Menelusuri Aliran Sesat Dalam Islam

· Uncategorized
Penulis

Lawan dari “al-Haq” (kebenaran) adalah “adh-Dholal” (Kesesatan). Allah SWT berfirman (Qs.Yunus :32), bahwa setelah kebenaran”al-haq” adalah kesesatan”adh-Dholal”, karena itu kebenaran yang hakiki hanya satu ; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka Bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?

Al-Qur’an menyebutkan kebenaran “al-Haq” itu pengertiannya adalah ; Mengungkap sesuatu harus berdasarkan ilmu, karena apa yang dikatakan akan dimintai pertanggungjawaban : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Isra’ (17) : 36)

Pangkal Kesesatan : Akal tidak Tunduk Kepada Wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah)

Kebenaran yang dapat menghantarkan kepada keselamatan hanya ada satu jalan yaitu al-Islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan As-Sunnah dan telah dipraktekkan oleh salafush-Sholeh (sahabat, tabi’in dan tabi’ut-tabi’in). Al-Qur’an menjelaskan (Qs.al-An’am ayat 153) ; dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu (al-Islam) yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

Diantara yang dipandang sesat dalam persfektif Al-Qur’an, adalah sebagaimana yang disinyalir al-Qur’an ; Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka Itulah orang-orang yang sesat. (QS Ali Imran (3) : 90). Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.” (QS Al-An’am (6) : 77). Ibrahim berkata: “tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”. (QS Al-Hijr (15) : 56)

MENJAGA DIRI DARI ‘ALIRAN SESAT’

1. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah ; kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa’ (4) : 59). Rasulullah SAW bersabda : :”Biarkanlah aku meninggalkan sesuatu untuk kalian. Hanyalah orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan pertanyaan dan penentangan mereka terhadap para nabi mereka. Apabila aku melarang kalian akan sesuatu, tinggalkanlah oleh kalian dan apabila aku memerintah kalian kepada sesuatu laksanakanlah menurut kemampuan.” (HR Bukhari nomor 7288)

2. Konsultasi pada Ahladz-Dzikr, yaitu ulama Rabbani ( Ulama yang Konsisten dengan al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah mengamalkan ilmunya ; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An-Nahl (16) : 43). Rasulullah SAW bersabda : Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, saya mendengar Rasulullah saw bersabda :”sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia akan tetapi Ia mencabut ilmu itu dengan mewafatkan para ‘ulama sehingga tidak ada satupun ‘ulama yang tertinggal, maka manusiapun mengangkat pemimpin dari orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tidak berdasar ilmu, maka merekapun sesat dan menyesatkan.” (HR Muslim : 230)

JAUHI ULAMA PENGUASA

Abdullah Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Akan ada penguasa yang kamu kenal dari mereka yang baik dan jahat. Siapa saja yang menentangnya akan selamat. Siapa saja yang berlepas dir darinya akan selamat. Dan siapa saja yang bersama dengan mereka akan binasa.”
(Dikoleksi oleh Ibnu Abi Syaibah dan At-Tabarani; Al-Al Bany dalam “Shahih Al-Jaami’”, Hadits No. 3661)

Abul A’war As-Sulami berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Hati-hati terhadap pintu-pintu penguasa; di sana ada kesukaran dan kehinaan.”
(Dikoleksi Oleh Ad-Dailamii dan At-Tabaraani; Al-Al Bany “As-Silsilah As-Shahiihah, Hadits 1253)

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Siapa saja yang mendekati pintu-pintu penguasa akan menderita. Siapa dari seorang hamba yang semakin mendekati penguasa, dia hanya memperbesar jarak dari Allah.”(Dikoleksi oleh Ahmad; Al-Al Bany dalam “Sahiih at-Targhiib wat-Tarhiib”, hadits no. 2241)

Jaabir Ibnu ‘Abdillah berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, kepada Ka’ab Ibnu Ujrah, “Wahai Ka’ab Ibnu Ujrah, Aku mencari lindungan Allah untukmu dari kepemimpinan orang bodoh. Akan ada penguasa, siapa saja yang datang kepada mereka kemudian membantu mereka dalam kezaliman dan membenarkan kebohongan mereka, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan tidak membantu mereka dalam kezaliman mereka, tidak juga membenarkan kebohongan mereka, maka dia dari golonganku dan aku dari golongannya, dia akan diizinkan menuju ke Haud (Telaga Rosulullah saw. di surga).”(Dikoleksi oleh Ahmad, Al-Bazzar, Ibnu Hibban; Al-Al Bany dalam “Shahih At-Targhib wat Tarhib”, Hadits No 2243).

Selain itu, ada berbagai riwayat dari perkataan Shahabat, yang dalam hal ini As-Suyuti telah mengumpulkan dari ‘Ali Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah Ibnu Al-Yaman, dan Abi Dzar, riwayat yang memperingatkan mendekati penguasa atau pintu-pitu penguasa. Lihatlah “Maa Rawahul Asaatiin Fii ‘Adam Al Majii’ Ilas Salaatin”.

Ada begitu banyak dengan pengertian yang sama, berikut beberapa contoh: Ibnu Mas’ud berkata, “Siapa saja yang menginginkan kemuliaan diennya, maka dia seharusnya tidak datang kepada penguasa.”
(dikoleksi oleh Ad-Daarimi)

Ibnu Mas’ud juga berkata, “Seorang pria datang kepada penguasa, membawa diennya dengannya, maka pergi tanpa membawa apapun.”
(Dikoleksi oleh Al-Bukhari dalam “Taarikh”nya dan Ibnu Sa’ad dalam “At-Tabaqaat”).

Hudzaifah Ibnu Al-Yaman berkata, “Sungguh! Seharusnya tidak ada diantara kalian yang jalan walaupun satu hasta ke arah penguasa.”
(Dikoleksi oleh Ibnu Abii Syaibah)

Dia mengumpukan dari ulama setelah Salaf, riwayat yang sama dari Sufyan At-Tsauri, Sa’id Ibnu Al-Musayyib, Hammad Ibnu Salamah, Al-Hasan Al-Basri, Ibnu Al-Mubarak, Abi Haazim, Al-Awzaa’i dan Al-Fudhail Ibnu Al ‘Iyaad.

Disini adalah beberapa contoh dari Ulama Salaf :

Sufyan At-Tsauri berkata, “Jangan pergi, walaupun jika mereka memintamu untuk mengunjungi mereka hanya untuk membacakan ‘qul huwallaahu ahad’.”(Dikoleksi oleh Al-Baihaqi)

Maalik Ibnu Anas berkata, “Aku bertemu lebih dari 10 dan beberapa Taabi’in, semua dari mereka berkata, jangan pergi kepada mereka, jangan menegur mereka, yang berat ke penguasa.” (Dikoleksi oleh Al-Khatib Al-Baghdaadi dalam “Ruwah Maalik”).

Sufyan At-Tsauri berkata, “Memandang penguasa adalah sebuah dosa.”
(Dikoleksi oleh Abi Ali Al Aamudi dalam “Ta’liiq”nya)

Bisyr Al-Haafi berkata, “Betapa menjijikkan apakah itu permohonan untuk melihat seorang ulama, tetapi kemudian untuk mendapatkan jawaban bahwa dia berada di pintu penguasa.” (Dikoleksi oleh Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Imaan”).

Hal yang masih tersisa adalah masalah bahwa: bukankah berbicara kebenaran di depan penguasa tiran adalah jihad yang paling besar? Jawabnya adalah : ya, tetapi riwayat yang lain menyebutkan mengapa itu adalah jihad yang paling besar dan syahid (bagi pelakunya), karena setelah dia menyerukan kebaikan dan mencegah kemunkaran, penguasa membunuhnya. Ini benar-benar nyata berbicara tentang kebenaran, tidak mengikuti hawa nafsu dan mengunjungi penguasa secara harian sampai ulama tersebut kemudian menjadi penasehat pribadinya.

Orang-orang Salaf takut bahwa kebanyakan orang-orang begitu lemah untuk berdiri tegak di depan penguasa, tetapi malah akan terpengaruh oleh kekuasaannya dan kekayaan, dengan demikian menjustifikasi dan mengkompromikan dien dengan penguasa, dimana persis dengan apa yang kita lihat di hari ini pada “ulama” kita. Betapa bijaknya orang-orang Salaf dan betapa bodohnya (sebahagian besar) Khalaf (ulama masa kini).

3. Berdo’a, memohon petunjuk kepada Allah SWT dalam setiap sholat fardhu dan qiyamul-Lain : Bimbinglah Kami (pada) jalan yang lurus. (QS Al-Fatihah (1) : 6)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: