Ulama Pewaris Nabi Muhammad SAW

· Uncategorized
Penulis

MENDAMBAKAN SOSOK A’LIM (ULAMA) ROBBANI

Kini kita benar-benar sangat mendambakan hadirnya para Alim (Ulama) Robbani, karena cahaya Islam di tengah kita semakin pudar, dakwah-dakwah yang haq kiat tenggelam, benang-benang iman bertambah kusut, ulama-ulama gadungan (Ulama Su’u) semakin banyak yang gentayangan, serta derasnya arus serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.

Islam tidak bisa diselamatkan tanpa Alim (Ulama) Robbani, umat tidak bisa dibina tanpa Alim (Ulama) Robbani dan kemungkinan tidak akan maju tanpa Alim (Ulama) Robbani.
Alim (Ulama) Robbani sangat langka di nusantara ini walaupun di mana-mana bertebaran kyiai dan ustadz bahkan telah berdiri lembaga MUI (Majelis Ulama Indonesia) hingga di tingkat kecamatan , namun patut bagi kita mengenal siapa Alim (Ulama) Robbani itu !

Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor menyimpulkan, bahwa Alim (Ulama) Robbani adalah seseorang yang mentarbiyah (mendidik dan membina) umat manusia dengan manhaj (metode) Allah Subhannahu wa Ta’ala, ia membina mereka setahap demi setahap sampai berhasil membawa mereka kepada pengikutnya yang tinggi yang diinginkan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala (Ma’alim Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah hal: 30).

Alim (Ulama) dalam istilah syar’i adalah orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya. Sebutan Robbani adalah : Dinisbatkan kepada lafazh-lafazh “Rabb” dengan tujuan pengkhususan terhadap ilmu Rabb yaitu ilmu syar’i. Atau artinya sosok ulama yang sangat alim dan menguasai ilmu syariat.

Imam Mujahid berkata: Rabbaniyyun adalah diatas Ahbaar, sedangkan ahbaar adalah ulama. Allah SWT: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh para nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya”. (Al-Maidah : 44).

Abu Umar Az-Zauhid bertanya kepada Tsa’lab tentang makna Robbani. Maka Tsa’lab menjawab: Saya dulu juga bertanya kepada Ibnul A’robiy. Maka jawabnya: “Jika seorang itu menguasai ilmu (syar’i) lalu mengamalkan dan mengajarkannya maka gelar ini diberikan kepadanya, itulah Robbani. Dan jika ia lepas dari salah satu sifat tersebut maka kamu tidak lagi menyebutnya “Rabbani”

Jadi sungguh langka A’lim (Ulama) Robbani di nusantara ini pada jaman ini, padahal Allah SWT memerintahkan kita dan ulama kita agar menjadi Rabbani. Dalam firmanNya: “… Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Al-Imran : 79) .

Begitulah, ulama Rabbani mengajarkan Al-Qur’an, mulai dari cara membacanya, menghafalkan, menafsirkan dan mengamalkan-nya

Coba kita perhatikan di sekeliling kita : Banyak dari para hafizh (Orang hafal al-Qur’an) dan Qori / Qori’ah sampai terbentuk banyak wadah organisasi untuk mereka, namun apakah mereka telah melaksanakan amanah Al-Qur’an seperti ulama Rabbani ? mereka kebanyakan membaca Al-Qur’an hanya dalam pesta, festifal, musabaqah dan upacara-upacara serimonial.

Imam Adh Dhahhak ra berkata: Maksudnya adalah jadilah kalian ulama Robbaniyyun yang memahamkan Al-Kitab kepada manusia, dan maknanya, hukum-hukumnya, perintah-perintah dan segala larangannya, serta hafalkan lafadz-lafadznya!

Para Khotib, mubaligh dan Da’i juga banyak bermunculan, namum kebanyakan mereka masih bersifat sebagai da’i penghibur yaitu da’i pemusik (yang berda’wah menggunakan alat-alat musik) dan da’i pelawak (yang menjadikan lawakan sebagai bumbu utama dalam setiap waktunya termasuk pembicaraan porno).

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata: “Kamu duduk di maqom ini menasehati manusia kemudian kamu tertawa di tengah mereka dan juga kamu kisahkan cerita lucu maka cara seperti itu tidak akan selamat”.

Benar yang dikatakan oleh syaikh sebagai buktinya lihat masyarakat yang menyukai kiyai-kiyai pelawak, apakah mereka mengerti dan mengamalkan Islam? Apakah mereka memahami aqidah ahlussunnah yang benar dan bisa membedakan mana yang sunnah mana yang bid’ah? Apakah mereka memiliki hati yang bergetar jika disebut ayat-ayat Allah? Jawabannya tentu tidak. Mengapa? Karena mereka berguru kepada kiyai pelawak yang jika membahas adzab kubur dan adzab neraka pendengarnya akan terpingkal-pingkal karena asyik, senang dan gembira. Itu baru membahas adzab neraka, belum lagi kalau bicara tentang pernikahan maka Allah Maha mengetahui tentang penyimpangan mereka, yang keluar dari mulut mereka hanyalah kata-kata jorok dan porno yang tidak sepantasnya dilakukan dan diucapkan oleh seseorang yang mengaku ulama atau ustadz. Dan sebagai akibatnya mereka tidak menyukai ulama atau ustadz yang mengisi pengajian atau ceramah dengan serius dan lurus sesuai manhaj (metode) dari Allah SWT dan sunnah Rasul-Nya.
Kiyai penghibur lainnya adalah Kiyai dan pemusik yang menjalankan maksiat sebagai media resmi dan sarana kebanggaan dalam berdakwah. Da’i atau Kiyai jenis ini mempunyai andil besar dalam menanamkan kemunafikan dan menyebarkan kefasikan. Mengapa tidak ? Mereka yang telah gandrung di musiknya para da’i ini baik musik kosidah, gambus, dangdut, pop, gending jawa atau musik jenis apa saja hatinya akan berpaling dari Al-Qur’an dan akan berpaling dari As-Sunnah dan akan berpaling dari Ashhabul Hadits. Padahal sebenarnya mereka mencintai Al-Qur’an, As-Sunah dan Ahlus Sunnah, bahkan ini adalah nifak! tentu Ulama, Kiyai, dan Da’i penghibur bukanlah Alim Robbani yang kita dambakan.

Ada lagi da’i dan ulama yang serius dalam berda’wah, namun tidak berjalan di atas manhaj (metode/jalan) Allah, manhaj yang shahih, mereka serius mengajak kepada bid’ah, mengajak untuk membunuh Sunnah dan memadamkannya dengan propaganda mulutnya, ada yang mengajak kepada wirid-wirid dan zikir-zikir yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululah dan para sahabatnya bahkan dibuat sebuah lembaga atau oraganisasinya (jama’ah thoriqat), ada yang mengajak kepada upacara-upacara yang tidak ada dasarnya dalam syari’at Islam, ada yang mengajak kepada aqidah-aqidah sesat.

Mereka bukan ulama Rabbaniyyun yang bisa memuliakan Islam. Tetapi merekalah yang membodohi umat dan mencoreng Islam dengan warna hitam. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi dihasankan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari).

Berikut ini adalah sosok a’lim / ulama Robbaniyyun yang mewarisi tugas Nabi SAW sebagai da’i yang telah termasuk dalam surat Ali Imran: 164. Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

• Tugas pertama adalah Tazkiyah, mensucikan akhlaq dan jiwa mereka dari syirik, riya, dusta, khiyanat, sombong, hasad dan sebagainya dan Tazkiyah ini tidak bisa sempurna tanpa tarbiyah.

• Tugas kedua adalah Ta’lim Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan ta’lim ini tidak bisa sempurna tanpa Tashfiyah yaitu membersihkan Islam dari ajaran yang telah mengotori Islam. Tazkiyah dan Tashfiyah ialah tugas berat yang diemban oleh para Alim Robbani yang kehadiran mereka yang sangat kita dambakan demi membimbing umat manusia ke dalam jalan yang lurus Al-Kitab dan As-Sunnah.

Ciri-ciri ulama yang shalih dan rabbani, yang layak menjadi tempat acuan belajar. Di antara ciri-ciri terpenting ulama yang shalih dan rabbani sumber antara lain adalah :

• Ikhlas. Artinya ; ilmu dipergunakan dalam rangka mencari ridha Allah, menegakkan dien-Nya, meninggikan kalimat-Nya dan mencari kebahagiaan akhirat.

Allah mensifati ulama su’ (ulama yang jahat dan busuk, lawan kata dari ulama yang shalih) sebagai ulama yang menggunakan ilmunya untuk mencari kenikmatan dan kedudukan dunia (QS. Ali Imran :187), sebaliknya ulama yang shalih sebagai orang yang khusyu’ dan zuhud (QS. Ali Imran : 199).

• ‘Adalah. Artinya : mengerjakan hal-hal yang diwajibkan plus sunah rawatib, menjauhi hal-hal yang diharamkan (dosa besar atau terus menerus menekuni dosa kecil), memerangi segala bentuk bid’ah dan penyimpangan dalam ibadah.

Orang yang mempunyai sifat ‘adalah disebut adil. Lawan kata adil adalah fasiq, yaitu orang yang meninggalkan hal yang diwajibkan, mengerjakan hal yang diharamkan.
Ilmu dan berita dari seorang ulama yang fasiq (Ulama Suu’) harus dicek ulang (QS. Al-Hujurat :6), karena kesaksian seorang fasiq tidak diterima untuk selama-lamanya (QS. An-Nuur :4) dan ia tidak mendapat taufiq dari Allah (QS Al-Taubah : 24, Al-Shaf :5).

Oleh karenanya, tidak boleh menerima berita, pelajaran, fatwa atau meminta fatwa kepada ulama yang fasiq (Ulama Su’u).

Dan salah satu dosa besar yang menyebabkan seorang ulama menjadi fasiq, adalah menyembunyikan ilmu dan tidak menyampaikannya di saat masyarakat memerlukan ilmu tersebut (QS. Al-Baqarah :159-160, 174-175, Ali Imran :187).

Kebenaran fatwa seorang ulama menunjukkan pada dirinya ada dua sifat ulama, yaitu ia benar-benar mempunyai ilmu syar’i dan rasa takut yang mendalam kepada Allah (QS. Fathir :28, Al-Ahzab :39). Sebagai balasan atas rasa takut yang mendalam kepada Allah Ta’ala, Allah mengaruniakan kepadanya taufiq sehingga ia mengetahui kebenaran (QS. Al-Baqarah :213, Al-Anfal :29, Al-Hadid :28).

Ini bukan berarti seorang ulama harus mengerti seluruh hukum-hukum agama, atau menguasai seluruh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi yang jumlahnya jutaan hadits. Cukup baginya bila ia mengetahui sebagian besar hukum-hukum agama, atau kadar minimal yang membuatnya layak mengemban tugas ulama. Untuk itu, jika ditanya tentang sebuah permasalahan agama yang tidak ia ketahui, ia harus jujur menyatakan “saya tidak tahu.”

Namun apabila fatwa seorang ulama lebih banyak salahnya dari pada benarnya, berarti pada dirinya terdapat salah satu dari dua sifat ulama su’, yaitu kebodohan (ilmu yang tidak mumpuni), atau kesengajaan untuk mengeluarkan fatwa yang salah. Atau membuat fatwa karena ada pesanan dari penguasa disebabkan karena ada keterikatan dengan penguasa tersebut.
Terkadang seorang ulama mempunyai ilmu yang mumpuni, namun sengaja mengeluarkan fatwa yang salah karena ada kepentingan politik, seperti fatwa membolehkan mengangkat dan memilih pemimpin dari kalangan orang kafir, padahal al-Qur’an secara qath’i (pasti) telah menyebutkan tentang hal tersebut. Bentuknya, antara lain : mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan, menyembunyikan kebenaran dan menyelewengkan makna ayat dan hadits (QS. Al-Baqarah :42, 79, Al-Nisa’ :46). Sekalipun bentuknya beragam, namun faktor penyebabnya hanya satu, yaitu lebih mengutamakan kenikmatan duniawi atas ridha Allah dan akhirat (QS. Al-Baqarah :79, Ali Imran :187, Al-Taubah :34).
Satu hal penting yang juga harus diperhatikan, bahwa terkadang seorang ulama fasiq (Ulama Suu’) bisa memberi manfaat kepada banyak manusia. Misalnya, seorang ulama menghasung kaum muslimin untuk lebih mencintai akhirat padahal ia sendiri sebenarnya memendam keinginan untuk mencari kedudukan (populeritas) atau harta. Ulama fasiq seperti ini seperti lilin, menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri, menyelamatkan masyarakat namun mencelakakan dirinya sendiri.

Jadi, manfaat yang diambil oleh masyarakat dari seorang ulama suu’ belum tentu menjadi pertanda bahwa ia seorang ulama yang shalih. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Sesungguhnya Allah akan menguatkan dien ini dengan sebuah kaum yang tidak mendapat bagian (pahala di akhirat).”

• Mengamalkan ilmunya. Dengan merefleksikannya dalam segala niatan, ucapan dan tindakan sehari-hari. Lalu mengajarkannya kepada orang lain, dan bersabar atas setiap gangguan yang ia rasakan selama mengajarkan dan mendakwahkan ilmunya. (QS. Al-Shaf : 2-3, Al-Baqarah : 44).

Imam Ibnu Qayyim menyindir para ulama yang tidak mengamalkan ilmunya, dengan mengatakan, ” Para ulama su’ berdiri di pintu surga mengajak manusia untuk masuk ke dalamnya dengan ucapan-ucapan mereka, namun perbuatan-perbuatan mereka justru mengajak ke neraka. Setiap kali ucapan mereka berkata kepada manusia “Kemarilah !”, perbuatan mereka mengatakan” Jangan kalian dengarkan ajakan mereka !”. Sekiranya ajakan mereka benar, tentulah mereka menjadi orang yang pertama kali memenuhinya. Lahiriah mereka sebagai para penunjuk jalan, namun sejatinya sebagai para pembegal jalanan.”

• Zuhud (lebih mementingkan akhirat di saat ada kesempatan untuk menikmati kenikmatan dunia).
Pengaruh cinta dunia sangat besar dalam pelaksanaan tugas para ulama sebagai pengemban dan penyampai dakwah. Imam Ibnu Qayyim mengatakan,” Setiap ulama yang lebih mementingkan dan mencintai dunia, pasti akan mengatakan hal yang tidak benar dalam fatwa, keputusan, pemberitahuan dan pendapatnya, karena seringkali hukum-hukum Allah Ta’ala bertentangan dengan keinginan (hawa nafsu) manusia, terlebih lagi keinginan para penguasa dan orang-orang yang menuruti syahwatnya. Biasanya, keinginan-keinginan mereka hanya bisa terpenuhi dengan banyak menyelisihi dan menolak kebenaran. Jika penguasa dan ulama sama-sama cinta dunia dan mengikuti syahwat, mereka tidak akan bisa meraihnya kecuali dengan menolak kebenaran yang berlawanan dengan syahwat mereka tersebut.”

• Tawadhu’ (rendah hati) dan akhlak yang baik. Seorang Alim (Ulama) Rabbani adalah mempunyai akhlak yang baik kepada siapapun, tanpa melihat status kepada siapa ia bergaul, siap berbeda pendapat dan untuk menghargai perbedaan pendapat.

Sebaiknya Ulama Su’u mempunyai sikap kasar, tidak bisa menerima perbedaan pendapat, dan merasa diri benar, selalu ingin dihormati dan dilayani. Tidak siap dikritik namun suka mengkritik orang yang berbeda pendapat dengan dia bahkan menghujat kesana kemari menebarkan kebencian. Imam Fudhail bin ‘Iyadh meringkas sikap tawadhu’ seorang ulama, dalam nasehat singkat, ” Engkau tunduk dan mengikut kebenaran dari siapapun yang mengatakan kebenaran. Sekalipun ia orang yang paling bodoh, engkau harus menerimanya.”

• Khasyatullah (rasa takut yang mendalam kepada Allah). Rasa takut kepada Allah adalah amalan hati, namun bisa diketahui dari sejumlah gejala yang nampak di luar. Di antaranya, tercermin dalam akhlak terpuji dalam ibadah dan pergaulan sehari-hari. Gejala lainnya adalah mengikuti kebenaran demi mencari ridha Allah semata dan lantang menyampaikan kebenaran kepada masyarakat apa adanya tanpa takut kepada komentar miring orang-orang yang mencela (QS. Al-Maidah :44, Luqman : 17dan Al-Ahzab :39).

Sebuah Renungan : MUI Milik Ummat bukan Milik Golongan Tertentu ;

Mencermati keberadaannya, MUI hari ini terkhusus MUI Kabupaten Barito Utara belum banyak menjalankan fungsinya secara optimal sebagai pemersatu ummat, namun lebih berpihak kepada kelompok tertentu, terlebih dalam penyusunan kepengurusan jabatan-jabatan strategis dikuasai diambil alih, sehingga kelompok yang berbeda dengan mereka dijadikan sebagai pelengkap saja. Bahkan rela menggeser pengurus yang sah bila tidak sepaham dengan mereka walaupun harus melanggar aturan oraganisasi.

Inilah fenomena yang terjadi, untuk itu menyonsong MUSDA MUI Barito Utara 24-25 April 2009, saya berharap lahir sosok alim (ulama) Robbani yang mampu sebagai pemersatu ummat dan pendukung tegaknya syari’at Allah di Barito Utara, bukan sebaliknya sebagai alat penguasa untuk menggembosi syari’at Islam. Ingat jangan bangga anda menjadi Pengurus MUI, sebab sepak terjang anda akan dinilai ummat, dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: