Risalah Nikah ( 1 )

· Uncategorized
Penulis

PENGERTIAN DAN KEDUDUKAN NIKAH

Nikah atau perkawinan adalah sebuah upacara sakral (suci) dalam Islam, dengan memenuhi syarat dan rukun tertentu yang terwujud untuk membentuk sebuah keluarga dalam jangka waktu yang tidak terbatas.

Secara bahasa, nikah berarti pernyataan, atau diartikan juga sebagai akad atau hubungan badan. Sedang secara istilah syari’at Islam,nikah atau perkawinan adalah sebuah akad yang menghalalkan pergaulan antara pria dan wanita sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga dalam sebuah rumah tangga.

Adapun kedudukan hukum nikah dalam Islam, menurut para Fuqaha (ahli Fiqih) adalah mubah, inilah hukum asal menikah. Lelaki pada dasarnya boleh menikah dan boleh pula tidak, baru setelah ada illat (alasan) maka menikah memiliki hukum wajib, sunah, makruh dan haram.

Namun disisi lain, Nabi Muhammad SAW menjadi ikutan kita bukan saja melakukan pernikahan, bahkan dia juga melarang umatnya untuk tidak menikah, sebagaimana dalam sabdanya : “Nikah adalah sunnahku, barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku (menikah) maka ia bukanlah termasuk umatku” (H.R. Bukhori Muslim).

Dalam ajaran Islam, suatu pernikahan dapat berlangsung apabila seseorang telah mukallaf yakni yang bersangkutan dibebani berbagai kewajiban untuk menjalankan pernikahan merupakan sebuah upaya untuk mejaga dan memelihara kehormatan diri sehingga tidak terjerumus kelembah dosa dan maksiat. Sebab penyimpangan seksual (penyaluran nafsu seksual yang tidak halal), akan menyebabkan berbagai kerusakan, baik individual atau sosial, dan ini yang paling dijaga didalam Islam. Seperti zina (hubungan kelamin tanpa ikatan nikah), Liwat (hubungan sebadan untuk menuntaskan syahwat antara sesama lelaki), Sahaq (pemuasan seksual antar sejenis perempuan).

Mengapa Allah SWT mensyari’atkan nikah ? Dalam hal ini sedikitnya ada 4 (empat) alasan :

1. Pernikahan merupakan sebuah cara untuk mengembangkan keturunan. Hal ini sesuai firman Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 1: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

2. Menyelamatkan pemuda / pemudi dari dekadensi moral. Pernikahan merupakan alternatif bagi pemuda / pemudi dalam penyaluran biologis, terutama bagi yang sudah mempunyai kemampuan, sebab insting kecenderungan kepada lawan jenis hanya bisa dipuaskan melalui sebuah pernikahan yang sah yang sesuai dengan aturan syari’at Islam.

Rasul SAW telah menjelaskan : “Wahai Pemuda, siapa diantara kamu yang telah mampu hendaklah menikah, karena nikah itu lebih mudah menundukan pandangan mata dan lebih dapat menjaga kemaluan. Maka siapa yang belum mampu hendaklah berpuasa karena puasa itu merupakan pengekang syahwat baginya”. (H. R. Jama’ah).

3. Pernikahan akan menyelamatican dari berbagai penyakit kelamin, yaitu penyakit yang diakibatkan perzinaan. Diantara penyakit tersebut adalah penyakit gonohorhol, penyakit bernanah, penyakit cacar lunak, penyakit sipilis dan penyakit AIDS.

4. Dengan pernikahan ikatan cinta dan kasih sayang antara suami isteri akan semakin bertambah, dan akan mendatangkan ketenangan bathin : firman Allah SWT dalam surah Ar-Rum ayat 21 : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

TUJUAN DAN SYARAT PERNIKAHAN

Nikah adalah salah satu azas pokok kehidupan dalam masyarakat yang sempurna, karena perkawinan merupakan salah satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan.

Adapun sasaran yang ingin dicapai dari sebuah pernikahan dalam Islam adalah :

a. Membina kehidupan keluarga yang rukun, tenang dan bahagia,

b. Hidup cinta mencintaidan kasih mengasihi,

c. Melanjutkan dan memelihara keturunan manusia,

d. Membina hubungan kekeluargaan yang akrab dan mempererat silaturahmi antar keluarga.

Tujuan tertinggi pernikahan dalam Islam adalah untuk mewujudkan suatu kehidupan keluarga yang aman tentram, rukun dan damai yang di berikan dengan rasa kasih sayang, dengan dilandasi motivasi ibadah / pengabdian kepada Allah SWT. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Qs. Ar-Rum :21).

Disamping itu, tujuan lain dari pernikahan menurut Islam adalah :

Pertama, menenangkan pandangan mata dan menjaga kehormatan diri, sesuai sabda Nabi Muhammad SAW: “Hai sekalian Pemuda, barang siapa diantara kamu yang tidak mampu menikah, maka hendaklah kamu menikah, maka sesunguhnya menikah itu menghalang pandangan terhadap yang dilarang oleh Islam dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak sanggup hendaklah berpuasa, karena puasa itu adalah perisai baginya” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kedua, untuk mendapatkan keturunan yang sah, yang lewat iman, ilmu dan amal sehingga mereka itu dapat membangun hari depannya yang lebih baik.

Untuk mencapai tujuan pernikahan yang demikian suci dan sakral ini dalam ajaran Islam, maka perlu terlebih dahulu mengetahui tentang syarat dari sebuah pernikahan sebab apabila syarat ini tidak terpenuhi maka status pernikahan belum sempurna dan dinyatakan tidak sah.

Adapun syarat-syarat pernikahan menurut ketentuan Islam,yaitu:

1. Laki-laki Non Muslim Tidak Boleh Menikahi Wanita Muslimah. Firman Allah SWT: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Qs. Al-Baqarah : 221)

Larangan lelaki non muslim untuk menikahi wanita muslimah karena beberapa sebab, yaitu :

a. Karena secara aqidah sudah jauh berbeda dan suami adalah pemegang penting kebijakan dalam rumah tangga, dan tidak sepantasnya seorang muslim tunduk di bawah kekuasaan dan kendali orang kafir, sesuai dengan Firman Allah SWT ; Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Qs.Al-Maidah : 5 1).

Kewalian seorang suami atas isterinya adalah kewalian nyata, karena suami mempunyai hak untuk ditaati oleh isteri.

b. Seseorang yang tidak Islam berarti ia, mengingkari agama Islam dan Kenabian Muhammad SAW. Dan wanita muslimah tidak akan dapat menikmati kebebasan agamanya didalam rumah sedang suaminya, adalah seorang suami yang tidak mengakui agamanya. Bahkan karena, kelembutan dan kehalusan perasaan seorang wanita, mungkin akan cenderung mengikuti suaminya, yang non muslim lalu mengikuti akidahnya.

c. Anak-anaknya akan mengikuti agama bapaknya, dan wanita, muslimah fidak memiliki kekuasaan dan wilayah menanamkan akidah yang benar.

2. Calon isteri harus halal (tidak dari mahramnya).

Seseorang yang akan menikah, maka ia tidak boleh menikahi seorang perempuan dari mahram nasabnya. Dan juga tidak boleh menikah dengan perempuan dari mahram yang terjadi karena, jalinan pernikahan (musharadah). Atau menikahi perempuan dari mahram penyusuan. Sabda Nabi SAW : “Diharamkan pernikahan karena sesusuan sebagimana diharamkan pernikahan karena Nasab” (HR. Muslim).

3. Niat untuk menikah selamanya.

Diantara syarat pernikahan yang asasi adalah niat bukan untuk sementara, karena nikah sementara itu tidak dibolehkan dalam Islam. Pernikahan semacam ini dikenal dengan istilah nikah muth’ah, dan nikah muth’ah termasuk pernikahan yang dibolehkan menurut mazhab syi’ah.

4. Suka sama suka (tidak ada unsur paksaan).

Kerelaan calon isteri untuk dinikahi dalam ketentuan Islam urgen. Jika ia tidak rela maka pernikahan dinyatakan tidak sah. Kerelaan seorang gadis cukup dengan diamnya, yang disertai tanda-tanda kerelaannya. Sedangkan janda, harus dicintai kerelaannya dengan jelas.

5. Adanya mahar.

Mahar adalah harta yang sedikit ataupun banyak yang diberikan oleh calon suami terhadap calon isterinya, sebagai tanda, penghormatan dan isyarat calon suami berkeinginan menikahi calon isterinya. Firman Allah SWT : Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan[267]. kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 4 ).

Islam tidak membatasi jumlah tertentu dalam urusan mahar ini, tetapi berdasarkan kemampuan calon suami. Bahkan Rasul SAW menganjurkan untuk tidak mempersulit calon suami dalam urusan mahar, sehingga pernikahan dapat dilaksanakan dengan mudah.

6. Kerelaan Wali.

Kriteria wali adalah keluarga, terdekat pihak perempuart dalam hubungan nasab, seperti ayah, Kakak, saudara laki-laki atau Paman. Keridhaan seorang wali dalam sebuah pernikahan merupakan salah satu kesempurnaan sebuah pernikalm, bahkan ada yang berpendapat bahwa kedudukan wali adalah sebagai penentu sah atau tidaknya pernikahan sebagaimana, yang dipegang oleh Jumhur dalam Madzhab Syafi’i. Hal ini sesuai, sabda Rasul SAW : “Dari Abi Burdah bin Abi Musa dari Bapaknya r. a berkata, Rasul SAW bersabda : Tidak ada nikah kecuali dengan wali” (HR. Ahmad).

Pernikahan tidak sempurna jika tanpa keridhaan dan persetujuan wali, karena wanita mungkin akan menerima suatu pernikahan dengan orang yang tidak sekutu atau tidak dapat melaksanakan hak-haknya atau orang fasiq yang tidak menjaga hukum-hukum Allah. Namun ketidak setujuan wali tanpa adanya argumentasi perolehan terhadap dien Islam, maka pihak perempuan berhak mengajukan kepada Qadhi Islam. Dan jika wali masih bersikeras maka Qadhi Islan berhak menikahkan perempuan tersebut tanpa terlebih dahulu persetujuan kepada wali.

7. Adanya Dua Saksi.

Kehadiran saksi merupakan salah satu syarat sahnya akad nikah, ketentuan ini berdasarkan sabda Rasul SAW : “Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil” (HR. Ahmad). Syarat menjadi saksi : berakal sehat, dewasa dan mendengarkan mendengarkan omongan dari kedua belah pihak yang berakad dan memahami bahwa ucapan-ucapannya itu, maksudnya adalah sebagai Ijab Qabul perkawinan.

Demikian beberapa syarat pernikahan dalam Islam. Jika seseorang beritizam dengan hukum/aturan yang mengatur pernikahan ini maka pernikahannya akan sesuai dengan syari’at dan memberikan hasil terbaik, serta akan mendapat ridha Allah SWT.

Adapun disisi lain, sebaliknya Islam membolehkan seorang muslim menikahi perempuan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Kebolehan seorang muslim untuk menikahi ahli kitab disebabkan beberapa hal, yaitu :

1. Memberikan kesempatan kepada perempuan Ahli Kitab untuk masuk Islam secara rela dan atas pilihannya, setelah mengetahui seluk beluk ajaran Islam dengan suaminya.

2. Seorang muslim tidak boleh memaksa isterinya yang Ahli Kitab untuk mengubah keyakinannya dan masuk agama Islam kecuali sesuai kesadarannya, karena itu diperlukan keaktifan suami mendakwahkan dan menjelaskan ajaran Islam kepada isterinya tersebut.

3. Anak-anak yang dilahirkan dari seorang ayah yang muslim dan ibu ahli kitab adalah muslim mengikuti ayah mereka. Si-isteri tidak boleh merobah keyakinan anak-anaknya tersebut. ( Bersambung )

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: