Da’i Penyeru ke neraka jahannam

· Uncategorized
Penulis

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya termasuk sesuatu yang aku takuti menimpa umatku adalah para pemimpin (Ulama maupun Umara) yang menyesatkan…Dan tidak akan terjadi hari kiamat sampai beberapa kabilah dari umatku yang bergabung dengan kaum musyrikin, dan sampai ada beberapa kabilah dari umatku yang menyembah berhala.” (Hadits Hasan Riwayat, Ibnu Majah dan Abu Daud)

Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Hudzaifah Ibnul Yaman, lebih tegas dan spesifik lagi dikabarkan akan munculnya para da’i yang menyeru ke pintu-pintu neraka jahannam (du’atun ila abwabi jahannam) :

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rosulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : ‘Ada’. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ? Beliau bersabda : Ya, akan tetapi di dalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, Du’atun ala abwabi jahannam (Para Penyeru ke Pintu-Pintu Neraka Jahannam). Barang siapa yang mengijabahinya (mengikutinya), maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rosulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau bersabda :Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin ( Pemerintahan Islam ) dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah ( Pemerintahan Islam ) maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah sesat, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”.

Fenomena du’atun ila abwabi jahannam atau para da’i yang menyeru ke pintu-pintu neraka jahannam nampaknya saat inilah masanya, atau terjadi dan bermunculan sangat banyak sekali. Di negeri ini, khususnya baru-baru ini, ada sekumpulan para ulama, mengeluarkan fatwa haramnya golput (tidak memilih ketika pemilu), padahal pemilu bukan bersumber dari syari’at Islam namun sebuah sistem demokrasi. Dalam mengeluarkan fatwa tersebut mereka menggunakan dalil-dalil Al Qur’an (QS. 4 : 59) dengan menisbatkan sistem pemerintahan non islam saat ini sebagai ulil amri (pemerintaham Islami).

Atau juga saat ini banyaknya da’i-da’i yang menyeru kepada praktek-praktek peribadatan yang tidak berdasarkan syari’at. Dengan kata lain menyebarkan bid’ah-bid’ah dalam urusan agama yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Salim bin ‘Ied Al-Hilali menjelaskan bahwa hakikat hadits ini adalah penyingkapan kedok kebatilan dan menyingkap kekejiannya supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (Sabilul Mujrimin). Hakikat inilah yang dimengerti oleh generasi pertama umat ini-Hudzaifah Ibnul Yaman, radhiyallahu ‘anhu. Maka ia berkata : “Manusia bertanya kepada Rosulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir akan terjebak di dalamnya”

Menurut Salim bin ‘Ied Al-Hilali yang dimaksud dengan para penyeru itu adalah dari kalangan kita sendiri, yakni umat Islam. Sesungguhnya penanam racun yang keji dan menjalar di kalangan umat ini tidak lain adalah oknum-oknum dari dalam sendiri.

Salim bin ‘Ied Al-Hilali berpendapat seperti itu dengan mengutip Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari XIII/36 dalam memaknai sabda Rosulullah SAW : “Mereka adalah dari kalangan bangsa kita dan berbahasa dengan bahasa kita”

Syekh Umar Bakri Muhammad mengungkapkan bahwa terdapat orang-orang Islam tetapi mempropagandakan ide-ide bukan Islam. Sifat dan perbuatan jahat orang-orang tersebut sudah tidak terhitung lagi banyaknya,bahkan mereka adalah ancaman paling berbahaya bagi keberadaan kaum muslimin dan kemunculan kembali khilafah, karena mereka adalah “ancaman” yang tidak terlihat (munafik).

Demikianlah nash-nash hadits yang menceritakan kemunculan ‘para penyeru ke pintu-pintu neraka jahannam’ ini. Padahal, Islam telah memerintahkan kaum muslimin untuk menyeru kepada kebaikan (Al-Islam) dan melakukan amar ma’ruf dan hani munkar, bukan sebaliknya. Disebutkan dalam As-Sunnan ad-Daarimin pada Bab “Umar bin Al-Khattab”, bahwa Umar bin Khattab berkata: “Ikatan Islam akan lepas satu demi satu pada diri seseorang muslim jika ia tidak mampu memahami apa itu jahiliah (apa-apa yang tidak diajarkan Islam/kebodohan/kesesatan).”

Dengan demikian, seorang muslim selain perlu mengetahui tanda-tanda kemurtadan (Alaamatu Ar-Riddah) sehingga dia terhindar darinya, juga perlu mengetahui siapa-siapa yang menyeru kepada pintu-pintu neraka jahannam, agar dia tidak ikut terjerumus ke dalamnya.

Hasil pembahasan terhadap hadits Hudzaifah Ibnul Yaman (du’atun ala abwabi jahannam) memberikan kita gambaran yang jelas tentang siapakah mereka, aktivitas mereka dan maksud tersembunyi mereka. Setelah kita mengetahui dan mengenali mereka, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan umat, yaitu :

Pertama, meyakini bahwa mereka dan seluruh tindakan mereka (du’atun ala abwabi jahannam) adalah batil. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT berfirman : “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj : 62)

Kedua, menjaga jarak atau bahkan menghindari mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl : 36)

Ketiga, menasehati mereka. (jika masih mau dinasehati).

Allah SWT berfirman : “Dan hendaklah ada diantara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan (Al-Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104).

Demikianlah penjelasan tentang fenomena Du’atun ila abwabi jahannam atau para penyeru ke pintu-pintu neraka jahannam yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW dan saat ini bermunculan. Fenomena itu tentu bertolak belakang dengan fungsi dan tugas ulama yang sebanarnya, yaitu sebagai Pewaris Para Nabi, sebagaimana hadits Beliau SAW : Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: