Menjawab Syubhat

· Uncategorized
Penulis

MENELUSURI JEJAK KERAS
MEREKA YANG “MENGAKU” PENGIKUT SALAF

Menyenangkan ketika masyarakat mulai mengenal istilah salaf dan gerakan kembali kepada Salafus-Sholeh. Namun manhaj salaf yang penuh pai pada firqoh sesat. Sebuah klaim yang melahirkan hizbiyah baru. Walau klaim tersebut dibantahnya bahwa “Salafy” bukan hizbiyah, tetapi sikap, prilaku dan tindakan menunjukkan telah lahir hizbiyah baru atas nama “salafy”.

Diantara sifat yang melahirkan hizbibarokah ini menjadi ternoda sekaligus memprihatinkan ketika klaim “Salafy” hanya dilekatkan kepada salah satu kelompok tertentu, sedang yang lainnya dianggap hizbiyah, ahlul bid’ah, khowarij, bahkan samyah bermula dari sikap kerasnya terhadap sesama muslim, terutama mereka yang dianggap ahlul bid’ah dan khowarij. Sikap ini lahir karena mereka memukul rata ahlul bid’ah tanpa merinci kasus-kasus bid’ah yang terjadi.

Sikap keras orang yang mengaku salafy kepada yang dianggapnya ahlul bid’ah menjadi trade mark tersendiri. Lebih-lebih label ahlul bid’ah dilekatkan kepada kelompok kelompok pergerakan, atau kelompok-kelompok yang mempunyai perhatian terhadap jihad dan penegakkan syari’at Islam, seperti Majelis Mujahidin, Hizbut-Tahrir, Ikhwanul Muslimin, dan gerakan-gerakan jihad yang lainnya.

Diantara ciri, metode dan kaidah yang ada pada kelompok yang mengaku “Salafy” adalah sebagai berikut ;

1. At-Tabdi’ al-Musalsal. Yaitu faham yang memvonis ahlul bid’ah secara berantai.

2. Mendahulukan pelajaran tahdzir daripada tauhid. Ketika ada salah seorang ustadz atau syaikh yang tersalah atau keliru dalam pendapatnya atau tidak sesuai dengan pendapatnya mereka menghujat habis-habisan bahkan memperingatkan kepada pengikutnya untuk tidak mengambil ilmu dari ustadz atau syaikh tersebut. Terutama mencela habis-habisan terhadap ustadz atau syaikh yang mendukung gerakan jihad melawan thoghut, bahkan lebih dari itu mereka menuduh sebagai khowarij.

3. Budaya menggunjing dan mencela mereka yang tidak sefaham dengan mereka. Budaya menggunjing ini, baik melalui pertanyan-pertanyaan dalam majelis ilmu mereka dan lainnya. Mereka lebih pada menghukumi dan menelanjangi satu persatu para ustadz atau syaikh serta para da’I yang tidak sefaham dengan mereka, bahkan menyematkan gelar tertentu kepada mereka, seperti anjing, bodoh, lemah akal, dan lain sebagainya.

4. Fanatisme Kelompok, Ustadz atau Syaikh. Mereka sangat fanatik kepada ustadz atau syaikh-syaikh mereka, jika ada ustadz atau syaikh-syaikh lain yang berseberangan faham dengan ustadz atau syaikh-syaikh mereka, maka mereka menghujat dan membuka aib ustadz atau syaikh tersebut.

BAGAIMANA CARA MENGHIDUPKAN JEJAK SALAF ?

Para ulama salaf yang hidup di tiga kurun terbaik yakni masa Rasulullah SAW, masa sahabat, masa tabi’in dan tabi’ut-Tabi’in semuanya berada dalam wilayah Daulah (Pemerintahan) Islam. Oleh karena itu tidak mungkin bisa mengikuti jejak salaf sedang diri masih setia menjadi warga Daulah (Pemerintahan) yang menolak penegakkan syari’at Islam (thoghut), sebab mana sunnahnya?

Kenapa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat hijrah meninggalkan Darul Kuffar (Makkah saat itu di bawah kekuasaan kafir quraisy) dan membangun Madinah, sebagai Daulah (Pemerintahan) Islam di bumi Yatsrib. Jadi sangat ironis sekali mengaku beriman dan pengikut salaf sementara dirinya hidup di bawah sistem dan kekuasaan jahiliyah yang menolak berlakunya syari’at Allah. Yang lebih aneh lagi membela mati-matian kepada thoghut dan sistemnya dan menganggap itu sebuah amal sholeh.

Maka menetapi jejak salaf dalam pandangan sunnah bukan sekedar kembali mempelajari tafsir al-Qur’an dan kitab-kitab hadits belaka tetapi merekontruksi keadaan masa awal Islam tersebut ke dalam zaman ini, sehingga al-Qur’an dan Hadits Shohih menjadi sumber hukum yang berjalan di masyarakat di bawah kendali Daulah (Pemerintahan) Islam yang adil.

Kalau ingin mengikuti jejak generasi salaf maka harus mengikuti manhaj salaf, artinya menilai salaf bukan hanya pemahamannya saja yang kita ambil tetapi juga harus benar perwalaannya. Artinya generasi salafush-sholeh itu hidup sebagai warga yang diatur oleh sistem Islam, bukan sebaliknya (Wallahu A’lam bish-Showab – Sumber Majalah An-Najah Edisi 16/Thn 2 Dzul Qa’dah 1427 H dan Buku Lima Perintah Rasul oleh Ustadz Arif Fadhilah Penerbit Pilar Press Cetakan Pertama Thn 2004).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: