Khutbah idul Adha 1430 H

· Umum
Penulis

IBADAH HAJI DAN QURBAN SIMBOL KETUNDUKAN SEORANG MUKMIN KEPADA SYARI’AT ALLAH SWT

Alhamdulillah, tentu merupakan satu kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terhingga bahwa pada hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha, hari raya terbesar bagi umat Islam yang bersifat internasional, setelah dua bulan sebelumnya kita merayakan hari raya Idul Fithri. Pada hari ini sekitar dua jutaan umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras serta dari berbagai tingkat sosial dan penjuru dunia berkumpul dan berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji: “Dan serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 27)

Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh Al-Qur’an sebagai salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah swt yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hambaNya. Bahkan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam firmanNya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Al-Hajj: 33) Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah seperti yang diungkapkan secara korelatif pada ayat sebelumnya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. (Al-Hajj: 30)

Kedua ibadah agung ini yaitu ibadah haji dan ibadah qurban tentu hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah yang merupakan makna ketiga dari hari raya ini: “Qurban” yang berasal dari kata “qaruba – qaribun” yang berarti dekat. Jika posisi seseorang jauh dari Allah, maka dia akan mengatakan lebih baik bersenang-senang keliling dunia dengan hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji. Namun bagi hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik” – lebih baik aku memenuhi seruanMu ya Allah…Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah swt.

Mencapai posisi dekat dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari latihan dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah. Karena seringkali terjadi benturan antara keinginan hawa nafsu dengan keinginan Allah. Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah kepada Allah atau kepada selainNya. Sehingga pertanyaan dalam bentuk “muhasabah: evaluasi diri ” dalam konteks ini adalah: “mampukan kita mengorbankan keinginan dan kesenangan kita karena kita sudah berpihak kepada Allah?…Sekali lagi, ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang mencapai kedekatan kita dengan Allah swt.

Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah

Jika hari ini, jamaah haji yang tengah mengenakan pakaian ihram harus rela menahan sengatan panas matahari, sejak di Arafah, Muzdalifah sampai ke Mina, dengan keringat dan bau badan yang mengalir dari tubuh mereka, dan terhadap semuanya itu mereka dilarang untuk menutup kepala dan memakai wangi-wangian, karena kelak Allah akan membangkitkan mereka sebagai orang yang memenuhi panggilan-Nya (mulabbiyah).

Jika karena ketaatannya, jamaah haji mendapatkan kemuliaan yang luar biasa, maka bagaimana dengan para pengemban dakwah, yang menghabiskan waktunya untuk berdakwah, berjalan di bawah terik matahari, siang-malam hidupnya untuk melakukan kontak dakwah, hari-harinya dihabiskan di perjalanan, hartanya pun habis dibelanjakan di jalan Allah, tentu mereka akan mendapatkan kemuliaan yang jauh luar biasa. Karena mereka bukan hanya menjalankan ketaatan untuk diri mereka sendiri, sebagaimana jamaah haji, tetapi ketaatan yang juga bisa ditebarkan kepada orang lain. Itulah kehidupan para pengemban dakwah. Pantaslah, jika karena jerih payahnya itu, apa yang mereka lakukan dinyatakan oleh Nabi lebih baik daripada terbitnya matahari dan bulan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu akbar WalillahilHamd
Kaum Muslimin Rahimakumullah

Inilah buah dari pengorbanan yang lahir dari ketaatan, ketakwaan dan pandangan jauh ke akhirat itu. Orang-orang yang taat ketika dipanggil oleh Allah, Rabb mereka, mereka pun menjawab: ”Hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Bagi mereka yang beriman, tidak ada kata lain, kecuali: Sami’na wa atha’na; kami dengar, dan kami taat. Mereka tidak lagi memilih-milih, karena tidak lagi ada pilihan bagi mereka di hadapan perintah dan larangan Allah, kecuali patuh. Allah berfirman: ”Dan tidaklah layak bagi orang Mukmin laki-laki maupun bagi orang Mukmin perempuan, jika Allah dan rasul-Nyat telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.s. al-Ahzab [33]: 36).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil hamd
Kaum Muslim rahimakumullah

Di tahun 2009 ini, kaum muslimin di Indonesia begitu banyak menghadapi persoalan hidup, dengan berbagai kejadian serta pengalaman yang menyedihkan seperti gempa bumi, tanah longsor dan banjir, seakan kita sedang berdiri ditepian jurang, pada malam yang gelap gulita. Bangsa Indonesia khususnya umat Islam, seakan tengah menuai akibat dari kelakuan manusia yang bejat, ingkar dan tidak tunduk pada hukum dan syari’at Allah. Allah dalam menyuburkan bumi dan mengelola lingkungan hidup. Allah SWT telah menyatakan dalam firman-Nya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatn mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.? (Qs. Ar-Rum, 30:41).

Dalam ayat lain surah al-isra ayat 16 Allah menyatakan janji-Nya ketika ummat sudah melupakan dan mengingkari syari’at Allah maka Allah akan mendatangkan azab-Nya sebagaimana firman-Nya ; ”Dan jika Kami membinasakan suatu negeri,maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu agar mentaati Allah tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sepantasnyalah berlakulah terhadapnya hukuman kami, kemudian Kami binasakan sama sekali negeri itu”.

Menghadapi musibah yang menimpa umat, alangkah baiknya jika para pemimpin negeri ini belajar pada kebijakan khalifah Umar Ibnul Khathab. Bagaimana seharusnya para pemimpin berbuat pada saat rakyatnya mengalami penderitaan? Apa yang harus diperbuat oleh para pejabat negara dan para wakil rakyat, serta apa yang harus diperbuat oleh umat Islam sendiri, pada saat bangsa dan negara ini mengalami musibah, kemiskinan dan kesengsaraan hidup?

Pada masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab ra, pernah terjadi kemarau panjang, diikuti bencana alam, gempa bumi dan angin badai. Akibatnya, kelaparan merajalela, wabah penyakit melanda masyarakat dan hewan ternak. Demikian sedih menyaksikan kondisi rakyatnya, sehingga beliau bersumpah tidak akan makan daging dan minum susu sebelum bahan makanan tersebut dinikmati oleh semua penduduk. Umar yang Agung berusaha keras menundukkan ambisi pribadinya, mengendalikan kepentingan diri dan keluarganya, demi mengutamakan kepentingan ummat yang lebih membutuhkan. Sehingga muncullah ucapannya yang terkenal: ”Bagaimana aku dapat memperhatikan keadaan ummat, jika aku sendiri tidak merasakan apa yang mereka rasakan”.

Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd
Kaum Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita jujur, apakah sikap kita sudah seperti itu? Apakah kita telah memiliki ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya dalam setiap perintah dan larangan-Nya?

Ketika Allah memerintahkan kita shalat, kita segera melaksanakannya. Ketika memerintahkan kita berpuasa, kita juga segera melaksanakannya. Ketika kita dilarang memakan Babi, minuman keras, judi, kita pun segera meninggalkannya. Lalu, mengapa ketika Allah memerintahkan kita untuk menerapkan hukum-hukum dan syari’at-Nya secara totalitas (menyeluruh), kita abai dan menolak? Mengapa dan mengapa, seruan-seruan Allah itu tidak segera dilaksanakan? Di manakah keataan total kita kepada Allah SWT, yang menciptakan kita, dan yang menghidupkan dan mematikan kita? Layak kah dengan sikap seperti itu kita mendambakan kemuliaan dan kehormatan. Layak kah dengan sikap seperti itu, kita menjadi umat yang disegani oleh kawan dan lawan? Bukankah dengan sikap seperti itu, kita justru telah menghinakan diri kita sendiri dan mengundang azab Allah SWT.

Allahu Akbar , Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
Kaum Muslim rahimakumullah.

Kini Allah memanggil kita, menuntut ketaatan total kita kepada-Nya. Ketaatan itu menuntut kita untuk berkorban; mengorbankan apa saja yang kita miliki demi menggapai ridha-Nya. Hanya dengan pengorbanan demi ketaatan itulah, kita akan meraih kembali kemuliaan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, itu semua, hanya bisa diwujudkan jika hidup kita diatur dengan syariat Allah SWT. Inilah saatnya kita berkorban. Tampil ke depan membawa panji-panji Islam. Berjuang dengan segenap daya dan kemampuan menyonsong kemenangan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Hari ini kita diperintahkan berkurban, yang semestinya menjadi ibrah (pelajaran) dalam memberikan pengorbanan kita yang lain. Tidak hanya berhenti pada penyembelihan kambing, sapi, atau unta. Namun pengorbanan harta, waktu, jiwa dan raga kita demi tegaknya syari’at Allah di muka bumi ( Wallahu A’lam bish-Showab )

2 Komentar

Comments RSS
  1. muslimafif

    khusus untuk kaum mukmin, yang daerahnya dilanda gempa, jangan jadikan alasan musibah gempa untuk mengurungkan niat beribadah korban, tks

    • alianoor

      Alhamdulillah, saya sepakat dan setuju. Semoga kita juga tetap istiqomah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, baik saat lapang ataupun saat sempit.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: