Risalah Nikah (2)

· Uncategorized
Penulis

PERNIKAHAN YANG TERLARANG

Pernikahan didalam Islam disamping sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan biologis secara halal dan sah, namun disisi lain mengandung dimensi ibadah. Agar dimensi ibadah benar-benar bisa dicapai, maka pelaksanaan pernikahan harus sesuai prosedur syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Artinya, seseorang harus mengetahui kriteria perempuan seperti bagaimana yang boleh dinikahi. Sebab tidak semua perempuan yang boleh dinikahi.

Ada 3 (tiga) kriteria perempuan yang dilarang untuk menikahinya, yaitu :

Pertama, karena ada hubungan Nasab. Apabila seseorang melakukan pernikahan dengan perempuan yang ada hubungan nasab, maka pernikahan itu hukumnya haram. Pernikahan yang haram karena nasab adalah :

1. Ibu Kandung
2. Anak Perempuan Kandung
3. Saudara Perempuan
4. Bibi dari pihak Bapak
5. Bibi dari p1hak 1bu
6. Anak Perempuan saudara laki-laki
7. Anak Perempuan Saudara Perempuan.

Kedua, karena ada hubungan pernikahan yang haram karena pernikahan ini adalah :

1. Ibu isteri, neneknya dari pihak ibu, neneknya dari p1hak ayah dan ke atas.

2. Anak tiri perempuan yang Ibunya sudah (disetubuhi).

3. Isteri anak kandung, isteri cucunya, baik laki-laki atau perempuan dan seterusnya.

4. Ibu tiri.

Ketiga, Karena sesusuan menikah dengan perempuan yang ada hubungan karena sesusuan diharamkan dan nikahnya tidak sah, karena :

1. Ibu susu
2. Ibu dari yang menyusui
3. Ibu dan Bapak susunya
4. Saudara perempuan dari Ibu susunya
5. Saudara perempuan Bapak susunya
6. Cucu perempuan Ibu susunya
7. Saudara perempuan sesusuan.

Ketiga kriteria perempuan yang dilarang untuk dinikahkan sebagaimana yang dijelaskan diatas, berdasarkan firman Allah SWT QS. An-Nisa : 22-23 : Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Disamping itu, ada beberapa macam perempuan yang harus dinikahi, tetapi keharamannya itu untuk sementara, yaitu :

1. Menikahi dua orang perempuan yang bersaudara (bersaudara kandung), atau antara perempuan dengan bibi dari ayahnya atau bibi dari ibunya. Firman Allah SWT : Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa : 23).

Dalam Hadits Rasul SAW dinyatakan : “Sesungguhnya Nabi SAW melarang memadu seorang perempuan dengan bibi dari ayahnya atau bibi dari ibunya” (HR. Bukhori dan Muslim).

2. Isteri orang lain atau bekas isteri orang lain sedang dalam masa iddah. Firman Allah SWT : Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki(Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan Dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan Tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.An-Nisa:24).

3. Perempuan yang telah di Thalak sebanyak tiga kali, kecuali jika isteri yang telah di thalak tiga itu menikah dengan laki-laki lain ; Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain. kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (QS. Al-Baqarab : 230).

4. Menikah dengan budak perempuan, padahal mampu menikah dengan perempuan merdeka. Sabda Nabi SAW : “Barang siapa ingin bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan suci lagi bersih, hendaklah ia menikah dengan perempuan-perempuan merdeka “ (HR. Ibnu Majah).

5. Menikah dengan perempuan pezina (pelacur). Firman Allah SWT : Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. (QS. An-Nur : 3).

6. Menikah dengan bekas isteri yang pernah dilaknati (mengadakan sumpah pelaknatan).

7. Menikah dengan wanita penyembah berhala (musyrik). Adapun menikah dengan perempuan dari kalangan ahli kitab ( Yahudi dan Nasrani ) yang merdeka dan yang menjaga kehormatan dan kesucian dirinya tidak dilarang (halal) sebagaimana pendapat mayoritas ulama salaf, sesuai dengan firman Allah SWT QS. Al-Maidah ayat 5 : Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi.

Islam membolehkan menikah dengan perempuan dari kalangan ahli kitab adalah sebagai pendekatan keluarga yang satu dengan yang lainnya sehingga hal ini memberikan kesempatan untuk dapat mempelajari ajaran Islam. Ada perbedaan spesifik antara pengertian perempuan musyrik dengan perempuan ahli kitab. Perempuan musyrik tidak mempunyai agama yang pasti, artinya mereka bersaudara dengan keyakinan khurafat dan sangkaan-sangkaan. Disamping itu mereka tidak mempunyai kitab suci yang dapat dijadikan pegangan. Adapun perempuan ahli kitab tidaklah berbeda jauh dengan keadaan lelaki mu’min, karena ia percaya kepada Allah SWT dan beribadah kepada-Nya, bahkan mereka tidak mengingkari Kerasulan dan Kenabian Muhammad SAW.

Bagi seorang muslim, pernikahan yang diharamkan oleh syari’at Islam jelas mengundang bahaya yang sangat besar. Jika melanggarnya atau sengaja melakukan pernikahan yang telah diharamkan, berarti telah sengaja melakukan perzinaan. Sebab persetubuhan yang dilakukan oleh sepasang lelaki dan perempuan dengan pernikahan yang tidak sah berarti perzinaan. Dan setiaap muslim yang baik akan senantiasa berpegang teguh pada, ketentuan syari’at.

Apa yang diperioritaskan oleh Allah SWT dan RasulNya itulah yang dilakukan sesuai dengan kemampuan, sebaliknya apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya amatlah harus ditinggalkan.

Demikian halnya dengan pernikahan, bagaimana pernikahan yang telah ditetapkan oleh syari’at itulah yang mesti dijalankan. Apabila sebuah pernikahan dilaksanakan diatas landasan syari’at maka kebahagiaan keharmonisan serta ketenangan akan dirasakan tatkala mengarungi bahtera rumah tangga. ( Bersambung )

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: