Rubrik Kajian Al-Qur’an

· Tafsir Hadits
Penulis

MELURUSKAN PENGERTIAN ULIL AMRI
Oleh : Ust. Amman Abdurrahman “Hafizhahullah”

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi dan Rasul yang paling agung Nabi Muhammad saw, kepada keluarganya dan para shahabatnya seluruhnya.

Ikhwani fillah… Kehadiran tulisan ini adalah untuk meluruskan pemahaman yang keliru yang tersebar di kalangan umat Islam berkenaan dengan firman Allah SWT : “HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, TAATILAH ALLAH DAN TAATILAH RASUL (MUHAMMAD), DAN ULIL AMRI (Pemimpin) DARI KALANGAN KALIAN”. (An Nisa: 59)

Ayat ini adalah ayat yang sering kita dengar dan digunakan oleh banyak mubaligh dan da’i-da’i dalam rangka mewajibkan masyarakat untuk taat kepada pemerintah dalam keadaan apapun, apakah pemerintahan itu melaksanakan dan menegakkan syari’at Allah atau tidak. Ironinya para mubaligh dan da’i tidak bisa membedakan mana pemerintahan Islam dan mana pemerintahan sekuler, yang penting para penguasanya rajin melakukan ibadah ritual seperti sholat, shoum, zakat, haji, dan lain-lain walaupun dalam kepemimpinannya tidak melaksanakan syari’at Allah ( berhukum tidak dengan hukum Allah dan Rasul-Nya). Agar tidak tertipu dengan propaganda mubaligh dan da’i murahan maka perlu kiranya kita meninjau kembali atau meluruskan posisi ayat ini secara proporsional. Mari kita pahami siapa orang-orang yang beriman dalam ayat tersebut dan kaitannya dengan realita sekarang…

TINJAUAN AYAT :

“HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN…”, ini adalah khithab (seruan) terhadap orang-orang yang beriman. “…TAATILAH ALLAH DAN TAATILAH RASUL (MUHAMMAD), DAN ULIL AMRI (PEMIMPIN) DARI KALANGAN KALIAN”, ulil amri adalah ulil amri dari kalangan kalian, yaitu pemimpin yang mukmin, itu adalah pengertian sederhananya. Jadi, pemimpin yang harus ditaati -tentunya selain dalam maksiat- adalah pemimpin mukmin, karena Allah mengatakan “MINKUM” (dari kalangan kalian) setelah mengkhithabi “HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN”.

Kriteria Pemimpin yang beriman itu sesuai dengan surah al-Maidah ayat 55 : “SESUNGGUHNYA WALI (PEMIMPIN, PENOLONG) KAMU HANYALAH ALLAH, RASUL-NYA, DAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN YANG MELAKSANAKAN SHOLAT DAN MENUNAIKAN ZAKAT SERAYA MEREKA TUNDUK KEPADA ATURAN ALLAH”.

Orang yang beriman yang berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma adalah orang yang beriman kepada Allah dan ingkar kepada thaghut, berikut ini adalah penjabarannya :

1. Firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah: 256 : “BARANGSIAPA INGKAR KEPADA THAGHUT DAN BERIMAN KEPADA ALLAH, MAKA DIA TELAH BERPEGANG TEGUH PADA AL ‘URWAH AL WUTSQA”.

Al ‘urwah al wutsqa adalah buhul tali yang amat kokoh, yaitu Laa ilaaha illallaah, artinya barangsiapa ingkar kepada thaghut dan iman kepada Allah, maka dia itu orang yang mengamalkan Laa ilaaha illallaah, orang yang sudah masuk Islam, karena pintu masuk Islam adalah dengan perealisasian Laa ilaaha illallaah sebagaimana ini adalah rukun Islam yang pertama. Maka dari itu Allah dalam ayat ini mendahulukan ingkar kepada thaghut (Barangsiapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah) supaya tidak ada orang yang mengklaim behwa dirinya beriman kepada Allah padahal dia belum ingkar kepada thaghut pada realita yang dia kerjakan.

2. Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran: 64 : “KATAKANLAH (MUHAMMAD) : “HAI AHLI KITAB, MARILAH BERPEGANG KEPADA SUATU KALIMAT (KETETAPAN) YANG TIDAK ADA PERSELISIHAN ANTARA KAMI DAN KAMU, BAHWA TIDAK ADA YANG KITA SEMBAH KECUALI ALLAH DAN TIDAK KITA PERSEKUTUKAN DIA DENGAN SESUATUPUN DAN TIDAK (PULA) SEBAGIAN KITA MENJADIKAN SEBAGIAN YANG LAIN SEBAGAI ARBAB (ILAH-ILAH) SELAIN ALLAH”. JIKA MEREKA BERPALING MAKA KATAKANLAH KEPADA MEREKA: ”SAKSIKANLAH, BAHWA KAMI ADALAH ORANG-ORANG MUSLIM”.

Jadi, yang diserukan kepada ahli kitab adalah pengajakan untuk berkomitmen dengan Laa ilaaha illallaah, ibadah kepada Allah dan meninggalkan penyekutuan terhadap Allah SWT. Di ujung ayat Allah menyatakan ; “JIKA MEREKA BERPALING MAKA KATAKANLAH KEPADA MEREKA:”SAKSIKANLAH, BAHWA KAMI ADALAH ORANG-ORANG MUSLIM”, maksudnya jika mereka berpaling dan tidak mau meninggalkan para arbab itu maka saksikanlah bahwa kami ini orang muslim dan kalian bukan orang muslim. Berdasarkan ayat itu kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang tidak merealisasikan apa yang dituntut oleh ayat ini, yaitu ibadah hanya kepada Allah, meninggalkan sikap penyekutuan sesuatu dengan-Nya dan meninggalkan sikap menjadikan selain Allah sebagai arbab, maka orang yang tidak mau meninggalkan hal itu adalah bukan orang muslim.

3. Firman Allah SWT dalam surat At Taubah: 5 : “APABILA SUDAH HABIS BULAN-BULAN HARAM ITU, MAKA BUNUHILAH ORANG-ORANG MUSYRIK ITU DIMANA SAJA KAMU JUMPAI MEREKA, DAN TANGKAPLAH MEREKA, KEPUNGLAH MEREKA DAN INTAILAH DITEMPAT-TEMPAT PENGINTAIAN. JIKA MEREKA BERTAUBAT DAN MENDIRIKAN SHOLAT DAN MENUNAIKAN ZAKAT, MAKA BERILAH KEBEBASAN KEPADA MEREKA UNTUK BERJALAN”

Taubat dari apa…? Taubat dari kemusyrikan dan segala kekafiran, maksudnya adalah Allah SWT melarang kaum muslimin untuk melakukan pembunuhan, pengepungan dan pengintaian apabila orang-orang itu sudah taubat dari segala kemusyrikan dan kekafiran, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, berarti orang muslim itu tidak boleh diganggu. Maka orang yang tidak taubat dari kemusyrikannya berarti dia itu bukan orang muslim.

4. Firman Allah SWT dalam surat At Taubah : 11 : “JIKA MEREKA BERTAUBAT, MENDIRIKAN SHOLAT DAN MENUNAIKAN ZAKAT, MAKA (MEREKA ITU) ADALAH SAUDARA-SAUDARA KALIAN SARU AGAMA”.

Jika mereka bertaubat (dari kemusyrikannya), maka mereka adalah saudara satu agama, maksudnya mereka itu orang-orang muslim, karena sesama muslim adalah saudara, sebagaimana dalam surat Al Hujurat: 10: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”. Berarti jika sebaliknya, dia tidak mau meninggalkan kesyirikannya meskipun dia shalat, zakat, dan melakukan ibadah lainnya, maka dia bukan ikhwan fiddin (saudara satu agama) dan berarti dia bukan orang mukmin, karena ukhuwah imaniyyah itu tidak terlepas dengan dosa-dosa bisaa, akan tetapi dengan kesyirikan dan kekufuran.

Demikianlah beberapa dalil tentang orang yang beriman dari Al Qur’an, sedangkan berikut ini adalah beberapa dalil dari As Sunnah:

1. Dalam hadits Bukhariy dan Muslim dari Ibnu Umar radliyallahu’anhu, Rasulullah SAW bersabda: “SAYA DIPERINTAHKAN UNTUK MEMERANGI MANUSIA SAMPAI MEREKA BERSAKSI BAHWA TIDAK ADA ILAH (YANG HAQ) KECUALI ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH, MEREKA MENDIRIKAN SHALAT DAN MENUNAIKAN ZAKAT, BILA MEREKA MELAKUKAN HAL ITU, MAKA MEREKA TERJAGA DARAH DAN HARTANYA DARI SAYA, KECUALI DENGAN HAK ISLAM, SEDANGKAN PERHITUNGAN MEREKA ADALAH ATAS ALLAH”

Rasulullah tidak berhenti memerangi manusia sampai mereka komitmen dengan Laa ilaaha illallaah, iman kepada Allah dan kufur kepada thaghut serta mengakui risalah yang dibawa beliau kemudian membenarkannya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Ini sama dengan penjelasan sebelumnya

2. Dalam hadits Bukhariy yang dari Abu Malik Al Asyja’iy RA, Rasulullah SAW bersabda: “SIAPA YANG MENGUCAPKAN LAA ILAAHA ILLALLAAH DAN DIA KAFIR TERHADAP SEGALA SESUATU YANG DIIBADATI SELAIN ALLAH, MAKA HARAMLAH HARTA DAN DARAHNYA, SEDANG PERHITUNGANNYA ATAS ALLAH TA’ALA”.

Seseorang dikatakan haram darah dan hartanya, dalam arti dia itu dikatakan muslim, bila komitmen dengan Laa ilaaha illallaah -iman kepada Allah dan ingkar kepada thaghut-, yaitu ingkar terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka barulah dikatakan muslim mukmin.

Dan berikut ini adalah beberapa Ijma dari para ulama Ahlus Sunnah:

1. Syaikh Abdurrahman ibnu Hasan rahimahullah mengatakan: “Para ulama salaf dan khalaf, dari kalangan shahabat, tabi’in, para imam dan seluruh Ahlus Sunnah telah ijma, bahwa seseorang tidak menjadi muslim kecuali dengan mengosongkan diri dari syirik akbar dan berlepas diri darinya”. (Ad Durar As Saniyyah: 11/545-546). Dalam hal ini orang tidak dikatakan muslim bila tidak mengosongkan dirinya dari syirik akbar, tidak berlepas diri darinya dan dari para pelakunya. Ini adalah ijma (kesepakatan) ulama… maka perhatikanlah.

2. Syaikh Sulaiman ibnu Abdillah ibnu Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah mengatakan: “SEKEDAR mengucapkan Laa ilaaha illallaah tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan konsekuensinya berupa komitmen dengan tauhid dan meninggalkan syirik akbar serta ingkar terhadap thaghut, maka sesungguhnya (pengucapan) itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma” (nukilan ijma dari kitab Taisir Al ‘Aziz Al Hamid)

3. Syaikh Hamd ibnu ‘Athiq rahimahullah mengatakan: “Ulama ijma (sepakat), bahwa orang yang memalingkan satu macam dari dua do’a kepada selain Allah, maka dia telah musyrik walaupun mengucapkan Laa ilaaha illallaah, dia shalat dan zakat serta mengaku muslim”. (Ibthalut Tandid Bikhtishar Syarh Kitab Tauhid, hal: 67)

4. Syaikhul Islam Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah mengatakan tentang para pengikut Musailamah Al Kadzdzab dalam Syarh Sittati Mawadli Minash Shirah dalam Mujmu’atut tauhud hal. 23: “Di antara mereka ada yang mendustakan Nabi Muhammad SAW dan kembali menyembah berhala seraya mengatakan: “Seandainya dia (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) itu adalah Nabi, tentulah tidak akan mati”. Dan di antara mereka ada yang tetap di atas dua kalimah syahadat, akan tetapi dia mengakui kenabian Musailamah dengan dugaan bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan dia di dalam kenabian, ini karena Musailamah mengangkat para saksi palsu yang bersaksi baginya akan hal itu, namun demikian para ulama ijma bahwa mereka adalah orang-orang murtad meskipun mereka jahil akan hal itu. Dan siapa yang meragukan kemurtaddan mereka, maka dia kafir”.

Demikianlah dalil-dalil dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma yang mengatakan bahwa orang tidak dikatakan sebagai muslim, kecuali jika dia beriman kepada Allah dan ingkar terhadap thaghut ( sumber http://abasyah.blogspot.com )

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: