dan tidak dalam keadaan tidur. Hal ini berdasarkan riwayat yang berasal dari Ali, “Dulu aku adalah adalah laki-laki yang biasa mengeluarkan madzi Lendir/cairan lengket yang keluar dari kemaluan karena dorongan syahwat., maka aku menanyakannya kepada Rasulullah. Beliau bersabda, “Jika mengeluarkan madzi, cukup berwudhu, jika mengeluarkan mani, wajib mandi.”. ( Ahmad (no. 871, 895,980), Ibnu Majah (no. 504), dan Tirmidzi (no. 114) dan menshahihkannya ).Dalam riwayat Ahmad, “Jika cairan (itu keluarnya) terpancarkan, maka mandilah karena junub, jika tidak terpancar, maka tidak perlu mandi.” (Ahmad (no. 849).

Selain itu, riwayat dari Ummu Salamah bahwa Ummu Sulaim bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu menjelaskan kebenaran. Apakah seorang wanita harus mandi jika dia ihtilam (mimpi basah)?” Nabi menjawab, “Ya, jika dia melihat air mani (basah pada farjinya).” Ummu Salamah bertanya, “Apakah wanita juga mimpi basah? Hal ini karena dia mengingkari adanya mani pada wanita sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bary (I/229).” Nabi menjawab, “Berdebu kedua tanganmu Ungkapan yang digunakan orang Arab untuk memarahi atau menghardik seseorang, tetapi bukan makna zahir yang diinginkan pengucapnya. (Jika dia tidak mengeluarkan mani,) maka bagaimana anaknya bisa mirip dengannya.” (Muttafaq ‘Alaihi Bukhari (no. 130) dan Muslim (no. 313).

Kedua, bertemunya dua kemaluan (senggama), berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah, beliau bersabda,“Jika dia (laki-laki) telah duduk ‘di antara empat cabangnya (perempuan)’ maksudnya farji ( vagina ) wanita. kemudian bersungguh-sungguh (memasuki)nya yakni berjimak., maka telah wajib mandi.” Muttafaq ‘Alaihi Bukhari (no. 287) dan Muslim (no. 348). Sekalipun dia tidak ejakulasi (keluar mani).” Di samping itu, berdasarkan hadits dari ‘Aisyah, dia berkata, “Rasulullah bersabda, “Jika khitan (zakar) telah menyentuh khitan (farji), maka telah wajib mandi.” Malik (no. 104) –dan ini lafaznya-, Tirmidzi (no. 109).

Begitu pula riwayat dari ‘Aisyah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah tentang laki-laki yang menyetubuhi isterinya kemudian timbul rasa malas, sementara ‘Aisyah sedang duduk (di situ), maka Rasulullah bersabda, “Sungguh aku dan dia ini (Aisyah) melakukan hal itu pula, kemudian kami mandi.” Riwayat Muslim Muslim (no. 350).

Ketiga, ketika orang yang kafir masuk Islam, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Qais bin Ashim bahwa dia datang kepada Rasulullah untuk berislam, maka Nabi memerintahkannya mandi dengan air dan daun bidara. Diriwayatkan oleh al-Khamsah kecuali Ibnu Majah. Tirmidzi (no. 605), Abu Dawud (no. 355), Nasa’i (no. 188), Ahmad (no. 20088).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Tsumamah bin Utsal masuk Islam, maka Nabi berkata, “Bawalah dia ke tembok (tempat) Bani Fulan dan suruh dia mandi.” Ahmad (no. 7977).
Keempat, keluarnya darah haidh dan nifas sebagaimana firman Allah, “Apabila mereka (istri-istri kalian) telah suci (dari haid ), maka campurilah mereka.” (Q.S. al-Baqarah:222)

Dan dari Ummu Salamah, dia berkata, “Aku berkata kepada Nabi, ‘Wahai Rasulullah, aku adalah wanita yang berambut lebat. Haruskah aku menggerainya ketika mandi karena junub?” -Dalam riwayat yang lain ada tambahan: ‘dan karena haidh’-. Nabi bersabda, “Tidak, cukup bagimu menuangi kepalamu dengan air sebanyak tiga cidukan tangan.” Riwayat Muslim. Muslim (no. 330), Tirmidzi (no. 105), Nasa’i (no. 241), Abu Dawud (no. 251).

Adapun dalil tentang darah nifas yaitu hadits dari Abu Hurairah dan Abu Darda’ dari Rasulullah, beliau bersabda, “Wanita yang nifas (waktu sucinya) menunggu 40 hari, kecuali jika telah betul-betul bersih sebelum masa itu. Jika lebih dari 40 hari belum bersih, hendaknya dia mandi.” Riwayat Ibnu Adi.

Tirmidzi berkata dalam sunannya Sunan Tirmidzi Kitab ath-Thaharah Bab Ma Ja’a fi Kam Tamkutsu an-Nufasa’ hadits no. 139., “Para sahabat Nabi, Tabi’in, dan yang orang-orang setelahnya telah bersepakat bahwa wanita yang nifas tidak melaksanakan shalat selama 40 hari, kecuali jika dia telah suci sebelum waktu tersebut maka hendaknya dia mandi dan mengerjakan shalat.”
Kelima, meninggal dunia bukan karena syahid di medan perang. Ini berdasarkan hadits yang berasal dari Ummu Athiyah, dia berkata, “Rasulullah datang kepada kami sementara kami sedang memandikan (jenazah) putrinya Yaitu Zaenab munurut jumhur ulama.

Qadhi Iyadh mengatakan bahwa sebagai ahli sirah menyatakan Ummu Kultsum, tetapi yang benar adalah Zaenab berdasarkan hadits Muslim no. 939. Lihat Syarah Nawawi (VII/3)., maka beliau bersabda, ‘Mandikan dia tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu!” Bukhari (no. 1196), Muslim (no. 939).

Demikian pula hadits Ibnu Abbas tentang seorang laki-laki yang meninggal karena terjatuh dari tunggangannya, Rasulullah bersabda, “Mandikan dia dengan air dan daun bidara, dan kafankan dia dengan dua pakaian (kafan).” Muttafaq ‘Alaihi Bukhari (no. 1206), Muslim (no. 1206).
Sifat Mandi Nabi

Sifat mandi Nabi SAW yang sempurna yang mencakup fardu-fardunya, kewajiban-kewajibannya, dan hal-hal yang disunnahkan ketika mandi adalah sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْتَسِلُ يَدَيْهِ, ثُمَّ يَفْرُغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ, فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ, ثُمَّ يَتَوَضَّأُ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ :كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ)( وَ فِيْ رِوَايَةِ مَيْمُوْنَةَ : غَيْرَ رِجْلَيْهِ) ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ, فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِيْ أُصُوْلِ الشَّعْرِ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ : ثُمَّ يُخَلِّلُ شَعْرَهُ بِيَدِهِ حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ), ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتٍ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ: فَبَدَأَ بِشَقِّ رَأْسِهِ الأَيْمَنِ ثُمَّ الأَيْسَرِ), ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ:عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ), ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ (متفق عليه ولفظ لمسلم).
وَلَهُمَا, مِن حَدِيْثِ مَيْمُوْنَةَ قَالَت ْ: وَضَعْتُ لِرَسُوْلِ اللهِ وَضُوْءَ الْجَنَابَةِ فَأَكْفَأَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى يَسَارِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ فَرْجَهُ( وَ فِيْ رِوَايَةٍ :وَمَا أَصَابَهُ مِنَ الأَذَى) (وَغَسَلَهُ بِشِمَالِه)ِ, ثُمَّ ضَرَبَ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ :دَلَكَ) يَدَهُ بِالأَرْضَ أَوِ الحَائِطِ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ : فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ) مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ, ثُمَّ غَسَلَ وَجِْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ, ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ, ُُثمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ, ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ فَأَتَيْتُهُ بِخِرْقَةٍ فَلَمْ يُرِدْهَا (وَ فِيْ رِوَايَةٍ : بِالْمِنْدِيْلِ, فَرَدَّهُ), فَجَعَلَ يَنْفُضُ الْمَاءَ بِيَدَيْهِ.

Dari “Aisyah ra berkata : Adalah Rosulullah SAW jika mandi karena janabah dia mulai dengan membersihkan kedua tangannya, kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudlu sebagaimana wudlunya untuk sholat. (Dalam riwayat Maimunah : selain kedua kakinya), kemudian dia mengambil air lalu dia masukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut kemudian dia menyela-nyela rambutnya dengan tangannya hingga jika dia telah merasa bahwasanya telah mengena kulit kepalanya maka dia menumpahkan air ke kepalanya), lalu menyiram kepalanya dengan tiga genggam air (dalam riwayat lain : dia mulai dengan bagian kanan kepala lalu yang kiri) , kemudian mengguyur seluruh tubuhnya (dalam riwayat lain : ke seluruh kulit (tubuh) beliau) dan mencuci kedua kakinya. (Hadits riwayat Bukhori Muslim dan ini adalah lafal yang terdapat di Muslim, sedangkan tambahan-tambahan riwayat yang lain ada di Bukhori).

Dalam riwayat Bukhori dan Muslim juga dari hadits Maimunah, dia berkata : “Aku meletakkan bagi Nabi air untuk (mandi) janabah. Lalu dia memiringkan (tempat air tersebut) dengan menggunakan tangan kanannya ke tangan kanan kirinya dua kali atau tiga kali. Kemudian mencuci kemaluannya (dalam riwayat lain : dan kotoran yang ada padanya dengan tangan kirinya) lalu memukulkan ( menggosok) tangannya ke bumi atau ke tembok (ke tanah) dua kali atau tiga kali kemudian mencuci tangannya itu), kemudian berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke hidung) lalu mencuci wajahnya dan mencuci kedua lengannya kemudian menumpahkan air ke kepalanya, lalu mencuci seluruh tubuhnya, lalu berpindah tempat, lalu mencuci kedua kakinya. Lalu aku memberikannya secarik kain dan dia tidak mau (dalam riwayat lain : sapu tangan tapi dia menolaknya) lalu dia mengeringkan air dengan kedua tangannya.

Dengan demikian, berdasarkan beberapa hadits shohih di atas dapat disimpulkan bahwa tata cara mandi wajib Rasulullah SAW sebagai berikut ;

1. Berniat Dalam hati sebelum mandi. Adapun menurut jumhur (mayoritas – kebanyakan ulama) adalah wajib. Yaitu berniat dalam hatinya ( tidak diucapkan di lisan ) sebelum menyiramkan air untuk mandi besar, contoh niat tersebut ” SENGAJA AKU MANDI HADATS BESAR KARENA ALLAH TA’AALA “, berdasarkan hadits Umar bin Al-Khoththab ra dari Nabi SAW :
إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلٍ امْرِءٍ مَا نَوَى
“ Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.” Dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim.

2. Membaca bismillah

Dan hukumnya adalah mustahab ( sunnah ) menurut jumhur, dan di baca ketika mengawali mandi. Jika mandi di dalam kamar mandi yang sekaligus ada WC maka lebih baik membaca basmalah di luar kamar mandi (ketika masuk), atau diucapkan dalam hati tanpa dilafazhkan dengan lisan.

3.Mencuci kedua telapak tangannya tiga kali,

4.Mencuci kemaluan dengan tangan kiri dan menghilangkan kotoran yang terdapat di kemaluannya,

5. Membersihkan tangan kiri tersebut dan mengusapnya dengan tanah yang suci atau sabun kemudian di cuci
6. Berwudlu

Kebanyakan para ulama berpendapat akan tidak wajibnya berwudlu ketika mandi janabah dan bahwasanya hadats kecil telah masuk ke dalam hadats besar (namun tidak sebaliknya). Dalilnya adalah hadits Jabir bin Abdillah, bahwasanya penduduk Tho’if berkata :”Wahai Rosulullah, sesungguhnya tanah (negeri) kami adalah tanah yang dingin, maka mandi apakah yang cukup bagi kami ?, maka Rosulullah berkata : “Adapun saya maka saya mengguyur kepala saya tiga kali” (Riwayat Bukhori no 254), dan hadits ini dijadikan dalil oleh Baihaqi tentang masalah ini (masalah tidak mengapa mendi tanpa wudlu). Selain itu disebutkan dalam Shohih Sunan Abi Dawud no 244 bahwasanya Rosulullah sholat dengan mandi yang beliau tidak wudlu di mandi tersebut baik sebelumnya maupun sesudahnya. (Tamamul Minnah hal 129)

Perlu diperhatikan bahwasanya, jika seseorang telah mandi wajib dengan sah (dengan niat mengangkat hadats besar dan hadats kecil, dan setelah mendi tersebut dia belum batal wudlu, maka dia tidak perlu berwudlu lagi. Dalilnya :
قَالَتْ عَئِشَةُ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ لاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ. وَعَنْ أِبْنِ عُمَر أَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ قَالَ لَهُ : إِنِّيْ أَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ ؟ فَقَالَ لَهُ : لَقَدْ تَعَمَّقْتَ
‘Aisyah berkata : “Rosulullah SAW tidak pernah berwudlu setelah mandi”. Dan dari Ibnu Umar ra bahwasanya beliau berkata kepada seorang laki-laki yang bertanya kepada :”Aku berwudlu setelah mandi ?”, maka Ibnu Umar berkata kepadanya :”Kamu telah berlebih-lebihan” Berkata Syaikh Al-Albani : “Dzohir dari hadits bahwasanya yang sunnah adalah wudlu sebelum mandi bukan setelah mandi, dengan dalil hadits ‘Aisyah yang lain (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim –pent)……, dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang berwudlu sebelum mandi kemudian berwudlu lagi setelahnya maka dia telah berlebihan, dan barangsiapa yang mencukupkan wudlu setelah mandi (dia tidak berwudlu sebelum mandi tetapi sesudahnya –pent) maka dia telah menyelisihi sunnah.” (Tamamul Minnah hal 129 )

7. Memasukkan jari-jari ke air kemudian menyela-nyela rambut dengan jari-jari tersebut hingga ke kulit kepala.
Lalu menyiram kepalanya dengan tiga cidukan dengan kedua tangannya, sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah. Dia mulai dengan menyirami bagian kanan kepala kemudian bagian kiri kemudian bagian tengah kepala, sesuai dengan hadits ‘Aisyah. Dan hukum mencuci kulit kepala adalah wajib baik rambutnya tebal maupun tipis, termasuk juga mencuci kulit dagu yang ditumbuhi jenggot. Berdasarkan hadits Ummu Salamah bahwasanya dia bertanya kepada Nabi SAW tentang mandi janabah, maka Nabi SAW berkata : Salah seorang dari kalian mengambil air lalu dia bersuci dan membaguskan bersucinya tersebut, lalu menyiram kepalanya dan menggosokkannya hingga sampai ke akar rambut, lalu mengguyurkan air di atas kepalanya. (Riwayat Muslim)

Mengenai rambut wanita, terjadi khilaf (perbedaan) diantara para ulama. Namun yang rojih (kuat) adalah bagi wanita tidak perlu menguraikan rambutnya ketika mandi janabah sesuai dengan hadits Ummu Salamah, dia berkata :..Aku berkata : “Ya Rosulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang mengikat rambutku. Apakah aku membukanya untuk mandi janabah ?”, Rosulullah SAW menjawab :”Tidak”, tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali”. Riwayat Muslim

Dan disunnahkan bagi wanita untuk menguraikan rambutnya ketika mandi karena haidl sesuai dengan hadits ‘Aisyah, yaitu Rosulullah SAW berkata kepadanya ketika dia sedang haidl : Ambillah airmu dan daun bidaramu dan bersisirlah. lihat Irwaul golil no 134. Dan tidaklah mungkin bisa bersisir kecuali dengan membuka ikatan rambut.

8. Menyiramkan air ke kepala dan seluruh tubuh.

Sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah, dimulai dengan menyirami bagian kanan tubuh kemudian yang kiri sesuai dengan hadits ‘Aisyah : “Adalah menyenangkan Rosulullah untuk memulai dengan yang kanan ketika memakai sendal, menyisir rambut, ketika bersuci, dan dalam semua keadaan”.( Bukhori (Al-Fath 1/269) dan Muslim 1/226)

Dan hendaknya dia memperhatikan untuk mencuci kedua ketiaknya dan bagian-bagian tubuh yang terlipat dan pangkal kedua paha sesuai hadits ‘Aisyah, dan dia menggosok badannya jika kesucian bagian tersebut tidak bisa sempurna tanpa digosok.

PENUTUP

Demikian secara ringkas dan singkat tulisan ini disusun, mudah-mudahan bermanfa’at khususnya bagi sepasang calon penganten yang akan melaksanakan pernikahan untuk membina bahtera rumah tangga, sehingga tercipta dan terwujud rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi amal sholeh bagi penyusun, dalam rangka untuk mencari ridho Allah SWT. Segala puji hanya pantas dipersembahkan kepada Allah SWT, sholawat dan salam semoga tercurah untuk Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti sunnahnya. Amien. ( Wallahu A’lam bish-Showab )

Melayani Konsultasi Keluarga dan Rumah Tangga serta permasalahan Islam lainnya tanpa dipungut biaya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: