Risalah Nikah ( 7 )

· Fiqh Sunnah
Penulis

RUMAH TANGGA MUSLIM DAN PROBLEMATIKANYA

Islam telah menggariskan aturan masing-masing suami isteri dalam melaksanakan kewajibannya kepada yang lain. Jika aturan ini benar-benar ditaati dan diikuti pasti kehidupan yang penuh kebahagiaan dan keharmonisan akan dapat dirasakan. Sebaliknya, jika suami isteri tidak mengindahkan aturan yang telah digariskan Islam dalam mengelola rumah tangga, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi pertentangan dan problema. Memang disatu sisi pertentangan atau problem dalam sebuah rumah tangga merupakan sesuatu yang wajar, dan itulah suka dan dukanya berumah tangga. Namun yang penting disini adalah bagaimana menyikapi pertentangan dan problenia yang terjadi antara suami isteditu tidak merembet kepada sebuah pertentangan yang besar, yang berakibat kepada perceraian. Dalam hal ini Islam telah memberikan langkah preventif agar tidak terjadi konplik rumah tangga, yaitu :

1. Islam memerintahkan masing-masing suami isteri untuk berlaku lemah lembut dan bersikap baik, khususnya bagi suami yang memegang wewenang hak thalaq.

2. Seorang suami dituntut untuk aktif memberikan bimbing-an dan peringatan kepada isteri akan kewajibannya. dan dengan peringatan tersebut diharapkan dapat menghentikan sikap isteri yang salah selama ini, tentunya pihak suami intropeksi diri apakah selama dia sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami.

3. Jika bimbingan dan nasehat tidak berpengaruh terhadap isteri suami mengambil langkah meninggalkan tempat tidur (pisah ranjang) guna memberi pelajaran kepada isteri.

4. Jika bimbingan dan peringatan serta pisah tempat tidur kepada isteri belum berhasil, maka suami dibolehkan memukul tanpa menyakiti. Suami boleh memukul isterinya ketika ia berlaku tidak benar, setelah diperingatkan dan meninggalkan tempat tidur.

5. Jika usaha preventif tersebut tidak membuahkan hasil maka diperlukan campur tangan penengah yang bijak untuk menyelesaikan permasalahan. Tugas utama dari penengah adalah mengkaji masalah serta menyelesaikan masalah kehidupan rumah tangga yang sedang dalam krisis tanpa merugikan kedua belah pihak.

Dengan demikian maka 5 (lima) point diatas merupakan langkah preventif untuk menanggulangi problema rumah tangga yang terjadi dalam sebuah keluarga muslim. Rona kehidupan berkeluarga bagi sepasang suami isteri tidak hanya diawali oleh hal-hal keindahan dan menyenangkan, sebagaimana yang dibayangkan saat awal memasuki pintu pernikahan. Aneka hikmah bisa digali sehingga kebahagian hidup berkeluargapun bisa dinikmati. Namun rona kehidupan sepasang suami isteri tidak selamanya diwamai berbagai keindahan dan kesenangan, sebab suatu saat pasti terjadi konflik, dan aneka penyebab konplik ikut mewamai rona kehidupan suami isteri, apabila tidak diwaspadai akan menjadi biang keretakan rumah tangga. Karena itu, suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga bertanggung jawab dan hendaknya mewaspadai aneka penyebab konplik sendiri mungkin.

Adapun aneka penyebab konflik suami isteri dalam rumah tangga amat beragam, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Cemburu

Cemburu adalah perasaan tidak senang terhadap hal yang dilakukan oleh seseorang yang dicintai karena mengabaikan kepentingan dirinya. Cemburu merupakan ekspresi cinta. Cemburu bisa bermakna positif jika latar belakang dan penyebab cemburu itu juga kebenaran dan kebaikan. Namun, cemburu menjadi sia-sia jika faktor pendorongnya nafsu dan kedzoliman. Dan cemburu seperti ini disebut cemburu buta.

Agama Islam membolehkan cemburu dengan tujuan agar suami isteri dapat hidup dengan tenang, mesra serta dijauhkan dad perbuatan-perbuatan yang hina lagi kotor. Sebaliknya, cemburu bisa juga menjadi faktor pencetus permusuhan antara suami isteri. Untuk itu suami atau isteri dituntut untuk menghindari dari hal-hal yang dapat menimbulkan kecemburuan.

Dan ada empat hal yang menyebabkan timbulnya kecemburuan bagi suami atau isteri :

a. Karena tidak mengetahui apa yang dilakukannya bisa mendatangkan kecemburuan dari pasangannya.

b. Ada motivasi ingin menyakiti pasangan, atau sengaja membuka konflik dalam rumah tangga.

c. Adanya sifat ramah tamah yang berlebihan kepada orang lain sehingga dapat menimbulkan perasaan cemburu.

d. Mempunyai anggapan bahwa dirinya menjadi pusat perhatian orang lain.

Disatu sisi perasaan cemburu perlu ditumbuhkan dalam rumah tangga antara suami isteri. Yakni kecemburuan dalam keraguan, kalau-kalau suami atau isteri menyimpang dari garis yang disyariatkan Islam. Dalam hal ini Rasul SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah itu mencemburu dan orang mukmin pun wajib cemburu dan kecemburuan Allah apabila hambanya melakukan perbuatan yang diharamkan baginya” (HR. Bukhori).

b. Ekonomi (Biaya Hidup)

Rumah tangga akan berjalan stabil dan harmonis bila didukung oleh kecukupan dan kebutuhan hidup, segala keperluan dan kebutuhan rumah tangga dapat stabil bila telah terpenuhi keperluan hidup (ekonomi). Membina dan mengayuh bahtera rumah tangga tidak sebatas memodalkan cinta dan kasih sayang namun faktor ekonomi mempunya pengaruh. Sehingga terjadi problema rumah tangga, faktor dominan adalah masalah ekonomi, dimana pihak suami tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga, padahal pemenuhan biaya hidup merupakan hal yang prinsif.

Kestabilan ekonomi (biaya hidup) keluarga tidak bisa diremehkan, atau hanya bersikap pasrah dan menerima apa adanya. Apalagi ia merupakan penunjang dan penentu terwujudnya keluarga sakinah. Tidak sedikit basis gagalnya menciptakan rumah tangga sakinah dan bahkan menjadi retak serta berantakan dikarenakan kondisi ekonomi dalam rumah tangga tersebut kurang stabil.

Seorang suami dituntut kesungguhannya untuk bekerja dan berusaha mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan hidup keluarga, terutama yang berkaitan dengan sandang pangan. Namun Islam memperbolehkan seorang isteri membantu mencari nafkah sesuai dengan tabiat dirinya dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.

c. Kehadiran Pihak Ketiga (Mertua)

Diantara penyebab seringnya terjadi konflik keluarga antara suami isteri, adalah kehadiran pihak ketiga yang ikut campur dalam mengatur roda perjalanan rumah tangga, yang dalam hal ini adalah mertua. Kehadiran orang tua suami ini, bukan tidak mungkin akan menimbulkan ketegangan anta’ra suami dengan isteri, sebab orang tua yang biasanya memiliki rasa kasih sayang sepanjang masa kepada anak-anaknya, kadang tidak bisa memisahkan dalam mengungkapkan kasih sayang. Apalagi seandainya sebuah keluarga yang masih didampingi orang tua (mertua) dikarenakan suami isteri yang mengayuh bahtera rumah tangga belum menampakkan kemandirian, oleh sebab itu, langkah kewaspadaan yang mesti diperhatikan dan ditempuh suami adalah berupaya menanamkan kedewasaan dirinya, baik kepada dirinya sendiri ataupun kepada isterinya.

Di sisi lain pula, suami dituntut bijaksana dalam mengahadapi mertua. Yaitu berupaya menghormati dan menghargai mertua walau pada kenyataannya menyakitkan hati. Sebab keikutcampuran mertua dalam mengatur rumah tangga anaknya, karena faktor kasih sayang, tetapi kasih sayang yang diberikan sudah bukan pada tempatnya lagi.

Disamping itu, suami hendaknya bertindak tegas tanpa menyinggung perasaan mertua dalam membatasi urusan keluarganya sendiri dengan keluarga lain, dan bisa menjemihkan suasana dan menyadarkan sikap orang tua terhadap tindakannya yang kurang tepat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: